메인메뉴 바로가기본문으로 바로가기

2023 WINTER

Arsitek Tanah, Byoung Soo Cho

Pertemuan antara keterkaitan dan keabstrakan, keeleganan dalam kekerasan, keacuhan dalam keeleganan… Inilah kata-kata yang digunakan oleh para kritikus untuk menjelaskan arsitektur Byoung Soo Cho. Dia dikenal sebagai arsitek yang memadukan dua ekstrem, yaitu keunikan Korea dan keabstrakan modernisme. Dalam karyanya, tersirat sikap terhadap budaya dan pemikiran Korea, serta esensi arsitektur yang telah lama dijelajahinya.
1_수곡리땅집-5.png

Alih-alih membangun Rumah Bumi yang terkenal di atas tanah, arsitek Byoung Soo Cho dengan berani mendesain rumah tersebut sedemikian rupa sehingga menyatu dengan tanah itu sendiri.
© Kim Jae-kyeong

2_ㅁ자집_concrete box house_황우섭.png

Rumah Kotak Beton adalah contoh penting karya arsitek. Sebuah bukaan besar dibuat di tengah bangunan untuk menghubungkan ruang interior dengan luar.
© Hwang Woo-seob

3_텍스처온텍스트(6).png

Bagi Byoung Soo Cho, bumi adalah topik arsitektur, dan arsiteknya memanfaatkan topografi yang ada semaksimal mungkin untuk meminimalkan kerusakan pada bumi. Ia juga berkonsentrasi mengekspresikan pengalaman manusia berkomunikasi dengan alam melalui media arsitektur.
© texture on texture


Modern Architecture: A Critical History adalah buku sejarah arsitektur modern yang paling banyak dibaca di seluruh dunia. Kenneth Frampton, sejarawan arsitektur berpengaruh ini pertama kali menyebut arsitektur Korea di edisi revisi kelima buku yang diterbitkan pada tahun 2020 ini. Dia menjelaskan situasi Korea yang terlambat memasuki arsitektur modern, dan memperkenalkan Kim Swoo-geun, Byoung Soo Cho, dan Cho Minsuk sebagai arsitek yang representatif. Inilah momen ketika Byoung Soo Cho yang memamerkan karyanya secara aktif dan konsisten muncul di atas panggung internasional.

Pada tahun 1978, dia memutuskan untuk mempelajari arsitektur setelah melihat rencana bangunan untuk pertama kalinya di sebuah pameran memperingati selesainya konstruksi Sejong Center yang terletak di Gwanghwamun, Seoul. Setelah itu, dia berangkat untuk belajar di Amerika Serikat tanpa tujuan yang jelas. Dia hanya berharap tempat dia belajar berada di dekat kampung halaman Mark Twain.

“Saya melihat buku yang berjudul ‘What Is Man?’ dari Mark Twain di toko buku bekas di Cheonggyecheon. Saya terkejut karena dia menggambarkan manusia secara sangat negatif. Itu melontarkan sebuah pertanyaan yang besar kepada saya.”

Setelah membaca buku ini, kepercayaan terhadap manusia menjadi topik penting baik dari segi arsitektur maupun kehidupannya sendiri. Hal ini juga menjadi motivasi baginya untuk mengejar arsitektur yang emosional sambil mempertanyakan rasionalitas dan emosi.

Arsitektur Empiris

Kehidupan di pedesaan Amerika Serikat, khususnya di Universitas Montana, sangat sederhana. Namun, suatu hari, pemandangan pedesaan yang tampak biasa-biasa saja itu membuka matanya terhadap keindahan alam. Terutama, gudang pertanian di Montana memberikan inspirasi yang kuat kepadanya. Dia merasa bahwa bangunan yang sederhana dan praktis ini mencerminkan sifat arsitektur tradisional Korea. Setelah mendaftar di Sekolah Pascasarjana Universitas Harvard, dia mulai menyelidiki tema arsitektur pribadinya, yaitu ‘Pengalaman dan Persepsi’. Saat itu, skeptisisme dan intropeksi terhadap arsitektur modern sedang berkembang di Barat.

“Saya sangat terkesan dengan buku ‘Arsitektur dan Krisis Sains Modern (Architecture and the Crisis of Modern Science)’ yang ditulis oleh Alberto Pérez-Gómez, seorang profesor di Universitas McGill. Tulisan ‘Menuju Regionalisme Kritis (Towards a Critical Regionalism); dari Kenneth Frampton juga memberi inspirasi kepada saya. Saya berpikir bahwa intropeksi terhadap arsitektur modern harus dimulai dari perspektif manusia yang berinteraksi dengan alam. Saya juga merasa bahwa arsitektur Korea bisa menawarkan alternatif untuk hal ini.”

Dia menemukan inspirasi dalam arsitektur Korea yang menyatu dengan alam dan tidak terlalu rumit atau berlebihan sehingga terasa alami dan nyaman. Ini menjadi motivasi penting dalam mengejar ‘arsitektur empiris’ yang melampaui proporsi atau bentuk visual. Tesis sekolah pascasarjana dia adalah pencarian terhadap hal ini. Dia memperhatikan apa yang dialami orang ketika memasuki ruang, bagaimana mereka memahami alam melalui pengalaman itu, dan bagaimana struktur dan ruang kosong saling berhubungan.

Seri Kotak

4_조병수 스케치 바인더1_페이지_07.png

Sketsa arsitektur untuk Camerata Music Studio, Gallery & Residence, kombinasi studio musik dan ruang tamu.
Atas perkenan Byoung Soo Cho

5_★김종오.png

Lantai pertama gedung Camerata berlantai tiga digunakan sebagai studio musik. Untuk memberikan tampilan gudang di Montana, kolom interior dihilangkan, dan dinding beton panjang di sebelah barat diberi tekstur kasar. Plafon yang terlihat pada foto merupakan lantai mezanin lantai 2 yang digantung dengan kabel. Tekstur beton yang kasar meningkatkan penyerapan suara, dengan bantuan panel kayu beralur.
© Kim Jong-oh

Setelah menyelesaikan studi di luar negeri dan pulang ke Korea, Byoung Soo Cho memulai karirnya sebagai seorang arsitek. Triplek yang ujungnya dilapisi stainless steel, atap galvalume, dan tiang tipis yang dicoba dalam proyek Eoyuji (Desa Ikan Menari) di Paju, Privinsi Gyeonggi adalah pilihan terbaik mengingat anggaran yang terbatas. Namun, dengan bentuk sederhana dan kombinasi bahan, dia berhasil menciptakan struktur menarik. Seperti yang dia katakan, ketika metode berbiaya rendah digunakan, bangunan sering kali secara alami menjadi ramah lingkungan.

Rumah berbentuk □ (segi empat) dan Camerata yang dibangun pada saat yang sama merupakan karya representatif yang menunjukkan dunia arsitekturnya. Rumah berbentuk □ adalah rumah kedua Byoung Soo Cho yang terletak di Yangpyeng, Privinsi Gyeonggi. Dia mewujudkan konsep yang diusulkan dalam tesis sekolah pascasarjananya. Halaman berbentuk persegi yang mengingatkan pada halaman khas hanok (rumah tradisional Korea) dan sepuluh pilar kayu tua yang tebal bukan hal yang dipinjam dari gaya arsitektur tradisional, tetapi dimaksudkan untuk membawa lingkungan alam seperti cahaya, angin, dan langit ke dalam bangunan. Eksperimen struktural di rumah ini juga dapat diperhatikan. Untuk membuat kotak beton yang sederhana, dia memungkinkan kedap air alami dengan cara memukul beton selama proses perawatan tanpa menggunakan bahan penghalang air. Dia juga coba menghubungkan langsung kayu dengan beton yang tingkat penyusutannya berbeda, dan itu juga berhasil. Dengan meletakkan sepuluh tiang kayu pada jarak 5-6 meter tanpa balok penyangga tambahan, beban dapat didistribusikan secara merata. Atap juga bisa menjadi bidang persegi tanpa parapet (tembok pembatas). Ini dimungkinkan berkat pengetahuan yang dimilikinya tentang arah penyusutan kayu dan deformasi beton.

Camerata yang terletak di Paju, Privinsi Gyeonggi, adalah studio musik dan rumah Hwang In-yong, Disc Jockey yang terkenal. Ketika menciptakan ruang yang dapat memaksimalkan pengalaman suara, Byoung Soo Cho terinspirasi oleh gudang pedesaan di Montana. Ide untuk mengisi ruang gelap hanya dengan secercah cahaya dan suara musik disambut oleh Hwang In-yong karena dia memiliki kenangan tentang gudang garam yang pernah dialaminya semasa kecil. Dia menggunakan metode menghilangkan tiang di dalam interior dan menggantinya dengan kabel yang mendukung lantai kedua mezzanine untuk memaksimalkan pengalaman untuk mendengar. Sementara itu, di antara dua kotak, yaitu studio musik dan rumah, dia membuat sebuah halaman tengah.

Setelah membangun rumah berbentuk □ dan Camerata, dia terus membuat seri kotak. Dia ingin secara aktif mengungkapkan pengalaman di luar arsitektur dengan menggabungkan kotak-kotak berbentuk sederhana untuk menciptakan ruang sela di antara kotak. Arsitekturnya berangkat dari kotak berbentuk sederhana, dan berkembang ke arah yang dinamis dengan cara melengkung dan membungkuk, seperti dari garis lurus menjadi kurva.

 



Pertimbangan Terhadap Tanah

6_★땅집-006 사진_김용관.png

Dengan luas total enam pyeong (kira-kira 20 meter persegi), Earth House terdiri atas dua kamar tidur, serta perpustakaan, dapur, kamar mandi, dan ruang ketel, masing-masing seluas satu pyeong (3,3 meter persegi). Selain dua pintu menuju halaman, pintu masuk utama rumah juga sangat kecil sehingga pengunjung harus merunduk saat masuk. Arsitek bertujuan untuk mengekspresikan sikap moderat, refleksi diri, dan kerendahan hati.
© Kim Yong-kwan

Eksperimen Byoung Soo Cho berlanjut dengan rumah tanah. Bangunan di dalam tanah yang digali ini berasal dari keakraban pribadinya akan tanah. Namun, keyakinannya bahwa semakin sederhana ruangnya, semakin baik kita dapat merasakan langit, pohon, bintang, dan angin juga memegang peran penting. Sikap seperti ini berlanjut di Jipyoung Guest House. Jipyong Guest House adalah bangunan yang ditanam di dalam tanah di lereng pantai, dengan tujuan menghubungkan pandangan orang dengan laut secara alami, serta memberikan kesan ruang yang terlindungi dalam pelukan bumi.

Minatnya terhadap tanah semakin berkembang ketika dia memimpin pameran ‘The 4th Seoul Biennale of Architecture and Urbanism’ yang diselenggarakan pada tahun ini. Apakah cara untuk memulihkan jalur gunung, jalur air, dan jalur udara yang pernah ada di Hanyang (nama masa lampau Seoul)? Pertanyaan yang diajukannya kepada dirinya sendiri ini adalah usulan untuk menghubungkan bentuk tanah asli Seoul yang dikelilingi oleh pegunungan, menghubungkan jalur air, dan menciptakan lingkungan fisik yang dapat dilalui angin dan mudah diakses oleh pejalan kaki.

Dalam buku “Byoung Cho: My Life as an Architect in Seoul” yang baru-baru ini diterbitkan oleh penerbit Thames & Hudson di Inggris, dia memperkenalkan lingkungan alam Seoul tempat dia lahir dan dibesarkan serta berbagai bangunan yang sesuai dengan lingkungan alamnya. Dia juga berbagi pemikirannya tentang Seoul dalam buku tersebut. Tanah yang dijelaskannya bukan konsep abstrak, melainkan entitas fisik yang secara langsung memengaruhi pengalaman kita terhadap ruang.

“Saya adalah orang yang percaya bahwa lingkungan alam, lingkungan budaya, dan konteks itu penting. Terutama, saya tertarik pada konteks fisik seperti topografi, angin, dan air.”

Melalui rumah, kantor, dan bangunan yang dirancangnya, kita dapat melihat bentuk asli ruang yang hilang seiring berkembang pesatnya kota-kota di Korea. Dia masih menjaga rutinitas memulai harinya dengan berjalan-jalan, bekerja gembira, dan mengakhiri hari dengan segelas wine bersama teman-temannya. Setelah 30 tahun hidup sebagai seorang arsitek, baginya arsitektur tetap merupakan pekerjaan yang menciptakan ruang hangat dalam kehidupan dan hiburan yang menarik.

7_★ㅁ자집 3 사진_텍스처온텍스처.png

Rumah Kotak Beton mencakup sepuluh kolom kayu yang berjarak lima meter, semuanya terhubung ke atap beton setebal 20 sentimeter. Perpaduan kayu dan beton, material dengan tingkat kontraksi berbeda-beda, menjadi salah satu eksperimen sang arsitek yang terbukti berhasil.
© texture on texture

8_★Sergio Pirrone(5).png

Jipyoung Guest House dibangun mengikuti kontur bumi yang kompleks seolah meresap ke dalamnya. Tanaman asli terlihat tumbuh dari celah-celah dinding beton; ini adalah cara arsitek agar arsitekturnya selaras dengan alam sekitarnya.
© Sergio Pirrone



Lim Jin-youngDirektur OPENHOUSE Seoul

전체메뉴

전체메뉴 닫기