메인메뉴 바로가기본문으로 바로가기

Features

Culture

Kenangan Peluit Kereta

Image of Korea 2021 SPRING 44

Kenangan Peluit Kereta

Baru-baru ini saya mendengar kabar tentang pembukaan jalur kereta api berkecepatan tinggi antara Seoul dan Andong. Kampung halaman saya di Yeongju berbatasan dengan pinggiran utara kota bersejarah Andong. Jadi saya sekarang dapat bepergian ke sana hanya dalam 1 jam 40 menit. Pada suatu pagi musim dingin sekitar 60 tahun yang lalu, seorang bocah laki-laki berusia 13 tahun dari desa pegunungan yang miskin naik kereta di Stasiun Yeongju. Itulah saya –perjalanan solo pertama saya. Banyak perhentian dengan nama asing terbentang di hadapan saya. Dan saat kereta tiba di Seoul, langit pun mulai gelap.

Mari renungkan. Jarak yang sama sekarang dapat ditempuh dalam waktu hanya sekitar 100 menit. Perubahan yang dahsyat, kemajuan yang luar biasa! Namun, keterkejutan dan rasa syukur yang terinspirasi oleh kecepatan dan kenyamanan kereta secepat peluru berdampingan dengan kerinduan akan kecepatan yang lebih lambat dan pemandangan indah di masa lalu.

© Ahn Hong-beom

Perjalanan kereta pertama anak laki-laki itu membuat jantungnya berdebar cepat dan takjub. Orang dewasa yang duduk di sebelahnya bertanya ke mana dia akan pergi dan apa yang direncanakan di sana. Saya menjawab dengan bangga bahwa akan pergi ke Seoul untuk mengikuti ujian masuk sekolah menengah. Gerbong kereta penuh dengan penumpang, duduk dan berdiri di lorong. Setiap kali kereta memasuki terowongan, gerbong menjadi gelap, kemudian cerah kembali. Asap hitam dan jelaga yang keluar dari gerbong mesin menerobos melalui jendela yang terbuka.

Kereta berhenti di stasiun pedesaan kecil. Bibi di kursi depan yang berbagi telur rebusnya dengan saya telah meneteskan air liur dalam tidurnya, tetapi tiba-tiba dia tersentak bangun dan membenahi barang-barangnya. Punggung bibi tampak turun dari kereta, bersama dengan seorang siswa muda berseragam sekolah, dan menghilang setelah peluit berhenti … Petak-petak bunga berlintasan dengan berbagai kembang tahunan bagaikan kosmos, gemetar dalam hembusan angin … Pemandangan seperti itu menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan kereta saya.

Saat ini, kereta KTX berpacu melewati perhentian kecil dengan begitu-begitu saja. Banyak stasiun pedesaan telah ditinggalkan dan dihancurkan, karena kehilangan fungsinya sejak lama. Tetapi beberapa telah diubah fungsinya menjadi kafe, tempat makan atau museum kecil, menawarkan kepada masyarakat sebuah perjalanan kenangan dan merevitalisasi situs-situs ini sebagai tempat wisata.

Bangun dari tidur nyenyak di larut malam, kadang-kadang saya membawa bocah lelaki – saya di waktu dulu – dan mendudukkannya dalam kegelapan peluit tua yang sunyi. Kemudian saya menyalakan lampu redup di setiap ruang tunggu peluit kereta yang telah mengalir sepanjang hidup saya, dan membayangkan adegan dari puisi “Di Stasiun Sapyeong” karya Kwak Jae-gu.

“… Dengan jendelanya yang laksana dedaunan musim gugur / siapa yang tahu di mana kereta malam berjalan / berseru setiap saat, begitu rinduku, aku / mencurahkan segenggam air mataku ke dalam cahaya.”

Dureup Harta Karun Musim Semi di atas Meja Makan

Essential Ingredients 2021 SPRING 53

Dureup Harta Karun Musim Semi di atas Meja Makan

Dureup yang memiliki rasa agak pahit, bertekstur kasar, tetapi renyah sekaligus lentur merupakan sayur musiman yang muncul dan menghilang secara kilat bagaikan musim semi. Sayur ini kini dipakai sebagai bahan masakan baik untuk makanan Korea maupun Barat karena mampu membangkitkan aroma musim semi.

Musim semi merupakan musim istimewa bagi orang Korea yang suka makan sayur. Di antara negara-negara OECD, Korea berada di barisan terdepan dari segi konsumsi sayur dikarenakan dua alasan. Pertama, orang Korea selalu makan kimchi, masakan fermentasi sayur. Kedua, orang Korea menggemari namul, yaitu sayur-mayur. Kebanyakan namul ini hanya dapat dinikmati pada musim semi. Hal ini dikarenakan sayur (untuk namul) ini semakin lama, teksturnya akan semakin keras dan kandungan zat racun yang ada di dalamnya juga akan semakin bertambah tinggi.

Waktu untuk memotong tunas pohon dureup, dan merebusnya supaya dapat dimakan seperti namul sangat terbatas. Dureup dipanen saat bunga ceri bermekaran. Jika ditanam di ladang, dureup dipanen pada awal April di daerah selatan, sedangkan di daerah tengah dan utara, dureup dipanen pada pertengahan sampai akhir April.

Dureup biasannya dipanen sebanyak 3~4 kali, sebab tidak semua tunas muncul pada waktu bersamaan. Pada zaman sekarang, dureup ditanam di dalam rumah kaca, sehingga dureup dapat dipanen pada awal musim semi, bahkan juga pada musim panas dan musim dingin.

Dureup adalah sayuran hijau musim semi yang lezat yang dipanen pada bulan April, dinikmati hanya sebentar seperti musim semi yang berlalu dengan sendirinya. Tunas muda pohon angelica Korea, dengan tekstur kasar, renyah, dan rasa pahit, membawa keharuman musim semi ke atas meja.

Tekstur yang Luar Biasa
Dureup memiliki rasa yang agak pahit dan aroma khas seperti aroma rumput atau pohon. Kekhasan dureup terutama terletak pada teksturnya. Jika dureup direbus di dalam air mendidih, lalu dimasukkan ke dalam mulut, maka ketika dikunyah, terksturnya terasa lembut dan renyah. Tekstur dureup tidak kenyal, berbeda dengan namul musim semi lainnya. Tekstur dureup terasa agak kasar karena terdapat duri kecil pada permukaannya, tetapi duri itu terasa lentur dan mudah putus seperti benang saat dikunyah. Orang yang pertama kali makan dureup cenderung perlu menguyahnya berulang kali dikarenakan teksturnya itu. Cara makan dureup sangat mirip dengan cara makan sushi, yaitu ikan mentah karena teksturnya mirip seperti itu. Dureup dimakan dengan saus gochujang yang asam manis setelah dureup direbus sebentar, lalu kadang kadang dureup juga dimakan dengan cumi-cumi rebus. Cumi-cumi dan dureup yang mempunyai tekstur saling bertolak-belakang itu menyajikan kombinasi unik. Sebagai pengganti cumi-cumi, irisan daging yang direbus juga dapat dimakan bersama dengan dureup. Dalam “Berbagai Resep Masakan Korea Baru,” buku masakan Korea yang pertama kali dicetak berwarna di Korea pada tahun 1924, tercantum cara masak dureup yang sederhana sebagai berikut.

“Jika dureup mentah direbus sebentar, lalu dipotong memanjang, diberi garam dan biji wijen, maka terciptalah namul yang terbaik. Tidak ada seorang pun yang tidak menyukainya.”

Kalau dureup direbus dalam waktu lama, teksturnya akan menjadi sangat lembut dan hal itu akan mengurangi rasanya. Dureup lebih baik direbus dalam waktu singkat untuk menjaga tekstur dan rasanya. Tunas dokhwal yang dikenal sebagai tangdureup dan tunas eumnamu yang dikenal sebagai gaedureup juga selalu dimakan dengan cara direbus. Surat kabar Donga-ilbo pada tanggal 30 April 1959 memperkenalkan cara masak dureup yang spesial. Menurut surat kabar tersebut, dureup dapat dimakan dengan saus gochujang yang asam manis setelah kulitnya dikupas atau dimakan dengan cara digoreng bersama berbagai bumbu dan daging sapi cincang.

Cara yang lazim makan dureup adalah dimakan dengan saus gochujang yang asam manis, namun cara ini memiliki sebuah kekurangan, yaitu aroma khas dureup cenderung berkurang dikarenakan kuatnya aroma saus gochujang. Sementara itu, jika dureup difermentasi, aroma khasnya menjadi lebih kuat. Maka, cara memasaknya adalah sebagai berikut: Setelah dureup dibersihkan, dureup disusun dalam wadah. Setelah itu, dituangkan saus yang terbuat dari kecap asin, cuka, gula, dan air dengan proporsi 1:1:1:1,5 ke dalamnya. Dureup dalam rendaman saus tersebut kemudian difermentasi selama 2~3 hari, lalu disimpan di dalam kulkas. Dengan cara memasak seperti itu, rasa pahit dureup akan berkurang, sedangkan aromanya yang seperti campuran aroma pohon dan rumput obat akan menguat. Badan kita seba akan terasa lebih segar dan sehat setelah makan masakan dureup ini.

Tunas Dureup paling sering dimakan setengah matang. Tunas yang tebal dipotong setengah memanjang atau diberi potongan melintang di bagian bawah sebelum dimasak.

Gulungan nasi dureup (gimbap) dibuat dengan meletakkan tunas setengah matang di atas nasi yang telah dicampur dengan larutan cuka, gula, dan garam yang telah direbus sebentar - semuanya digulung dalam lembaran rumput laut kering.

Rasa bibimbap, atau nasi yang dicampur dengan aneka sayuran, ditingkatkan dengan menambahkan rasa dureup setengah matang yang unik dan kuat.

Eaten in Diverse Ways
In some ways, dureup is a lot like asparagus. Both are shoots that grow in the spring, but they have a different aroma. Though blanched dureup doesn’t have exactly the same texture as blanched asparagus, the two are fairly similar. Dureup briefly boiled in leftover pasta water can be added to pasta with anchovy oil to create a dish that brings Eastern and Western flavors together.

Today, the barbecued beef and dureup skewers of the 1970s have been transformed into skewers of ham or crab meat and asparagus, probably inspired by the similarity between the two vegetables. In Japan, both dureup and asparagus are eaten deep-fried, as tempura.

More recently, the March 17, 2018 edition of the daily JoongAng Ilbo featured a dureup gratin recipe. Blanched dureup mixed with chopped boiled eggs is covered with bechamel sauce and baked. Similarly, modern fine dining restaurants in Seoul often serve spring dureup. Thanks to creative recipes from home and abroad, the local ingredient can delight global palates seeking the scent of the season.

Dureup has a bitter taste and a unique fragrance that’s somewhere between wood and grass. However, its distinguishing feature is its texture. Blanched dureup has both a soft and crunchy mouthfeel.

Anekaragam Pengolahan
Cheon Yong-ho, seorang petani yang menanam dureup di Jecheon, Provinsi Chungchung Utara, mendapat hak paten untuk asinan dan kimchi berbahan tunas dureup. Proporsi kecap asin, air, gula, dan cuka serta cara fermentasi yang dipakainya berbeda dengan cara yang biasa dipakai. Dia memfermentasi dureup melalui tiga tahap, lalu dia mengemas fermentasi dureup itu di dalam kemasan kedap udara (vacuum packing). Dengan cara tersebut, dureup dapat disimpan di dalam kulkas selama tiga tahun. Kimchi dureup juga dibuatnya dengan cara yang istimewa, yaitu dia merebus tunas dureup dalam air mendidih, memerasnya lalu baru membuat kimchi dengannya. Selain itu, dia menyajikan cara makan dureup yang lain, yaitu dureup dibuat acar dengan garam. Setiap kali akan dimakan, acar dureup ini dibilas terlebih dahulu untuk menghilangkan garam di dalamnya.

Dureup sangat mirip dengan asparagus. Keduanya adalah tunas yang muncul pada musim semi. Selain itu, dureup yang direbus sebentar juga mempunyai tekstur yang hampir sama dengan asparagus rebus. Setelah dureup direbus dalam air yang telah dipakai sebelumnya untuk merebus mi pasta, dureup dimasukkan ke dalam pasta minyak ikan teri (an-chovy oil pasta), lalu terciptalah sebuah masakan senyawa dunia Timur dan Barat. Pada tahun 1970-an, orang-orang memasak sate dengan daging sapi yang dipotong memanjang dan dureup. Kini, ham dan asparagus digunakan sebagai pengganti untuk memasak sate itu. Perubahan tersebut sangat mungkin terjadi karena kemiripan dureup dan asparagus. Sementara itu di Jepang, dureup dan asparagus dimakan sebagai tempura yang digoreng dengan adonan tepung.

Dalam surat kabar Joongang-ilbo pada tanggal 17 Maret 2018, tercantum sebuah resep masakan gratin dengan menggunakan dureup, yaitu dureup direbus, lalu ditambahkan dengan telur rebus dan saus bechamel, kemudian setelah semua bahan tercampur rata, dipanggang di dalam oven.

Pada musim semi, masakan dureup sering ditemukan di sejumlah restoran mewah di Seoul. Berbagai cara masak dureup dengan bahan khas daerah dan aneka resep adaptasi masakan dari berbagai negara asing untuk masakan dureup sungguh memanjakan para pecinta kuliner.

Jati Diri dari Bahan Masakan
Seandainya dureup dapat berbicara, apa yang akan dikatakannya? Mungkin dureup tidak akan melontarkan pertanyaan dengan penuh keluhan seperti “Mengapa aku harus dimasak dengan gaya Italia atau Prancis?” Namun, mungkin ia akan bertanya, “Apakah kamu bisa membayangkan, aku akan tumbuh seperti apa seandainya aku tidak cepat dipotong agar dapat disajikan di atas meja makan untuk kamu?”

Kita sering lupa bahwa sebenarnya suatu masakan berasal dari makhluk tertentu. Kita pernah melihat tunas pohon dureup sebagai bahan masakan, tetapi di antara kita jarang ada yang pernah melihat pohon dureup dewasa (jika pohon dureup ini dibiarkan terus tumbuh dan berkembang). Demikian halnya juga dengan asparagus. Kita sering makan asparagus yang disa-jikan bersama steak, tetapi tidak ada orang yang pernah melihat tunas asparatus dapat terus tumbuh menjadi seperti apa.

Sebenarnya pohon dureup atau asparagus tidak akan mati setelah tunas dureup atau asparagus dipotong. Jika beberapa ranting dipotong dan beberapa ranting lainnya dibiarkan, maka setelah tunasnya dipotong, pohon dureup dapat tumbuh dengan baik seperti yang kita lihat pada musim panas. Jika dibiarkan tanpa dilakukan apa pun, pohon dureup akan terus tumbuh hingga setinggi 3~4 meter. Akan tetapi, bagi petani sulit untuk merawat pohon besar itu dan juga sulit untuk memperoleh dureup dari pohon besar tersebut. Untuk meningkatkan panen dureup, beberapa ranting dan tunas perlu dipotong. Jika dureup ditanam di dalam rumah kaca, petani harus mengatur suhu dan tingkat kelembapan baik pada siang hari maupun malam hari untuk menjaga mutu rasa dan aromanya.

Yang selalu kita lihat di pasar bukanlah pohon dureup melainkan tunas dureup. Dengan demikian, kita tidak mengetahui bagaimana jika dureup terus tembuh lebih dari tunas. Kini bagaimana kalau kita bertanya kepada sendiri seberapa banyak kita mengetahui dureup saat melihat dureup yang disajikan di atas meja makan?

Berkolaborasi Seni untuk Satu Korea

Tales of Two Koreas 2021 SPRING 58

Berkolaborasi Seni untuk Satu Korea

‘R umah Menghadap Selatan, Lagi’, sebuah pameran seni oleh Koi, seorang seniman Korea Utara dan Shin Hyung-mee, seorang terapis seni dan mentornya diadakan di Topo House di Insa-dong, Seoul dari 25 November hingga 30 November 2020. Pameran ini menarik perhatian besar karena melalui kolaborasi kedua seniman secara gamblang mengungkapkan proses pemukiman pengungsi Korea Utara di Korea Selatan dan saling pengertian antara warga Korea Utara dan Selatan serta keinginan mereka untuk reunifikasi.

Koi, seorang seniman pengungsi Korea Utara, membandingkan dirinya dengan seekor ikan yang lolos dari akuarium untuk berenang dan hidup di sungai yang lebar secara bebas. Ikan koi bia-sanya disebut sebagai ‘ikan mas sutra’ dan tumbuh 5 hingga 8 cm jika ditempatkan di akuarium kecil. Namun dia bisa tumbuh hingga mencapai panjang 15~25 cm di kolam dan 90~120 cm di sungai. Nama panggung Koi menjelaskan mimpi-mimpi yang dikembangkan di Korea Selatan yang ‘luas dan bebas’.

Pada Desember 2008, pada usia 18 tahun, Koi meninggalkan kampung halamannya di Chongjin, Provinsi Hamgyeongbuk-do dan tiba di Tiongkok dengan melintasi perbatasan Tiongkok-Korea Utara. Ia menempuh perjalanan berisiko tinggi karena rekomendasi dari seorang teman akrab yang tinggal di Korea Selatan bersama keluarganya. Orang tua pun tidak bisa mematahkan keinginannya. Setelah berliku-liku, pada bulan Maret 2009 dia menginjakkan kaki di tanah impiannya Korea Selatan melewati Thailand. Dia mengingat kembali saat dia datang ke Korea Selatan tanpa rasa takut seperti peribahasa Korea ‘anak anjing yang baru lahir tak tahu kega-lakan harimau’. Kalau kembali ke waktu itu, malah dia tidak bisa memikirkannya.

Koi yang lulus SMA di Korea Utara mengarahkan perhatiannya untuk masuk perguruan tinggi seni di Seoul. Dengan mendapatkan biaya hidup dengan bekerja paruh waktu, dia mengikuti Heavenly Dream School, sekolah alternatif swasta untuk pengungsi Korea Utara di Seongnam, Provinsi Gyeonggi. Akhirnya, pada tahun 2012, ia masuk ke Jurusan Desain Mode dan Seni Tekstil di Universitas Hongik. Dia adalah mahasiswa pengungsi Korea Utara pertama di jurusan ini.

“Peta Semenanjung Korea dalam Rangkulan Sigma.” Shin Hyung-mee dan Koi. 2020. Lukisan akrilik di atas kayu. 160 × 100 cm. Kolaborasi oleh Koi, seorang pengungsi Korea Utara, dan Shin Hyung-mee, mentor / terapis seni Korea Selatannya, ditampilkan pada pameran bersama mereka, ”Sebuah Rumah yang Menghadap Selatan, Lagi” yang diadakan di Seoul pada November 2020. Ini memakai simbol matematika untuk mengekspresikan keseluruhan bagian.

Unit Harmoni. Koi. 2020. Kain khusus. 100 × 100 cm. Karya solo Koi ini mengungkapkan keyakinannya bahwa banyak keinginan untuk penyatuan yang pada akhirnya akan membangun satu Korea. Seniman tersebut mengatakan bahwa dia terinspirasi oleh pesawat kertas yang membawa catatan harapan.

Kebetulan atau Takdir
Setelah mendaftar, Koi bertemu seniman Shin Hyung-mee, seorang terapis seni di Asosiasi Kristen untuk Pemuda Pengungsi Korea Utara. Shin masih ingat dengan jelas hari pertama dia bertemu Koi. “Pada pertemuan pertama pada tahun 2013, saya langsung merasa Koi memiliki pikiran yang sangat terang dan positif. Pada saat itu saya mendukung konseling psikologis kelompok untuk pemuda pengungsi Korea Utara di Gereja Kristen Metodis Korea. Saya mengetahui Koi sangat menginginkan bimbingan pribadi saya. Jadi saya menjadi mentor sampai sekarang. Koi berterima kasih atas semua yang saya berikan dan terus berkembang.”

Dua seniman dari Korea Selatan dan Korea Utara itu menampilkan sembilan karya dalam pameran yang berjudul ‘Rumah Menghadap Selatan, Lagi’ dengan tema ‘reunifikasi’; dan merupakan pameran pertama seniman Koi. Di pameran yang dirancang sebagai bagian dari Proyek Dukungan Penciptaan Konten Budaya Terpadu Antar- Korea Kementerian Reunifikasi ini, tiga karya bersama oleh kedua seniman dan tiga karya pribadi dipamerkan. Lukisan, seni tekstil, instalasi, proyek cat, dan karya lainnya yang mencakup berbagai genre menunjukkan pengungsi Korea Utara datang ke Korea Selatan untuk kehidupan yang lebih baik dalam kebebasan dan perdamaian. ‘Rumah Menghadap Selatan’ melambangkan rumah hangat di hati yang disinari matahari.

Salah satu karya bersama, ‘Peta Semenanjung Korea yang Dianut Sigma’ menggambarkan Gunung Samcheonri Geumsugangsan terinspirasi oleh Sigma, penjumlahan urutan bilangan. 59 orang yang berpartisipasi dalam proyek ‘Berkomunikasi dengan Warna’ ikut membantu. Dalam proyek ini, 30 pengungsi Korea Utara, 29 warga Korea Selatan masing-masing menciptakan warna cat yang berbeda berdasarkan citra mereka tentang reunifikasi. Di sini ditambahkan ‘warna-warna emosi’ yang dirasakan kedua seniman tersebut selama bekerja sehingga 101 warna cat dipamerkan. Usai pameran, cat-cat terebut disumbangkan ke berbagai tempat yang mem-butuhkan edukasi reunifikasi, dan rencananya pameran ini akan dilanjutkan secara estafet.

Karya tunggal Koi ‘Jalan Menuju Rumah Menghadap Selatan Bersama Kamu’ adalah seni instalasi yang seolah-olah menggunakan 50 pasang sepatu kets yang ia kenakan setiap hari di Korea Utara. “Untuk menyapa 50 teman saya di Korea Utara, saya menulis surat dengan tulisan tangan dan memasukkannya ke sepatu satu per satu. Karya ini berisi kerinduan akan keluarga dan teman-teman yang tertinggal di Korea Utara dan harapan untuk reunifikasi. Banyak pengunjung berhenti di depan karya ini untuk waktu yang lama. Beberapa orang meneteskan air mata setelah membaca semua surat di sepatu kets dan beberapa meninggalkan komentar bahwa mereka sangat terkesan. Karya ini juga merupakan hasil karya yang paling berharga bagi saya.”

Karyanya yang lain, ‘Keselarasan Unit’ terinspirasi oleh harapan yang ditulis di dalam pesawat kertas akan jadi kenyataan jika diterbangkan. Karya ini mengekspresikan bahwa harapan-harapan untuk reunifikasi bisa mewujudkan Semenanjung Korea yang bersatu seperti penyatuan semua impian hingga terwujud mimpi yang lebih besar.

Komunikasi dan kesabaran
Karya tunggal Shin Hyung-mee, ‘Trek Lari Jarak Jauh’ menampilkan perjalanan panjang dan sulit dari 46 orang di antara banyak pengungsi Korea Utara yang dia temui selama bekerja sebagai terapis seni.

“Bagi saya berlari jarak jauh sulit sejak masih kecil. Para pengungsi Korea Utara telah mengalami, baik saat-saat berbahaya maupun saat-saat lega, sebelum tiba di Korea Selatan. Saya ingin membandingkan pengalaman tersebut dengan emosi yang dirasakan di trek lari jarak jauh.”

Karya tunggal lain Shin, “Tempat Duduk” adalah salah satu dari serangkaian kursi yang melambangkan beberapa pengungsi Korea Utara yang telah tersimpan di dalam hatinya.

Meskipun mereka memiliki hubungan khusus sebagai pendamping dan yang didampingi, kedua seniman ini menyadari perbedaan pandangan hidup saat mengerjakan proyek ini karena lingkungan dan proses yang mereka jalani berbeda. Diperlukan komunikasi, pertimbangan, dan kesabaran. Melalui proses kerja sama, mereka mempertimbangkan ‘integrasi Selatan dan Utara’.

Banyaknya jumlah pengunjung di luar dugaan membuat Koi memiliki keberanian besar. “Saya duga pengunjung tidak banyak karena COVID-19 tetapi saya terkejut melihat jumlah mereka. Saya yakin bahwa bakat saya dapat digunakan secara berarti untuk reunifikasi. Secara khusus, saya pikir kami sudah memasang kancing awal untuk reunifikasi dengan ‘kerja sama seniman Korea Selatan dan Korea Utara’ daripada kerja sendiri”.

Pameran ini dipromosikan oleh seniman Shin Hyung-mee. Ini merupakan usaha selanjutnya dari pameran “Rumah Menghadap Selatan”, sebuah seri pameran yang diluncurkan pada tahun 2008 oleh Seoul Women University dan Kantor Pendidikan Dongbu Incheon sebagai proyek terapi seni untuk pengungsi muda. Pameran ini akan diadakan lagi di galeri yang dikelola oleh Dewan Penasihat Unifikasi Nasional pada musim semi tahun ini.

“Sejak awal kami merencanakan pameran ini bukan sebagai acara sekali saja tetapi sebagai program yang terus berlanjut. Dengan kesempatan ini, kami berencana untuk mengembangkan proyek pameran yang lebih besar di mana lebih banyak orang berpartisipasi, berkomunikasi, dan bertindak sebagai jembatan untuk mendekati Korea Utara secara alami dengan persepsi positif tentang reunifikasi.” jelas Shin.

Karya ini mengekspresikan bahwa harapan-harapan untuk penyatuan bisa mewujudkan Semenanjung Korea yang bersatu seperti penyatuan semua impian hingga terwujud mimpi yang lebih besar.

“Jalan Menuju Rumah yang Menghadap Selatan yang Aku Jalani Bersamamu.” Koi. 2020. Kain, tulisan tangan, pemasangan 50 pasang sepatu kets. Masing-masing dari 50 pasang sepatu kets, jenis yang sama dengan yang dikenakan Koi di Korea Utara, memiliki surat yang ditulis olehnya untuk menyapa teman-temannya di Utara.

Ketika terapis seni Shin Hyung-mee (kiri) dan muridnya dari Korea Utara, Koi, bekerja sama, perbedaan nilai-nilai mereka sering kali muncul. Mereka menganggap komunikasi, pertimbangan, dan kesabaran sangat penting untuk kolaborasi mereka.

Sebuah Langkah Menuju Impian
Saat ini, Koi sedang belajar untuk mendapatkan gelar master dalam bisnis fesyen di Universitas Hongik dan bekerja di instansi terkait fesyen. Pada 2016, ia merencanakan dan berpartisipasi dalam pameran kelompok oleh sembilan seniman muda Korea Utara dan Selatan di Common Ground, pusat perbelanjaan pertama Korea Selatan yang terbuat dari kontainer pengiriman, di bawah sponsor Kolon Group. Mimpinya adalah menjadi ahli yang berpengaruh di industri fesyen dan dunia seni dan budaya sehingga dia dapat memainkan peran yang berguna dalam menyatukan kedua Korea.

Shin Hyung-mee telah menjalin hubungan yang erat dengan para pengungsi Korea Utara sejak 2004. Semuanya bermula ketika dia bertemu dengan seorang anak laki-laki dari Korea Utara saat bekerja sebagai sukarelawan untuk Dokter Tanpa Batas. Sebagai terapis seni, ia telah menyembuhkan dan berkomunikasi dengan para pengungsi Korea Utara melalui konseling psikologis melalui lukisan di Hanawon, yang mendukung pemukiman para pengungsi Korea Utara. Shin yang mengambil jurusan Seni Rupa di Universitas Ohio di Amerika Serikat menerima gelar magister dalam terapi seni dari Sekolah Pascasarjana Seoul Women University dan saat ini menjalani program doktor dalam Terapi Seni Klinis di Universitas Kedokteran Cha. Dia juga sedang mempersiapkan berbagai kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran akan tugas publik yang penting dalam membantu pengungsi Korea Utara menjalani kehidupan yang memuaskan di Korea Selatan.

Gochang Persemaian Revolusi

On the Road 2021 SPRING 45

Gochang Persemaian Revolusi

Gochang di Provinsi Jeolla Utara memanjakan pengunjung dengan tanahnya yang subur dan pemandangan alam yang memukau, tetapi juga membuat mereka sedih dengan kenangan yang memilukan mengenai Revolusi Petani Donghak yang terjadi pada saat kekuasaan dan pengaruh dinasti terakhir Korea mulai memudar.

Kereta cepat KTX yang berangkat dari Stasiun Yongsan di Seoul membawa saya ke Stasiun Songjeong di Gwangju satu jam 40 menit kemudian. Dari dalam mobil bersama teman yang menjemput saya di stasiun, saya melihat sebuah baliho menyambut kami di kota Gochang. “Selamat datang di Gochang, ibu kota pertama Semenanjung Korea. Rumah bagi Gunung Seonun yang indah sepanjang tahun, dan situs sakral Revolusi Petani Donghak.”

Gochang merupakan tempat revolusi petani pertama kali digaungkan pada tahun 1894, ketika Dinasti Joseon berada dalam masa kehancurannya. Di kota ini juga terdapat makam petani-petani pejuang yang gugur pada saat itu. Di sebelah baliho terdapat spanduk berisi ajakan berdonasi: “Bergabunglah dengan penggalangan dana untuk pendirian patung Jenderal Jeon Bong-jun.” Sudah ada beberapa patung yang didanai pemerintah untuk mengenang revolusi dan para pemimpinnya itu. Namun, kali ini warga setempat ingin membangun sebuah patung pemimpin tertinggi revolusi itu dengan usahanya sendiri.

Patung Buddha duduk dengan pahatan batu di jalan setapak menuju ke Pertapaan Dosol di Kuil Seonun di Gochang berasal dari Dinasti Goryeo (918~1392). Berukuran tinggi 15,7 meter dan lebar lutut 8,5 meter, ini adalah salah satu patung Buddha pahatan batu terbesar di Korea. Pada tahun 1890-an, para pejuang Revolusi Petani Donghak berdoa di depan Buddha agar berhasil dalam pertempuran.

Tempat Lahir
Di seberang ladang yang luas itu, jejak langkah revolusi membawa kami ke rumah Song Du-ho (1829~1895) yang kecil dan beratap genting di desa Juksan, Jeongeup, Provinsi Jeolla Utara. Saya datang ke sini karena ingin memberikan penghormatan kepada seorang revolusioner yang diek-sekusi 126 tahun lalu. Rumah ini tidak memiliki pintu gerbang depan. Ada bilah beton yang bertuliskan “Tempat lahir Revolusi Petani Donghak.” Dari tempat ini, para pemimpi kehidupan yang lebih baik menyebarkan benih revolusi yang menentang monarki terakhir Korea. Mereka berjanji akan berjuang sampai titik darah penghabisan.

Hasil perundingan mereka dikenal dengan sabal tongmun, atau “mangkuk nasi melingkar,” dengan 22 tanda tangan di sepanjang tepi mangkuk nasi yang diletakkan terbalik. Tidak ada yang tahu siapa yang menandatangani pertama kali di antara nama-nama yang tertulis melingkar itu, sehingga identitas penggagasnya tetap tersembunyi. Susunan ini seperti pertemuan meja bundar di Eropa abad pertengahan; identitas ketua kelompok dan peringkat orang-orang yang terlibat di dalamnya tetap terjaga.

Dokumen ini adalah bukti bahwa Revolusi Petani Donghak adalah pergerakan rakyat yang direncanakan dengan baik untuk mengakhiri tahun-tahun panjang penuh tirani dan korupsi. Pergerakan ini menghasilkan kode etik yang berisi empat poin yang pada dasarnya menyerukan pemberontakan bersenjata. Seruan itu mendesak warga supaya menyerbu kantor hakim dan, dari sana, berarak menuju Seoul. Donghak, yang berarti “Pembelajaran Timur,” adalah gerakan reformasi dan akademis yang tumbuh di dalam negeri melawan pengaruh Barat yang diwakili oleh ajaran Kristen dan kekuatan kerajaan.

Keberadaan dokumen itu sampai saat ini sungguh suatu keajaiban. Dokumen itu secara kebetulan ditemukan 53 tahun yang lalu, tersembunyi di bawah lantai kayu rumah Song Jun-seop, dari garis keturunan Song Du-ho. Ketika revolusi runtuh, tentara pemerintah yang dikirim untuk memadamkan pemberontakan itu menyebut tempat itu sebagai “desa pemberontak,” dan tanpa pandang bulu membantai penduduk dan membakar rumah mereka. Dokumen itu tersembunyi di antara catatan silsilah keluarga, yang berhasil diselamatkan.

Rumah yang ada tepat di depan tempat lahirnya revolusi itu pernah menjadi tempat tinggal kakek teman saya. Mata teman saya berkilau ketika ia bergantian melihat rumah-rumah itu. Tidak jauh dari tempat itu ada Menara Peringatan Revolusi Donghak, yang didirikan oleh anak cucu para pejuang revolusi itu. Dan di dekatnya juga terdapat Menara Peringatan Tentara Petani Donghak, untuk menghormati pahlawan tak bernama yang tak terhitung banyaknya yang berjuang demi perubahan.

Gebrakan pertama revolusi itu adalah protes anti-pemerintah di Gobu. Gerakan ini berhasil, tapi revolusi ini dipukul telak di Ugeumchi, sebuah puncak gunung di Gongju di bagian utara. Para petani itu hanya memegang tombak, bukan lawan sepadan senjata tentara pemerintah dan Jepang yang bersekutu menumpas pemberontakan.

Patung semangkuk nasi yang dibuat di depan tugu peringatan melambangkan alasan mengapa para petani yang kelaparan itu sampai mengangkat kapak dan sabit mereka. Di masa itu, beras harus dimakan bersama untuk bisa bertahan hidup. Ketika saya melihat ladang yang luas itu, gambaran petani-petani kelaparan berarak menuju Seoul tumpang tindih dengan gambaran Spartacus yang memimpin budak-budak pemberontak berjalan menuju Roma. Kedua revolusi itu luluh lantak.

Kuil Seonun dikelilingi oleh konsentrasi bunga kamelia terbesar di Korea. Camelia di sini bermekaran dari akhir Maret hingga pertengahan April, menghiasi halaman kuil dengan bunga merah yang indah dan dedaunan hijau yang subur.

Manseru (Paviliun Keabadian) di Kuil Seonun dibangun sebagai ruang kuliah pada tahun 1620. Hancur terbakar, dibangun kembali pada tahun 1752 dan nama aslinya, Daeyangnu, diubah menjadi Manseru. Tiang interior dan kasau terbuat dari kayu alami.

Wihara dan Laut
Tempat berikutnya adalah Wihara Seonun. Di tempat ini, saya ingin menikmati keheningan dan membersihkan debu di pikiran saya. Namun, wihara itu ramai dengan orang-orang yang datang untuk melihat pohon kamelia yang lebat dengan bunga merahnya di belakang aula utama.

Wihara Seonun, yang berada di lereng utara Gunung Seonun, didirikan pada tahun 577 oleh dua orang biksu: Geomdan dari Baekje dan Uiun dari Silla. Pada saat itu, kedua kerajaan yang berdekatan itu sedang berperang, yang mengakibatkan banyak orang mengungsi. Kedua biksu itu bersama-sama menyelamatkan pengungsi dan membangun sebuah tempat yang memungkinkan kehidupan bermasyarakat kembali dimulai. Jadi, wihara itu awalnya adalah sebuah pusat bantuan bagi pengungsi. Sekitar 1.300 tahun kemudian, tentara petani berdoa bagi keberhasilan pemberontakan mereka di depan patung Buddha yang terbuat dari pahatan batu di Biara Dosol, sekitar 2,5 kilometer di atas lereng di belakang wihara.

Setelah meninggalkan Wihara Seonun, saya menuju ke sebuah pantai yang dikenal dengan “pasir bersih sepanjang 10 li,” yang disebut Myeongsasimni. Pantai itu menghadap ke pelabuhan Gyeokpo di Buan, dan hutan lebat dari pohon pinus berusia ratusan tahun berbaris di hamparan pasir putih halus yang membentang lebih dari satu kilometer. Aroma pinus dalam terpaan angin musim semi seolah membersihkan indra saya. Bisikan angin yang menerobos barisan pohon pinus itu seperti air yang mendidih di dalam teko.

Di seberang padang pasir itu, hamparan gelombang sangat luas dan tak berujung. Pesisir barat Korea memiliki jangkauan gelombang tertinggi di dunia. Hari demi hari, laut dan daratan bergantian; tempat seseorang berdiri di suatu waktu akan menjadi bagian dari laut di waktu berikutnya. Air di sini sangat asin, sehingga orang-orang kesulitan mandi, dan mereka yang menderita neuralgia datang untuk mandi pasir panas. Ketika memandang gelombang itu, saya teringat Laksamana Yi Sun-shin (1545~1598), komandan angkatan laut terhebat Korea. Konon, ketika perbekalan menipis selama invasi Jepang pada tahun 1592~1598, ia mengumpulkan air laut di sana, lalu menguapkannya di dalam sebuah wadah besar. Garam yang berhasil dibuatnya dijual untuk membeli berton-ton beras bagi pasukannya.

Ladang jelai di Peternakan Hagwon menarik setengah juta pengunjung setiap musim semi. Green Barley Field Festival adalah festival terbesar di wilayah ini.

Tiang roh kecil (jangseung) berfungsi sebagai tiang penunjuk arah untuk ladang gandum di Gochang, yang luasnya sekitar satu juta meter persegi.

Ketika saya melihat ladang yang luas itu, gambaran petani-petani kelaparan berarak menuju Seoul tumpang tindih dengan gambaran Spartacus yang memimpin budak-budak pemberontak berjalan menuju Roma. Kedua revolusi itu luluh lantak.

Sekitar 1.600 dolmen dapat ditemukan di wilayah Gochang, gugusan makam megalitik terbesar di Korea. Bersama dengan situs Hwasun dan Ganghwa, Situs Gochang Dolmen dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2000.

Sekelompok petani lokal tampil di halaman depan Benteng Kota Gochang. Sebelum pandemi COVID-19, pertunjukan musik dan tarian tradisional ditampilkan di sini, serta di tempat kelahiran terdekat Shin Jae-hyo (1812~1884), penyanyi utama dan guru Pansori, setiap akhir pekan sejak musim semi hingga musim gugur.

Belut Bakar
Sekali menjejakkan kaki di Gochang, Anda tidak bisa pergi tanpa mencicipi jangeo (belut) bakar dan anggur bokbunja (rasberi hitam Korea). Gochang terkenal dengan belutnya dari Sungai Pungcheon, tepat di muaranya. Belut ini sangat populer sebagai makanan sehat.

Di luar jalan raya utama, di tempat sepi dekat ladang berdiri sebuah restoran “Hyeongje Susan”. Rumah makan dengan taman besar dan interior yang luas ini adalah tempat rahasia para pencinta kuliner lokal.

Pemilik rumah makan itu membakar belut dengan arang, melumurinya dengan marinade khusus yang dibuat dengan lebih dari 200 bahan, termasuk herba kesehatan, enzim biji-bijian dan minuman berbahan herba. Makanan pendampingnya bervariasi tergantung musim, dan semua bahannya diambil dari kebun. Anggur rasberi buatan mereka menari-nari di lidah saya, membuat saya merasa lebih kuat dan lebih muda.

Desa Garam Gojeon-ri

Lahan Basah Ungok Ramsar

Museum Gochang Dolmen

Museum Gochang Pansori

Kluster Dolmen
Pagi berikutnya, saya melihat-lihat Museum Dolmen Gochang yang berlokasi di kota, dan kembali ke desa Daesan untuk melihat dolmen di lingkungan alamnya. Setiap jalan dari pintu masuk desa ke lereng gunung dilapisi dengan bebatuan ini karena gunung besar tersebut merupakan museum luar ruangan yang besar dari makam-makam batu kuno. Setiap dolmen diberi nomor - semakin tinggi gunung, semakin rendah jumlahnya. Saya ingin melihat No. 1 di puncak, tetapi sangat lelah. Saya menyerah.

Enam puluh persen dolmen dunia ditemukan di Semenanjung Korea, dan sekitar 1.600 di antaranya, kelompok terbesarnya, berada di Gochang. Situs Dolmen Gochang, dan dan situs Hwasun Ganghwa, termasuk ke dalam Daftar Warisan Budaya Dunia UNESCO pada tahun 2000, yang diakui karena dolmen-dolmen itu unik dan bervariasi yang menunjukkan perubahan cara membuatannya. Dapat dikatakan keseluruhan wilayah Gochang merupakan situs budaya. Pada tahun 2013, Gochang juga dinobatkan sebagai Cagar Biosfer UNESCO karena lingkungan alam yang indah dan keanekaragam hayatinya.

Sore harinya, dengan kaki tertatih-tatih karena lelah, saya pergi melihat ladang barli hijau di Pertanian Hagwon. Setiap April, saat bunga kanola kuning bermekaran, seluruh kawasan ini berubah menjadi objek wisata yang ramai dengan puluhan ribu pengunjung. Saat saya keluar dari ladang barli itu, hujan mulai turun. Seperti halnya kelopak bunga harus gugur sebelum bunga itu menjadi buah, keindahan itu harus saya tinggalkan demi kehidupan baru yang akan datang. Tiba-tiba, saya merasakan sesuatu yang ajaib tentang tunas-tunas baru di ladang yang basah di bawah hujan musim semi itu. Perjalanan kali ini bukan perjalanan untuk melihat sesuatu yang baru, tapi untuk menemukan cara baru melihat sesuatu.

SEHANDO Sebuah Harta Karun Nasional

Focus 2021 SPRING 42

SEHANDO Sebuah Harta Karun Nasional

Sehando adalah lukisan karya ilmuwan terkenal pada akhir era Joseon yang bernama Kim Jeong-hui. Lukisan ini dibuat Kim pada tahun 1844 di Pulau Jeju yang juga merupakan tempatnya diasingkan. Sehando ini sering disebut sebagai puncak kejayaan muninhwa (lukisan karya kalangan menengah ke atas yang bukan berprofesi sebagai pelukis profesional). Lukisan yang sebelumnya merupakan koleksi pribadi ini akhirnya didonasikan ke Museum Nasional Korea tahun lalu. Saat itu, pemerintah langsung menganugerahkan Order of Cultural Merit pada pendonornya, lalu Museum Nasional Korea membuka area pameran khusus agar masyarakat dapat menyambut pusaka bangsa ini setelah perjalanan panjang.

Sehando oleh Kim Jeong-hui (1786~1856). 1844. Tinta di atas kertas. 23,9 × 70,4 cm. Museum Nasional Korea. Sehando, sebuah Harta Karun Nasional Korea, adalah lukisan pujangga paling terkenal dari Dinasti Joseon. Kim Jeong-hui, seorang sarjana dan ahli kaligrafi terkemuka, menggambarkan suramnya Pulau Jeju tempat pengasingannya. Di kiri lukisan yang dipasang di gulungan adalah kolofon Kim yang mengapresiasi persahabatan yang tak berubah dari muridnya Yi Sang-jeok, kutipan dari “Kumpulan Sastra Konfusius.”

“ Master Wandang di Tepi Laut Mengenakan Topi Bambu” oleh Heo Ryeon (1808~1893). abad ke-19. Tinta dan warna di atas kertas. 79,3 × 38,7 cm. APMA, Museum Seni Amorepasifik. Heo Ryeon, pelukis lanskap terkemuka dari akhir Dinasti Joseon, menggambarkan gurunya Kim Jeong-hui hidup dalam pengasingan di Pulau Jeju. Motif lukisan itu diambil dari “Dongpo dengan Topi dan Bakiak Bambu”, potret penyair Tiongkok Su Shi, yang dikagumi Kim.

Hadiah dari Seorang Guru di Pengasingan
‘Gulungan Sehando’ yang terdaftar sebagai pusaka nasional nomor 180 pada tahun 1974 ini memiliki panjang 1.469,5cm saat direntangkan. Dari total panjang tersebut, lukisan Sehando, karya Kim Jeong-hui hanya memiliki panjang sekitar 70cm, sementara selebihnya diisi oleh komentar dari berbagai orang. Inilah yang membuat kita harus membedakan antara lukisan Sehando dengan Gulungan Sehando. Jadi, kenapa sebuah gulungan lukisan justru lebih didominasi oleh komentar dibandingkan oleh lukisan itu sendiri?

Kim Jeong-hui lahir pada akhir abad ke-18 saat Semenanjung Korea sedang dibawah pimpinan Dinasti Joseon.

Terlahir dari keluarga kaya sekaligus saudara jauh keluarga kerajaan, Kim Jeong-hui memiliki ketertarikan dalam berbagai bidang sejak usia muda, mulai dari arkeologi sampai ke epigrafi. Pada usia 24 tahun, Kim Jeong-hui ikut ayahnya berkunjung ke Dinasti Qing sebagai utusan kerajaan di Yanqing (sekarang Beijing) tempat dia banyak bertukar pikiran dengan para cendekiawan. Dikenal luas dengan nama samaran Chusa atau Wandang, dia mahir dalam seni puisi, kaligrafi, dan melukis yang wajib dikuasai oleh pujangga. Selain itu, dia juga menciptakan gaya kaligrafi orisinal bernama ‘Chusachae’.

Pada abad ke-19, kondisi politik Joseon menjadi kacau balau akibat putra mahkota yang masih sangat muda harus naik takhta. Ideologi baru seperti ilmu praktis (Silhak) atau agama yang baru diperkenalkan seperti Katolik mengundang pertentangan dari kelas pemimpin konservatif. Saat itu, mengasingkan oposisi ke tempat jauh merupakan hal yang wajar. Pada tahun 1840, saat Kim Jeong-hui berusia 55 tahun, dia dijebak dan diasingkan ke Pulau Jeju yang merupakan tempat pengasingan paling jauh dan berbahaya. Hidup tragisnya di dalam pengasingan yang tidak mengizinkannya keluar rumah sama sekali berlangsung selama delapan tahun empat bulan.

Selama dalam pengasingan, dia sering terkena penyakit dan bahkan harus berduka akibat kematian istrinya, tetapi dia tetap fokus melukis dan menulis di tengah keputusasaan itu. Baginya, kabar terbaru dan buku berharga yang dikirimkan melalui kapal laut oleh muridnya bernama Lee Sang-jeok (1804~1865) merupakan hiburan luar biasa. Lee Sang-jeok sering mengirimkan buku-buku yang dikumpulkannya dengan susah payah dalam setiap perjalanannya ke Tiongkok untuk gurunya yang harus melewatkan hari-hari penuh sepi di tempat pengasingan tersebut.

Sehando merupakan lukisan yang dihadiahkan Kim Jeong-hui kepada Lee Sang-jeok pada masa itu. Di kanvas, terlihat sebuah rumah sederhana yang di kanan kirinya dihiasi pohon pinus dan pohon cypress (pohon sanobar) yang terletak simetris, sementara bagian lain kanvas ditinggalkan kosong. Di sebelah kiri gambar ditempelkan selembar kertas dengan tabel berisi tulisan tangan untuk menyampaikan perasaan terima kasihnya atas buku-buku yang sudah dikirimkan selama ini. Dia juga mengutip Zhi Han dari Analek Konfusius yang berbunyi “Musim dingin harus datang agar kita tahu fakta bahwa pinus dan cypress tidak layu”. Lukisan ini kemudian diberi judul dari dua huruf pertama kutipan tersebut. Karya Kim itu seakan menunjukkan kehidupan penuh kesepian di pengasingan di Pulau Jeju yang diumpamakan sebagai ‘musim dingin’, serta kasih sayang antara guru dengan murid yang tidak berubah walau ada di tengah kemalangan.

Gulungan horizontal “Sehando,” sepanjang 14,7 meter, berisi komentar dari 16 intelektual Cina. Kim Jeong-hui mempersembahkan lukisan itu kepada muridnya Yi Sang-jeok, yang membawanya ke Beijing dan mengundang para sastrawan Cina untuk mengomentarinya.
Para intelektual Tiongkok menghargai makna simbolis dari lukisan tersebut dan menekankan pentingnya tetap setia pada prinsip di tengah keadaan yang sulit.
Kim Jeong-hui meletakkan tulisan di selembar kertas terpisah yang ditempelkan di sebelah kiri lukisannya untuk mengungkapkan perasaannya sebagai orang pengasingan dan rasa terima kasih kepada muridnya Yi Sang-jeok.
Pada tahun 1914, pemilik ketiga lukisan itu, Kim Jun-hak (1859~?), menulis judul, “Wandang’s Sehando,” dalam lima aksara Tiongkok klasik di selembar kertas terpisah dan menempelkannya di sisi kanan. Di bawah judul itu dia menulis puisi tentang perasaannya tentang lukisan itu.



Perjalanan Panjang Melewati Batas Negara
Lee Sang-jeok sedang bersiap-siap bertugas ke Tiongkok ketika menerima Sehando dari gurunya. Saking terharunya, dia membawa lukisan ini ke Yanjing, tempat tujuh belas kaum cendekiawan Tiongkok berkumpul untuk menyambut kedatangannya. Di perkumpulan itu, Lee Sang-jeok menunjukkan lukisan gurunya dan meminta komentar kepada mereka, sampai akhirnya 16 orang di antara mereka menuliskan komentar secara bergiliran. Kebanyakan dari mereka menuliskan betapa penting dan sulitnya bagi orang bijak untuk melindungi apa yang mereka yakini.

Total 20 komentar dituliskan di gulungan ini oleh 16 orang Tiongkok dan 4 orang Korea. Proses ini menyimpan berbagai macam cerita. Setelah Lee Sang-jeok atau pemilik pertama lukisan ini meninggal dunia, lukisan ini diwariskan ke muridnya, lalu ke putra muridnya sebelum kemudian berpindah tangan ke orang lain. Selanjutnya, lukisan ini jatuh ke tangan ilmuwan Jepang Chikashi Fujitsuka (1879~1948) pada era penjajahan Jepang awal abad ke-20. Fujitsuka yang mengajar di Jurusan Filosofi Tiongkok di Kyeongseong Imperial University tertarik untuk melakukan penelitian terhadap Kim Jeong-hui dan mendapatkan lukisan ini dalam upaya besarnya untuk mengumpulkan berbagai data terkait, sebelum akhirnya dia kembali ke Jepang pada tahun 1940.

Selanjutnya, seorang ahli kaligrafi bernama Son Jae-hyeong (1903~1981) yang meneliti kaligrafi karya Kim Jeong-hui mengunjungi Fujitsuka yang saat itu menjabat sebagai direktur Daedong Cultural Academy di Tokyo, Jepang, untuk memperoleh lukisan itu. Dia memohon, “Saya akan melakukan semua yang Anda inginkan, jadi mohon serahkan karya itu.” Namun, Fujitsuka menjawab bahwa dirinya juga mengagumi Kim Jeong-hui, maka dia harus menolak tawaran tulus itu. Son tidak menyerah, dia terus mengunjungi Fujitsuka setiap hari selama dua bulan. Akhirnya, pada bulan Desember tahun yang sama Son mendapatkan karya itu tanpa perlu membayarkan apa pun dengan pesan, “Kamu memang pantas menyimpan Sehando.” Pada bulan Maret tahun berikutnya, Tokyo dibom oleh pasukan Amerika Serikat yang menyebabkan mayoritas data penelitian Fujitsuka musnah terbakar.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Semenanjung Korea akhirnya merdeka dari Jepang setelah 35 tahun penjajahannya. Dipenuhi rasa sukacita, Son Jae-hyeong meminta 3 orang ilmuwan dan politisi yang dapat mewakili era itu untuk menuliskan komentar di Gulungan Sehando. Dengan rasa haru setelah berhasil memperoleh kemerdekaan negara, mereka meninggalkan tulisan berisi pujian pada Son Jae-hyeong yang berhasil mengambil kembali Sehando dari tangan orang Jepang. Saat itu, Son Jae-hyeong memperbaiki gulungan sutra Sehando sekaligus meninggalkan ruang kosong di beberapa tempat gulungan tersebut. Sepertinya hal ini dilakukan karena Son ingin mencoba mendapatkan komentar lebih banyak, meskipun pada akhirnya gulungan itu sekarang tetap memiliki cukup banyak bagian yang masih kosong karena keinginan itu tidak terwujud.

Setelah itu, Son Jae-hyeong melepaskan beragam koleksi kaligrafi dan lukisannya, termasuk lukisan ini untuk mendanai pencalonan dirinya sebagai anggota parlemen pada tahun 1971. Sosok yang berhasil mendapatkan lukisan ini adalah Son Se-gi (1903~1983), seorang peng peng-usaha kelahiran Kaesong yang meraih kesuksesan besar dalam perdagangan ginseng. Pengamat warisan kebudayaan luar biasa ini menganggap karya Kim Jeong-hui sebagai sesuatu yang istimewa. Pewaris koleksi seninya adalah Son Chang-geun, yakni putra tertuanya yang tahun lalu dianugerahi Bintang Jasa Mahkota Emas.

Sehando yang menjadi kebanggaan banyak orang, harus berpindah-pindah tangan antara Korea, Tiongkok, dan Jepang selama dua abad, sampai akhirnya pada era digital kini karya ini dapat kembali lagi ke Korea.

Seniman media Prancis Jean-Julien Pous menawarkan interpretasi modern tentang Sehando dalam video hitam-putihnya, “Waktu Musim Dingin”.

Pada abad ke-20, tiga orang terkemuka Korea menambahkan komentar di bagian akhir gulungan itu.
Di bagian paling akhir dari gulungan panjang itu adalah penghormatan yang ditulis oleh Jeong In-bo (1893~1950), seorang sejarawan dan jurnalis Korea. Jeong mengungkapkan belas kasihnya untuk Kim Jeong-hui dan kegembiraannya atas perolehan kembali lukisan dan kemerdekaan bangsa.
Oh Se-chang (1864~1953), seorang politisi dan aktivis kemerdekaan, memuji keberanian penulis kaligrafi Sohn Jae-hyeong, yang menyelamatkan Sehando dari bahaya. Sohn pergi ke Tokyo pada tahun 1944, pada puncak Perang Dunia II, dan membujuk pemilik lukisan, Chikashi Fujitsuka, untuk mengembalikannya ke Korea.
Zhang Mu (1805~1849), seorang sarjana Tiongkok dan penulis “Catatan Kehidupan Pengembara di Mongolia,” meninggalkan komentar yang dimaksudkan sebagai surat kepada Kim Jeong-hui.



Interpretasi Prancis pada Abad ke-21
Pada akhir bulan November 2020, Museum Nasional Korea menggelar pameran khusus untuk merayakan pendonasian Gulungan Sehando bertajuk ‘Layaknya Musim Semi yang Datang setelah Musim Dingin Berlalu - Sehan( )•Pyeongan( )’. Lukisan ini memang pernah beberapa kali dipamerkan sebelumnya, tetapi baru kali ini seluruh bagian gulungannya dipamerkan secara bersamaan sejak tahun 2006. Ada satu hal yang khususnya sangat menarik perhatian di pameran yang akan berlangsung sampai tanggal 4 April ini, yaitu video intro hitam putih berjudul ‘Waktu Musim Dingin’. Video berdurasi tujuh menit ini memperlihatkan sepinya angin dan ombak di Jeju, lalu semut yang berbaris tanpa henti, rimbunnya hutan pinus, dan sebagainya.

Seniman media berkebangsaan Prancis bernama Jean- Julien Pous selaku produser video ini berkata pada sebuah wawancara dengan JoongAng Ilbo, “Sehando mungkin menyimpan beragam perasaan, tetapi menurutku rasa sepi adalah yang terbesar. Belakangan ini, kita semua hidup pada kota yang sepi akibat COVID-19, sehingga karya ini bisa menyentuh kita lebih dalam.” Karya dengan estetika presisi yang luar biasa dapat dianggap sebagai komentar lain terhadap Sehando yang tinggalkan oleh orang Prancis pada abad ke-21. Sehando yang memberikan inspirasi kepada banyak orang di Korea, Jepang, dan Tiongkok selama dua abad, ditafsirkan ulang sebagai material karya baru pada masa digital.

People

Hobi dan Hiburan Pun Beralih ke Daring

Lifestyle 2021 SPRING 44

Hobi dan Hiburan Pun Beralih ke Daring Pada tahun 2019, komunitas-komunitas kecil yang terbentuk karena hobi yang sama sangat populer di Korea. “Budaya komunitas” ini banyak diikuti khususnya oleh mereka yang berusia 30 tahunan. Sementara pandemi COVID-19 menghambat diadakannya pertemuan tatap muka seperti sekarang ini, mereka masih saling berhubungan satu sama lain. Sulaman adalah pilihan populer di Hobbyful, sebuah platform pembelajaran daring. Situs hobi dan hiburan menjamur ketika pandemi COVID-19 memaksa orang membatasi interaksi sosial dan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Lee, pekerja kantor berusia 30 tahunan, gemar menghirup aroma dan mencicipi anggur. Kenikmatannya berlipat ganda ketika aktivitas itu dilakukan bersama para pakar anggur. Pada tahun 2019, ia bergabung dengan komunitas kecil penggemar anggur untuk memperluas pengetahuannya. Komunitas ini, yang terdiri atas belasan laki-laki dan perempuan berusia sekitar 30 tahunan, bertemu setiap hari Jumat malam di Mapo, wilayah perumahan dan perdagangan di sepanjang Sungai Han di Seoul. Setiap minggu, para anggota itu berbincang ringan sambil mencicipi dan berdiskusi mengenai beragam anggur. Lee berencana pergi ke Swiss untuk menikmati sebotol anggur dengan keju yang enak. Ia memang belum pernah mengunjungi pegunungan Alpen, tetapi menghabiskan waktu bersama para penggemar anggur tampaknya lebih menarik. Ia juga bisa bersosialisasi. Para anggota komunitas itu seusia dengannya dan terdiri atas laki-laki dan perempuan dengan jumlah yang kurang lebih sama. Mereka menutup hari-hari kerja mereka dengan anggur yang enak dalam suasana yang hangat dan menyenangkan. Lalu, COVID-19 datang. “Tidak ada yang tahu kapan kami bisa bertemu lagi,” kata Lee. “Jika ini hanya mimpi, saya ingin segera terbangun.” Di tengah pembatasan interaksi sosial karena pandemi ini, vakumnya kegiatan Lee mencicipi anggur makin panjang dan kenangan akan kelompok ini pun memudar. Pada tahun 2021 ini, yang bisa dilakukannya adalah menikmati anggur seorang diri dan menonton acara-acara di Netflix. Kadang-kadang, ia tidak melakukan apa-apa: menghabiskan waktu dengan duduk saja di sofa setelah seharian bekerja. Membuat kue rumahan menarik perhatian luas di antara pelajar daring. Pelajaran daring diarahkan pada berbagai pengalaman langsung dengan seni dan kerajinan untuk pencapaian diri dan aplikasi rumah. Penggemar bersorak untuk tim mereka selama pertandingan Liga Bola Basket Korea 2020 antara Ulsan Hyundai Mobis Phoebus dan Changwon LG Sakers, yang diadakan pada tanggal 20 September 2020. Karena tidak dapat menonton secara langsung karena COVID-19, penggemar berkumpul dalam kelompok kecil untuk menonton secara daring selama musim olahraga. Budaya Komunitas Komunitas penggemar anggur merupakan salah satu komunitas yang terbentuk karena kesama-an minat pada tahun 2019. “Budaya komunitas” yang sangat populer ini meliputi beragam hobi, dengan anggota berusia 30 tahunan yang memang sedang dalam masa aktif. Komunitas membaca, film, wisata, memasak, dan musik merupakan komunitas sosial yang paling banyak peminatnya. Pada bulan April 2019, Embrain Trend Monitor, peneliti pasar lokal, mengadakan jajak pendapat nasional kepada 1.000 orang berusia 19~59 tahun mengenai partisipasi mereka dalam aktivitas sosial. Sebanyak 906 responden mengatakan bahwa mereka melakukan aktivitas reguler, dan 26 persen dari mereka mengatakan bahwa aktivitas itu termasuk “bertemu dengan orang-orang dengan minat dan hobi yang sama.” Kurang dari separuh jumlah responden mengatakan bahwa aktivitas sosialnya hanya bersama teman sekolah dulu atau teman kantor, yaitu sekitar 67,6 persen. Responden lain mengatakan bahwa budaya komunitass memang menarik. Sekitar 290 responden menekankan perlunya ikut serta dalam pertemuan yang fokus kepada hobi atau minat. Berwisata adalah aktivitas favorit yang dilakukan oleh orang-orang itu: 73,5 persen responden mengatakan bahwa mereka ingin ikut kelompok wisata. Urutan selanjutnya adalah komunitas olahraga (18,1 persen), komunitas bahasa asing (15,9 persen), komunitas relawan (15 persen), komunitas film (14,3 persen), dan komunitas membaca atau menulis (14,1 persen). Angka-angka itu tampaknya berhubungan dengan fenomena sosial mengenai individualisasi. Banyak hubungan personal berkisar tentang “saya,” dan hobi “saya” dan minat menjadi sesuatu yang penting dalam hubungan interpersonal ini. Meskipun kehangatan hubungan interpersonal dan bahasa tubuh sulit dirasakan melalui pertemuan virtual, opini tetap dapat disampaikan dengan mudah. Banyak anggota komunitas-komunitas itu masih menganggap pertemuan semacam ini “menarik” atau “bermanfaat.” Pertemuan Daring COVID-19 melahirkan tren baru dalam budaya sosial. Banyak orang tidak ingin hubungan mereka terputus begitu saja. Pertemuan dengan video (video conference) yang dilakukan oleh banyak kantor untuk mengatasi jarak sosial digunakan juga untuk tujuan yang tidak terkait dengan pekerjaan. “Kami tetap menjaga komunitas kami tetap hidup dengan Zoom, program untuk bertemu secara daring,” kata salah satu anggota komunitas membaca. Komunitas yang berbasis di Seoul itu membuat pengumuman kepada 67 anggotanya melalui aplikasi “Somoim,” yang berarti “pertemuan kecil.” Komunitas ini mematuhi peraturan pembatasan sosial berskala besar yang diberlakukan oleh pemerintah di wilayah ibu kota tahun lalu. Komu-nitas ini mengharuskan anggotanya bertemu secara daring dan bertukar pendapat mengenai buku yang dibacanya. Format yang sama juga dilakukan oleh komunitas menulis, yang biasanya bertemu secara tatap muka dan berbagi karya. Sebuah komunitas menulis yang berbasis di Seoul dengan anggota sebanyak 234 orang mengadakan pertemuan melalui Google Meet. Meskipun awalnya tidak biasa dengan pertemuan virtual, peserta mampu beradaptasi dengan cepat dalam lingkungan baru dan berbagi cerita yang sudah ditulisnya secara daring. Platform pertemuan sosial lain bagi para pehobi di antaranya “Munto,” “Moonraedang,” “Trevari” dan “Frip.” Mereka menyebut diri mereka “kelompok sosial.” Trevari, sebuah platform diskusi buku, merupakan pemain lama dalam komunitas sosial daring. Platform ini dibuka pada tahun 2015 dan saat ini terdiri dari 400 komunitas membaca buku dengan 6.000 anggota. Sebagian besar anggota membaca buku dan mengikuti empat pertemuan dalam sebulan. Frip adalah platform sosial untuk beragam hobi dan aktivitas di waktu senggang, seperti memasak, membuat tembikar, mendaki gunung dan DIY. Anggota komunitas memasak tidak hanya menyiapkan masakan, tetapi juga mendemonstrasikan cara memasak yang baik dengan tetap menjaga kebersihan dan mencegah penyebaran infeksi COVID. Aktivitas luring tetap dilakukan oleh komunitas memasak yang memerlukan peralatan dan bahan masakan yang khusus dan dapur. Komunitas olahraga seperti mendaki gunung dan trekking mematuhi peraturan mengenai pertemuan lebih dari empat orang. Dalam keadaan seperti ini, beberapa komunitas memasak dan olahraga menggabungkan program daring dan luring. Paket makanan dikirim ke rumah, sementara aktivitas seperti mendaki gunung atau berenang dibagikan secara daring dengan anggota lain. Penutupan ruang olahraga karena COVID-19 telah memaksa orang untuk berolahraga di rumah. Mereka memiliki banyak program latihan di rumah baru yang dapat diunduh ke ponsel mereka sebagai referensi. Pengalaman Pribadi Saya juga memutuskan ikut kelas daring. Saya tidak punya pengalaman merajut sama sekali, tetapi itu tidak menyurutkan niat saya memesan paket merajut tatakan cangkir teh dari Frip. Saya yakin bisa merajut tatakan cangkir teh setelah mengikuti instruktur yang mengajar secara daring. Namun, ternyata rasa frustrasi itu cepat datang; tangan instruktur bergerak terlalu cepat sehingga saya tidak bisa mengikutinya. Setelah berjuang dengan gulungan benang dan jarum rajut beberapa kali, saya pikir belajar merajut lebih baik dilakukan secara tatap muka. Rencana saya menikmati secangkir kopi dengan tatakan cantik yang saya rajut sendiri tinggal rencana karena saya tidak bisa merajut satu simpul pun. Lebih baik saya membeli tatakan cangkir saja. Para pemula lain mungkin merasakan frustasi juga, tetapi kadarnya tidak setinggi mereka yang sama sekali baru. Akhirnya benang itu saya simpan saja di laci untuk kelas setelah pandemi. Kelas tatap muka, tentu saja.

Pengabdian yang Tak Pernah Surut

An Ordinary Day 2021 SPRING 38

Pengabdian yang Tak Pernah Surut Tangan-tangan kasar itu bergerak dengan gesit di antara uap putih yang mengepul. Sedetik kemudian, pakaian-pakaian kusut itu seolah lahir kembali, rapi dan lembut. Sambil menyerahkan pakaian yang bersih dan hangat kepada pelanggan di binatunya, Oh Ki-nyeong tersenyum. Oh Ki-nyeong, pemilik Binatu Hyundai di Distrik Mapo, Seoul, memiliki 14 jam kerja di tokonya yang berukuran 26 meter persegi. Dia sangat sibuk di musim semi, ketika tiap rumah tangga mengeluarkan kain musim semi dan menyimpan pakaian musim dingin mereka pada saat yang bersamaan. “Menyobek sepotong roti yang baru dipanggang; menumpuk pakaian yang terlipat dengan rapi di lemari; merasakan sensasi baju baru yang menyentuh kepala ketika memakainya, aroma kainnya yang baru dan bersih – ini semua momen sederhana yang membuat saya bahagia,” tulis penulis Haruki Murakami. Tampaknya setiap negara punya cara mengekspresikan kedamaian semacam itu dan bagaimana cara mendapatkannya. Di Denmark, ada “hygge”; di Swedia ada “lagom”; dan di Prancis ada “au calme.” Baru-baru ini, istilah “sohwakhaeng,” akronim dari “sesuatu yang sederhana tapi menyenangkan,” masuk ke dalam leksikon bahasa Korea. Binatu – sebuah tempat di lingkungan pemukiman yang selalu buka dan mengeluarkan uap putih – menjadi sumber kehangatan lintas bangsa dan ras. Di Binatu Hyundai, sebuah binatu di daerah pemukiman di Jalan Shinsu-ro, Distrik Mapo, Seoul, pemiliknya, Oh Ki-nyeong, memulai hari-harinya pada pukul 8 pagi. “Ketika saya mulai bekerja, pertama-tama saya memilah cucian berdasarkan jenisnya, kemudian mencucinya. Begitu selesai, saya mengambil pakaian yang baru masuk dan mencucinya. Kemudian, tiba waktunya menyetrika. Pada pukul 9 malam, saya mengantarkan pakaian-pakaian itu. Setelah saya mengirimkannya ke sekitar lima kompleks apartemen di sekitar sini, biasanya sudah pukul 10 malam. “Musim semi adalah musim paling sibuk dalam setahun. Orang-orang mengeluarkan baju musim semi, tapi pada saat yang sama baju musim dingin belum mereka simpan kembali. Cucian menjadi banyak sekali. Di musim semi hari-hari kerja saya seolah tidak pernah selesai. Saya bekerja sampai pukul 1 atau 2 pagi, lalu tertidur. Kemudian, bangun dan bekerja lagi semampu saya.” Saat ini pakaian yang harus dicuci lebih sedikit karena keadaannya memang berubah. Pada tahun-tahun sebelumnya Oh melakukan 40 pengiriman setiap hari, tetapi sekarang tidak lebih dari 10. Namun, hari-hari kerjanya, yang dimulai pukul 8 pagi sampai pukul 10 malam, tetap tidak berubah, dan sebagian waktunya dihabiskannya sambil berdiri. Salah satu sikunya bengkok akibat menyetrika dengan satu tangan dalam waktu yang lama. “Ini risiko pekerjaan – tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya, bahkan dengan latihan teratur sekalipun,” paparnya. Oh merasakan rasa syukur untuk pelanggannya ke setiap potong pakaian yang dia tangani. Sebagian besar melayani pelanggan tetap, tokonya telah menjadi fasilitas lingkungan selama 20 tahun. Memulai Usaha Oh mulai mempelajari bidang usahanya ini dalam usia dua puluhan awal, ketika ia bekerja di perusahaan pakaian. Di tempat itu ia bertugas merapikan benang dan jahitan yang robek, hingga akhirnya ia menguasai keterampilan menjahit. Ia mendirikan sebuah pabrik pada usia 30 tahun dan menjalankannya sekitar lima tahun sebelum terjadi krisis keuangan Asia pada tahun 1997. “Jumlah pesanan anjlok, sehingga kami hanya bekerja dua atau tiga hari dalam seminggu. Kami tidak bisa membayar karyawan, jadi terpaksa menutup pabrik itu. Saat itu, adik laki-laki saya yang paling kecil mengelola binatu di Yongin, jadi saya ke sana untuk melihat barangkali saya juga bisa mencobanya. Binatu adalah pekerjaan yang bisa kita lakukan ketika kita bertambah tua, selama tubuh kita mampu. Pemikiran ini membuat saya berpikir untuk mencoba peruntungan di pekerjaan ini.” “Saat itu teman istri saya punya binatu. Saya dan istri saya bekerja di sana untuk belajar hal-hal penting dalam pekerjaan ini. Kami bekerja selama tiga bulan tanpa gaji, hari demi hari, belajar berbagai hal, bagaimana menjalankan mesin, dan sebagainya. Cara mencuci pakaian berbeda ter-gantung jenis bahannya. Ternyata pengalaman saya bekerja di pabrik pakaian sangat membantu.” Sebelum bisnis binatunya stabil, Oh punya beberapa pengalaman yang tidak menyenangkan. Lokasi pertamanya di Guro-dong, salah satu wilayah di Distrik Guro, tempat berdirinya banyak pabrik kain dan baju saat itu. Kurangnya pengalaman membuat Oh harus mengerahkan banyak usaha dengan hasil yang tidak maksimal. Menghadapi banyak tipe pelanggan juga sering kali menguras emosinya. Dalam waktu beberapa bulan, ia pindah ke pertokoan di kompleks apartemen. Pada saat itu ada peraturan tidak tertulis mengenai persaingan bisnis sejenis. Dengan tidak adanya binatu lain di lokasi itu, Oh menerima pakaian dari semua rumah tangga di kompleks itu, yang berjumlah 1.300 keluarga. Ia bertahan selama enam bulan sebelum akhirnya menyerah; pekerjaan itu terlalu berat baginya. Ketika mencari lokasi lain, ia mengingatkan dirinya sendiri untuk menahan diri dan tidak rakus. Hasilnya adalah binatunya yang sekarang. “Mapo ibarat rumah saya. Dulu ketika saya pertama kali mencoba membuka binatu, di tempat ini belum ada apartemen. Tetapi, ketika saya membuka binatu saya yang kedua, mulai dibangun beberapa apartemen dan kebetulan ada tempat kosong, jadi saya mengambilnya. Sekarang sudah sekitar 20 tahun sejak pertama kali saya membuka binatu di sini.” Walaupun volume pekerjaannya berkurang belakangan ini, hari-hari kerjanya tetap tidak mudah. Sejak kesehatan istrinya menurun, Oh melakukan semua pekerjaan operasional harian seorang diri. Toko selebar delapan pyeong (26,4 meter persegi) itu dipenuhi dengan tumpukan cucian dan beragam jenis mesin jahit dan semacamnya. Bahkan ketika ada waktu istirahat pun, tidak ada tempat untuk sekedar berbaring – jadi ia hanya beristirahat di kursi. Teknologi baru dapat membantu menyortir pesanan, tetapi Oh tak mau menyimpang dari memilah dan memeriksa label tulisan tangan untuk setiap pesanan, satu per satu. Lingkungan yang Berubah Generasi muda lebih menyukai aplikasi cuci yang mudah digunakan, atau mempercayakan pakaiannya kepada binatu waralaba yang relatif lebih murah dan lebih dikenal. Sementara itu, karena orang-orang mengurangi bepergian dan lebih banyak bekerja dari rumah karena pandemi COVID-19, jumlah cucian pun menurun. Dan, karena pekerjaan binatu ini sangat melelahkan, makin sulit mencari orang yang mau menekuni pekerjaan ini. Namun, Oh adalah orang yang mencintai pekerjaannya, yang memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada semua pelanggannya. Sebagian besar pelanggan yang mengunjungi binatunya adalah ibu rumah tangga berusia 40-an dan 50-an, yang merupakan pelanggan lama. Mereka memberikan ekspresi yang tidak dibuat-buat ketika menerima baju yang bersih seperti baru, dan kadang-kadang menunjukkan rasa terima kasihnya dengan hadiah kecil berupa kue atau buah. Tentu saja ada pula pelanggan yang kurang menyenangkan. Beberapa dari mereka mengeluhkan noda yang sebelumnya tidak ada pada pakaian mereka. Beberapa lagi sangat kasar tanpa alasan apa pun. Setelah bertahun-tahun menggeluti pekerjaan ini, Oh bisa melihat bahwa dirinya punya tempat di hati pelanggannya. Seorang laki-laki pelanggannya yang berusia sekitar 40-an, biasa membawa satu tas yang penuh dengan segala macam pakaian mulai dari pakaian dalam, kemeja, celana, bahkan handuk. Handuk-handuk lembab itu tentu baunya sangat menyengat. Lalu, pada suatu hari ketika binatu milik Oh tutup, ia membawa pakaiannya ke binatu lain – dan kembali lagi ke binatunya sambil mengeluh bahwa binatu lain terlalu mahal. Berharap masa sulit ini segera berlalu, Oh mengangkat setrika besinya sekali lagi dan siap memberikan kebahagiaan kecil kepada pelanggannya. Jerih Payah Seorang Master Bergulat dengan pakaian sepanjang hari, sangat wajar jika sensitivitas Oh terhadap tren pakaian juga tajam. Ketika banyak pelanggan datang dengan gaya pakaian baru, ia berpikir, “Gaya ini pasti sedang digemari sekarang.” Dan, karena teknik mencuci pakaian harus sesuai dengan bahannya, sangat penting baginya untuk belajar dan tahu banyak hal. Jika punya waktu di akhir pekan, Oh mengunjungi toko-toko pakaian untuk mengikuti perkembangan gaya dan harga barang-barang terbaru. Dulu, orang-orang memakai banyak baju yang perlu dicuci di binatu. Sekarang, baju yang fungsional makin banyak ragamnya, misalnya baju olahraga yang beragam jenisnya. Fungsionalitas baju-baju itu memerlukan waktu cuci yang makin singkat dan sabun cuci yang netral. Pakaian bisa rusak jika kita tidak tahu perlakuan khususnya. Oh, yang bekerja dari hari Senin sampai Sabtu dan menghabiskan hari Minggu di luar untuk melihat-lihat pakaian, membuat kita bertanya-tanya, apakah ia punya waktu untuk menikmati hobinya? Ia tersenyum lebar dan mengeluarkan catatan kecil. “Saya sedang menyelesaikan trek bersepeda lintas alam dengan rute yang berbeda-beda. Setiap jalur punya pos pemeriksaan, dan Anda akan mendapatkan stempel jika sampai di sana. Selama beberapa waktu ini saya bersepeda di hari Minggu. Saya berangkat pagi sekali dengan sepeda, dan kembali ke rumah naik bus. Dengan begitu saya bisa menempuh jalur yang panjang dalam waktu yang singkat. Saat ini hanya tinggal satu jalur lagi. Ini adalah cara saya berolahraga sambil menikmati suasana spiritual di hari libur – sungguh suatu kebahagiaan yang luar biasa.” Dan, sambil berharap masa sulit ini segera berlalu, Oh mengangkat setrika besinya sekali lagi dan siap memberikan kebahagiaan kecil kepada pelanggannya.

Laure Mafo Terbuai Mantra Pansori

In Love with Korea 2021 SPRING 44

Laure Mafo Terbuai Mantra Pansori Tidak semua orang yang tahu apa yang diinginkan di dalam hidupnya. Laure Mafo salah seorang yang beruntung. Ia hanya perlu mendengar Pansori sekali saja untuk tahu panggilan jiwanya. Tanpa ragu, ia memutuskan pindah ke Seoul, tempatnya mengasah keterampilan menyanyi genre musik vokal Korea tradisional ini dengan harapan bisa tampil di seluruh dunia. Ketika Laure Mafo bekerja di Samsung Electronics di Paris, ia mengangankan membeli rumah dan menjadikannya sebagai tempat penitipan anak. Sampai suatu saat ia menonton pertunjukan Pansori. “Luar biasa. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama,” kenangnya. Ia terpesona dengan lagu naratif Korea tradisional itu, dan tersenyum sepanjang pertunjukan seraya berkata kepada dirinya sendiri, “Bagus sekali. Lagu ini pas buat saya.” Setelah pertunjukan itu selesai, ia mendekati penyanyinya, Min Hye-sung, dan bertanya bagaimana ia bisa belajar menyanyi Pansori. Min, yang saat itu membawakan petikan dari “Chunghyangga” (Kidung Chunhyang), yang dibuat berdasarkan kisah cinta yang sangat terkenal antara pemuda dari kalangan bangsawan dan gadis biasa, mengatakan Korea adalah tempat yang paling tepat untuk mulai belajar. Serta-merta, Mafo, yang mendalami akuntansi di bangku kuliah dan sangat menggemari K-pop, bertanya, “Kalau saya ke Korea, maukah Anda mengajari saya?” Pada tahun 2017, setelah dua tahun mempersiapkan segala sesuatunya dan meyakinkan keluarga dan teman-temannya bahwa dirinya tidak gila, Mafo tiba di Seoul. Min sudah memperingatkan bahwa 10 tahun adalah waktu minimal untuk berlatih. Tapi, untuk menenangkan hati ibunya, Mafo mengatakan akan “mencoba satu tahun saja.” Walaupun bukan orang yang suka bertualang, Mafo tidak khawatir. “Saya bisa merasakan panggilan itu,” katanya. Seperti yang sudah dijanjikan, Mafo mulai belajar kepada Min, penyanyi “Heungbuga” (Kisah Heungbu), salah satu dari lima Pansori dan merupakan Warisan Budaya Tak-benda Korea. Banyak sekali yang harus dipelajarinya. Karena penceritaan merupakan unsur utama dalam Pansori, memahami makna liriknya sangat penting. Untuk itu, langkah pertama yang dilakukannya adalah belajar bahasa Korea dan tulisan bahasa Cina. Upaya Laure Mafo untuk menjadi pemain Pansori tidak hanya membutuhkan waktu berjam-jam dalam mempelajari teknik-teknik genre musik bercerita, tetapi juga studi bahasa Korea yang intens untuk memahami lagu-lagu dan mempertajam pelafalannya ke tingkat penuturr asli. Latihan, Lagi dan Lagi Sebelum COVID-19, pelajaran, latihan, konser yang diadakan sesekali dan penampilan di televisi mengisi hari-hari Mafo, yang biasanya dimulai pukul 11 pagi sampai 9 malam. Ia merasa harus bekerja dua kali lebih berat daripada orang lain; melafalkan lirik dengan baik saja berat baginya, belum lagi memahami maknanya. Untuk pelafalan yang benar, ia berlatih dengan pulpen yang dipasangnya di kedua sisi mulutnya selama seminggu. “Mungkin saya tidak bisa menyanyi seperti orang Korea, tapi saya ingin menjadi penyanyi profesional,” kata Mafo, 36 tahun, yang memiliki suara bergetar yang berat. Dalam karirnya yang masih seumur jagung, momen yang mengesankan terjadi pada tahun 2018 ketika ia menyanyi di Istana Élysée di Paris dalam pertemuan puncak antara Presiden Korea Moon Jae-in dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Tapi, perempuan Kamerun berkewarganegaraan Prancis ini menganggap penampilannya yang lain pada tahun 2019 lebih istimewa: ia tampil di Kedutaan Besar Korea di Yaoundé, ibu kota Kamerun, bersama dengan gurunya dan maestro-maestro lain. Acara itu dihadiri juga oleh keluarganya dan pejabat-pejabat lokal. “Ibu saya mengatakan, dia tidak bisa benar-benar melihat saya tampil,” kata Mafo. “Dia melihat orang lain untuk mengetahui bagaimana reaksi mereka melihat penampilan saya. Ia sangat bangga.” Kisah setiap lagu dan pesan yang terkandung di dalamnya memikat hati Mafo. Pansori favoritnya adalah “Heungbuga,” yang mengisahkan cerita mengenai seorang laki-laki yang miskin tapi baik hati dan kakak laki-lakinya yang rakus. “Lagu ini tentang keluarga. Setiap keluarga punya masalahnya masing-masing. Keluarga saya juga. Dan, saya percaya kebaikan akan membuahkan kebaikan juga.” Tujuan utamanya bukan hanya menguasai “Heungbuga,” tapi ia juga berharap bisa menampilkan lagu sepanjang tiga jam itu di seluruh dunia, dan juga mengajarkan Pansori kepada anak-anak. Ia ingin membantu anak-anak mengekspresikan diri mereka sendiri melalui musik ini, sama seperti dirinya. “Di Paris, saya sering kali merasakan depresi. Saya tidak tahu mengapa saya tidak bisa mengekspresikan perasaan saya,” katanya. “Tapi ketika menyanyikan Pansori, saya merasakan pikiran saya jernih sekali. Kelak, saya juga ingin mengajarkan musik yang indah ini kepada anak-anak saya sendiri.” Hal itu membuat Mafo kembali memikirkan ibunya. Ia berbicara kepada ibunya setiap hari, dan setiap kali ibunya bertanya apakah ia sudah memiliki kekasih. Setiap kali pula ia menjawab, “Belum.” Sebagai duta kehormatan untuk Yayasan Korea- Afrika, Mafo suka mengenakan hanbok yang mencerminkan akar Kamerun dan budaya Korea yang diadopsinya. Dia memadukan jaket yang menampilkan desain Kamerun yang unik dengan rok merah bergaya tradisional sebagai gaun formal Korea. Tahun Pandemi Tahun 2020 merupakan masa yang sangat sulit bagi Mafo. Tidak ada pertunjukan yang boleh diadakan, dan visa yang dimilikinya tidak memungkinkannya bekerja di bidang selain seni. Ia mencoba menjangkau penontonnya secara online melalui channel pribadinya di YouTube, “Laurerang Arirang” (artinya “Arirang bersama Laure”), dan channel belajarnya, “Bonjour Pansori,” yang berisi pelajaran dari gurunya yang ia terjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Memang, tidak ada pertunjukan artinya tidak ada pemasukan; tapi Mafo masih merasa beruntung. Pemilik rumah yang ditempatinya sangat membantu, dengan membebaskan uang sewa dan menyediakan kebutuhannya. Ia bahkan memberi Mafo hanbok (baju tradisional Korea) untuk dipakai sebagai kostum panggungnya. Mafo memanggilnya “eonni,” yang artinya “kakak perempuan.” Menurutnya hubungan dan bahasa yang “sopan” di Korea membuatnya bingung dari waktu ke waktu, tapi ia mengatakan pengalamannya di Korea sebagian besar sangat menyenangkan berkat orang-orang baik. “Teman-teman Korea saya di Paris juga sangat membantu. Mereka membantu saya dengan hal-hal mendasar seperti mencari tempat tinggal dan membuka rekening di bank.” Ia merindukan makanan Prancis seperti keju raclette dan éclairs, tapi ia sudah menemukan makanan penghiburnya di Korea – sup buntut sapi, makanan penawar mabuk yang sangat populer dan sangat disukainya walaupun ia tidak minum minuman keras. Tidak semuanya suram di tahun 2020; Mafo diterima di Universitas Seni Nasional Korea yang bergengsi. Ia senang sekali, meski sedikit khawatir dengan “menjadi mahasiswa lagi dan harus menerjemahkan segalanya.” Tapi, kekhawatiran terbesarnya adalah bagaimana ia bisa membayar biaya kuliah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mengalami kesulitan keuangan. “Ketika tampil di panggung, saya ingin penonton melihat saya sebagai penyanyi Pansori, bukan sebagai orang asing yang sedang menyanyikan Pansori.” Pantang Menoleh ke Belakang Mafo tidak menyesal sama sekali. Hanya sekali saja ia pernah mempertanyakan pilihannya. Itu terjadi pada saat latihan Pansori intensif pertama dari dua latihan yang diadakan setiap tahun, yang dikenal dengan san gongbu (secara harfiah berarti “belajar di gunung”). “Rasanya mau mati. Kami mulai pada pukul 5 pagi dan berlatih sepanjang hari. Berlatih, lalu makan; berlatih, lalu makan lagi,” kenangnya. “Saya sempat berpikir, ‘Apa yang saya lakukan di sini?’ Tapi, setelahnya saya seolah berkata kepada diri sendiri, ‘Wow, kemampuan saya menyanyikan Pansori benar-benar meningkat.’” Ia mengakui latihan di gunung sangat penting untuk belajar teknik yang rumit dan suara yang tepat. Mafo punya satu tantangan lagi dalam hidupnya: menyanyi Pansori dalam bahasa Prancis. Kadang-kadang ia menyanyikannya dalam bahasa Korea dan Prancis, yang menurutnya lebih sulit. “Ketika menyanyi dalam bahasa Korea, tekniknya berbeda,” jelasnya. “Saya merasa seolah sedang bercerita ketika menyanyi dalam bahasa Korea. Ketika menyanyi dalam bahasa Prancis, saya mera-sa sedang menyanyi. Saya sedang belajar supaya terdengar seperti bercerita juga ketika menyanyi dalam bahasa Prancis.” Dalam bahasa apa pun ia menyanyi, harapannya tampak dalam pernyataannya: “Ketika tampil di panggung, saya ingin penonton melihat saya sebagai penyanyi Pansori, bukan orang asing yang sedang menyanyi Pansori.” Tahun ini, ia berharap bisa tampil lagi. Ia juga ingin mendalami “Heungbuga” dan mencoba menyanyikan lagu lain yang kurang dikenal yaitu “Sugyeong nangjaga” (Kidung Gadis Sugyeong). Lagu ini berkisah tentang cinta dan hanya dibawakan oleh beberapa penyanyi saja. Salah satu di antaranya adalah Min Hye-sung. “Suatu hari, jika ada satu orang saja yang merasakan perasaan yang sama seperti yang saya rasakan ketika pertama kali saya mendengar guru saya menyanyi – satu orang saja yang mengatakan, ‘Wow, saya ingin belajar menyanyikannya juga,’ tentu akan luar biasa,” kata Mafo.

‘Arirang yang Terpilu dan Terindah di Dunia’

Interview 2021 SPRING 48

‘Arirang yang Terpilu dan Terindah di Dunia’ Penyanyi jazz terkenal yang punya ikatan kuat dengan Eropa, Nah Youn-sun memiliki karir yang panjang dan aktif. Selama berada di Korea lebih lama karena COVID-19, Nah berkesempatan berkolaborasi dengan musisi dari berbagai negara untuk menggarap album “ARIRANG, The Name of Korean vol. 8,” yang dirilis dalam bulan Desember 2020. Nah Youn-sun, pengarah musik “ARIRANG, The Name of Korean vol.8,” sebuah album yang mengeksplorasi interpretasi kontemporer akan lagu rakyat Korea yang paling terkenal, bekerja dengan pemain geomungo Heo Yoon-jeong di sebuah studio rekaman. Alih-alih membatasi para musisi, mengerjakan album dari jarak jauh justru mendorong konsentrasi yang lebih dalam satu sama lain dan keseluruhan suara. Bagi Nah Youn-sun, “Arirang” adalah lagu yang memotivasi untuk bangkit kembali di saat-saat sulit. Menyaksikan Nah Youn-sun tampil di atas panggung, kita akan merasakan penyanyi itu ibarat instrumen yang unik dan tiada banding. Melodi yang sampai ke telinga pendengarnya halus dan tajam, meresap ke dalam hati mereka. “Momento Magico,” “Asturias,” “Breakfast in Baghdad,” “Hurt” – semuanya merupakan musik indah yang dihasilkan Nah dengan pita suaranya. Nah, yang dikenal sebagai salah satu penyanyi jazz Eropa terkemuka, secara rutin mengisi panggung festival jazz dunia yang bergengsi dan meraih beberapa penghargaan termasuk Penghargaan Ordo Seni dan Kesusateraan dari Kementerian Budaya Prancis. Sejak menandatangani kontrak dengan perusahaan rekaman Jerman ACT pada tahun 2008 dan kemudian dengan perusahaan Amerika Warner Music Group pada tahun 2019, Nah membuat eksistensinya makin mantap. Dibanding musik blues Amerika, tampaknya “Arirang,” lagu rakyat Korea yang sangat terkenal baik di dalam maupun di luar negeri, lebih memengaruhi musik penyanyi jazz yang berdiam di Paris ini. “Ketika menyanyikan lagu yang sedih, saya membuatnya terdengar jauh lebih pilu daripada versi aslinya,” renungnya. “Anda tahu kan bagaimana orang-orang Korea; ketika kami kehilangan seseorang yang sangat dekat, kami menangis seolah dunia ini berakhir. Perasaan itulah yang saya bawa ke dalam lagu saya.” Album ketujuh dan kedelapan Nah, yang berjudul “Same Girl” dan “Lento,” memasukkan juga versi “Arirang.” Nah juga membawakan lagu tersebut dalam acara penutupan Olimpiade Musim Dingin Sochi tahun 2014. Saat itu, dia juga berperan sebagai sutradara musik untuk “ARIRANG, The Name of Korean vol. 8,” yang keseluruhan komposisinya dibuat dari lagu rakyat, yang dalam sejarahnya punya beberapa variasi. Album sepanjang 35 menit ini berisi enam versi baru “Arirang”, yang merupakan hasil kolaborasi para seniman dari negara-negara yang berbeda. Misalnya, salah satu komposisi itu dibuat oleh pemain gayageum Park Kyung-so dan pemain saksofon Inggris Andy Sheppard, dan komposisi lain dikerjakan oleh pemain geomungo Heo Yoon-jeong dan peniup terompet dari Norwegia Mathias Eick. Apa yang berbeda dari versi “Arirang” ini? Kita semua dalam masa sulit tahun lalu karena COVID-19. Musisi, produser, agen – semua mengalami masa sulit itu karena pertunjukan secara langsung tidak bisa diadakan. Tapi, tak satu pun dari kami mengatakan, “Tidak ada yang bisa kita lakukan.” Justru, yang sering kali kami katakan adalah “Tetap kreatif” atau “Terus kreatif.” Saya belajar banyak dari sikap positif ini. Saya tidak ingin menyanyikan lagu “Arirang” yang ceria tapi berisi harapan palsu. Saya mendorong diri saya dan teman-teman untuk mencoba dan membuat “Arirang” yang paling pilu dan paling indah di dunia, dengan melihat keadaan dunia saat ini. Semua orang setuju dan mau mengerjakan proyek ini, dan pada akhirnya, proses pembuatan album ini sangat terapeutik bagi kami semua. Anda ingin bekerja sama dengan tipe musisi seperti apa? Saya ingin bekerja sama dengan musisi yang memang mau berkolaborasi, dan mereka yang bisa menangkap makna “Arirang.” Andy Sheppard, mislanya, sudah bekerja sama dengan Park Kyung-so dalam “Festival K-Music” di Inggris. Mathias Eick dan saya sudah melakukan tur bersama, jadi saya tahu dia benar-benar seorang pemain instrumental yang multitalenta. Terompet, contrabass, drum, piano, bahkan instrumen elektronik – semua bisa dimainkannya. [Dalam tur keliling Eropa yang sering dilakukannya selama bertahun-tahun, Nah memainkan peran penting dalam lahirnya versi jazz “Arirang.” Misalnya, dalam album yang dibuat pada tahun 2017 “Good Stuff,” Iiro Emil Rantala dari Finlandia (piano) dan Ulf Wakenius dari Swedia (gitar) memasukkan satu nomor berjudul “Seoul,” yang dibuat berdasarkan melodi “Arirang” versi regional Miryang. Mulai awal tahun 2000-an, Wakenius lebih dekat dengan “Arirang” dari Mir-yang, Jindo, dan Jeongseon ketika bekerja sama dengan Nah.] Bagaimana musisi asing melihat “Arirang”? Awalnya mereka sangat suka dengan melodinya. Saya sudah memainkan versi “Arirang” dari banyak daerah untuk Samuel Blaser, pemain trombon Swiss yang bekerja sama dalam pembuatan “ARIRANG-19” bersama duo CelloGayageum. Ia begitu terpesona dan mengatakan bahwa ia mendapatkan banyak sekali inspirasi. Ia juga mengirimi saya sebuah komposisi garapannya. Menurut Anda dari mana kekuatan itu berasal? Menurut saya kekuatan itu berasal dari minyo, atau lagu rakyat. Dan, bagi orang asing, tentu saja, ini sesuatu yang baru. Seperti berasal dari musik yang sama sekali baru, jadi pasti sangat menarik. “Arirang” memiliki nada yang sederhana, tapi ada sesuatu yang khas dalam setiap ritmenya. Ini memungkinkan setiap musisi memainkan apa pun yang menurut mereka menarik – khususnya para musisi jazz. Ketika musisi jazz merasakan seratus hal yang berbeda, mereka bisa mengekpresikannya dengan seratus cara yang berbeda, satu demi satu. Mereka sangat tertarik dengan tanda birama yang tidak teratur dengan 5 atau 7 ketukan. Album ini dibuat jarak jauh. Apakah ada masalah dengan itu? Kami berjauhan secara fisik satu sama lain dan pandemi membuat kami tidak mungkin berkumpul di suatu tempat. Jadi, kami mulai dengan musisi Korea, yang masing-masing membuat dan mere-kam interpretasi mereka mengenai “Arirang.” Kemudian, mereka mengirimkannya – langsung atau melalui saya – kepada kolaboratornya di luar negeri melalui surel, aplikasi pesan di internet atau media sosial. Kemudian, musisi-musisi yang berada di tempat yang jauh itu mendengarkannya dan mengirimkan komposisi mereka sendiri. Ini bukan sesuatu yang mudah dikerjakan dalam satu langkah saja. Kami melakukan proses ini berulang kali, menggarap kembali tiap komposisi sampai semua orang puas dengan hasilnya. Kecuali soal perbedaan waktu, proses ini seperti proses kolaborasi penulisan lagu biasa. Beberapa komposisi dalam album ini saya selesaikan proses akhirnya sendiri. Bagaimana rasanya tahun 2020 tanpa bepergian seperti biasanya? Saya tidak pernah punya banyak waktu bersama orang tua saya. Sebelumnya, rumah saya di Korea seperti hotel karena saya hanya tinggal sebentar lalu pergi lagi. Jujur saja, saya pernah depresi dan cemas. Tiba-tiba saya berpikir, “Apa yang sudah saya capai dalam hidup ini?” Saya agak sensitif, dan situasinya benar-benar membuat saya sakit. Beberapa orang di sekitar saya mengatakan bahwa dalam waktu-waktu seperti itu media sosial bisa membantu, tapi saya tidak melakukannya. Pada awal pandemi, alih-alih mendengarkan musik, saya hanya fokus membereskan dan meng-atur sesuatu dan menghabiskan waktu bersama orang tua saya. Ketika saya mulai mendengarkan musik lagi, saya mendengarkan musik Eropa. Kadang-kadang, setiap album terasa seperti lagu pengiring film. Saya suka mendengarkan Stevie Wonder atau Herbie Hancock, tapi duduk sendiri di rumah dan mendengarkan semua album itu membuat saya berpikir bahwa musik juga bisa menjadi sebuah cerita yang panjang. Hal seperti ini menjadi pertimbangan dalam menentukan urutan lagu-lagu dalam suatu album, tapi kesempatan ini membuat saya benar-benar mengerti betapa pentingnya urutan itu. Ini juga merupakan suatu periode di mana saya benar-benar merasakan seberapa besar kekuatan penyembuh yang sebenarnya dalam seni dan musik. Selama menyutradarai album ini, saya mengatakan kepada semua orang, “Jangan memperpendek lagu-lagu ini. Buatlah sepanjang mungkin, tuangkan apa yang ingin kalian sampaikan.” Para artis yang berkolaborasi untuk “ARIRANG, The Name of Korean vol. 8”adalah: (dari kiri, baris pertama) pemain geomungo Heo Yoon-jeong, drummer Michele Rabbia (Italia), pemain saksofon Andy Sheppard (Inggris), vokalis Minyo Gyeonggi Kim Bora (Korea); (baris kedua) pemain akordeon Vincent Peirani (Prancis), pemain geomungo Heo Yoon-jeong, pemain flute Joce Mieniel (Prancis), pemain daegum Lee Aram (Korea); (baris ketiga) vokalis Pansori Kim Yulhee (Korea), pemain gayageum Park Kyungso (Korea), pemain terompet Mathias Eick (Norwegia), dan perkusi Hwang Min-wang (Korea). Tidak dalam foto adalah duo Korea Cello Gayageum dan pemain trombon Swiss Samuel Blaser. “‘Arirang’ memiliki nada yang sederhana, tapi ada sesuatu yang khas dalam setiap ritmenya. Ini memungkinkan setiap musisi memainkan apa pun yang menurut mereka menarik – khususnya musisi jazz.” Sepertinya album ini bisa dipakai untuk mengiringi aktivitas seperti yoga dan olahraga di rumah. Tentu saja. Anda tidak harus fokus kepada apa yang Anda dengar. Ini musik yang menyenangkan untuk menemani Anda mencuci piring, santai di rumah, atau ketika tidak melakukan apa pun sama sekali. Untuk mereka yang punya waktu, saya juga merekomendasikan mendengarkannya lebih dalam dengan konsentrasi penuh. Nanti akan terasa seperti berada dalam narasi sebuah film feature. Apa rencana Anda pada tahun 2021? Saya sedang dalam proses mempersiapkan album kedua bersama Warner Music. Album ini merupakan album ke-11 dan saya berharap segera mulai mengerjakannya di New York dan L.A. Kami berencana masuk ke studio rekaman pada bulan April. Saya sudah memikirkan untuk kembali menggarap komposisi akustik, tapi belum memutuskan kapan. Saya ingin juga membuat format musik baru. Jika situasi COVID-19 membaik, ada sekitar 10 pertunjukan di Eropa yang sudah kami jadwalkan dalam bulan Maret. Saya sangat berharap tahun ini lebih menyenangkan bagi musisi, seniman, dan semua orang.

Kamping Mobil sebagai Alternatif Wisata

Lifestyle 2020 WINTER 39

Kamping Mobil sebagai Alternatif Wisata Kamping dengan mobil menjadi aktivitas wisata yang populer di Korea karena murah dan praktis, asal Anda tidak keberatan tidur di mobil. Aktivitas ini makin marak karena pandemi COVID-19 dan perlunya menjaga jarak dengan orang lain. Sebuah kemah mobil berada di pinggir Danau Chungju. Kemah mobil memungkinkan relaksasi sederhana, berbeda jauh dengan berkemah formal, yang sering memiliki daftar tunggu untuk mendapatkan izin. © Lee Jung-hyuk “Pertama, dorong kursi di baris pertama ke arah depan sejauh mungkin. Kemudian, lipat kursi di baris kedua,” kata seorang YouTuber sambil menunjuk ke dalam mobilnya. Dalam kurang dari 30 detik, lantai baru di dalam mobilnya sudah siap. Lalu, ia mengukur untuk memastikan kasurnya bisa dipasang di tempat itu. Panjang dua meter dan lebar satu meter. Semuanya oke. “Siapa pun akan merasa nyaman di tempat ini,” katanya sembari tersenyum. “Aktivitas ini menjadi sangat menyenangkan jika Anda pergi bersama kekasih Anda.” Video ini, yang diunggah di YouTube pada bulan Juli tahun lalu, ditonton lebih dari 100.000 kali sampai bulan Oktober ini. Kamping dengan mobil ibarat “bivak di dalam mobil.” Gaya kamping ini hanya memerlukan beberapa peralatan, kemauan menerima keadaan yang kurang nyaman dan fasilitas yang minim. Cara ini tidak hanya menarik bagi mereka dengan anggaran pas-pasan; tapi juga bagi mereka yang tidak suka direpotkan dengan reservasi dan perencanaan. Keanggotaan dalam Klub Kamping Mobil, komunitas online penyuka kamping dengan mobil terbesar Korea, melonjak dari hanya sekitar 80.000 orang di akhir bulan Februari menjadi sekitar 170.000 menjelang awal bulan September. Wabah COVID-19 membuat keanggotaan klub ini meningkat dua kali lipat. Kamping dengan mobil membantu melepaskan diri dari stres emosional dan mental menghadapi pandemi dan berada di luar ruangan sangat kondusif dalam menjalankan aturan mengenai jarak sosial. Seorang YouTuber perempuan berhasil menarik 400.000 pengunjung untuk videonya mengenai kamping dengan mobil ini. Ia mengatakan, bagi mereka yang ingin menikmati waktu sendiri, aktivitas ini sangat tepat. Pada bulan Maret lalu, karena Korea meningkatkan kewaspadaan dalam penanggulangan kasus COVID dan jarak sosial menjadi norma baru, sebuah episode “Saya Tinggal Sendiri,” acara televisi populer di MBC TV, menampilkan se-orang aktor muda yang juga anggota boy band kamping dengan mobil di taman di pinggir laut. Setelah episode ini ditayangkan, “kamping dengan mobil” muncul di daftar pencarian kata kunci di berbagai portal dan unggahan dengan respon yang antusias dapat dijumpai di media sosial. Ratusan ribu hasil pencarian dapat ditemukan jika Anda mencarinya dengan tagar “kamping mobil” di Instagram. Bagian dalam kendaraan untuk olahraga yang disesuaikan dengan selera kemah mobil. Alas tidur sangat penting. Setelah itu, interiornya bisa disesuaikan atau didekorasi sesuai kebutuhan berkemah. © Kim Nam-jun SUV lebih disukai untuk kemah mobil karena memiliki ruang interior yang luas. Pemilik mobil penumpang biaa melipat kursi mereka dan mentolerir kenyamanan yang lebih pas. © gettyimages Mereka yang menikmati kamping dengan mobil bisa berangkat kapan saja mereka mau. Mereka bisa parkir mobil di mana saja, baik di area perkemahan resmi maupun di hutan wisata. Dan, mereka tidak perlu melakukan reservasi. Bangun, Langsung Berangkat Spontanitas dan kemudahan adalah fitur utama yang membuat aktivitas wisata mobil makin digemari. Penyuka kamping dengan mobil bisa berangkat kapan saja mereka mau. Ketika hari-hari kerja selesai pada hari Jumat, mereka membawa mobilnya ke tempat yang indah dan menikmati udara segar keesokan harinya. Mereka bisa memarkir mobil di mana saja, baik di area yang disediakan oleh perkemahan resmi atau di hutan wisata. Dan, mereka tidak perlu melakukan reservasi. Kamping tradisional dengan tenda dan peralatan lengkap memang belum kehilangan daya tariknya. Namun, kita harus antre untuk masuk ke wilayah perkemahan yang terdaftar. Mendapatkan reservasi di tengah permintaan yang tinggi perlu perencanaan dan komitmen, dua hal yang dihindari para penyuka kamping dengan mobil. Sebagian besar penyuka kamping mobil lebih suka taman di pinggir laut atau sungai yang dilengkapi dengan toilet umum. Ada banyak tempat berkemah dengan fasilitas semacam ini. Namun, banyak tempat seperti ini mulai membatasi akses karena banyak masalah muncul dari kamping liar dan aktivitas memasaknya. Dalam beberapa kasus, banyak orang yang kamping dengan mobil datang pada saat yang bersamaan dan merusak lingkungan. Ada juga kekurangan lain. Misalnya, kasur udara tidak senyaman kasur standar, sehingga kamping mobil ini tidak ideal bagi mereka yang sensitif dalam masalah tidur. Masalah lain yang berpotensi muncul terkait tidur adalah permukaan tanah yang datar. Pada tahun 2020, ada peraturan yang memperbolehkan mengubah mobil khusus penumpang menjadi kendaraan kamping, tapi tidak selalu mudah menemukan permukaan tanah yang datar. Dan, tentu saja, kamping dengan mobil bukan sesuatu yang menarik bagi mereka yang harus memulai harinya dengan mandi pagi. Mereka yang melakukan kamping dengan mobil juga harus siap dengan suhu ekstrim karena sangat berisiko menyalakan penyejuk udara atau pemanas dalam waktu yang lama. Pangsa Pasar Industri mobil dan peralatan aktivitas luar ruangan menawarkan solusi untuk masalah ketidaknyamanan ini. SUV merupakan mobil favorit untuk penumpang dan peralatan, karena selain memberikan ruang untuk tidur, mobil ini memberikan perlindungan dari cuaca. Namun, penjualan truk pikup juga meningkat tajam, dari sekitar 22.000 unit pada tahun 2017 menjadi 42.000 pada tahun 2018, menurut laporan dari Asosiasi Produsen Otomobil Korea. Dalam periode yang sama, nilai industri kamping domestik meningkat sekitar 30 persen dari 2 triliun won menjadi 2,6 triliun won, atau sekitar US$145 miliar menjadi US$189 milyar, menurut Kantor Aktivitas Luar Ruangan dan Kamping Korea. Analisis data penjualan selama periode bulan Juni-Juli yang dilakukan oleh mal daring SSG.com menunjukkan bahwa penjualan tenda mobil (yang bisa dengan mudah dipasang di bagian belakang mobil) dan kasur udara melesat 664 persen dan 90 persen dari dua bulan sebelumnya. Penjualan kotak pendingin, peralatan kamping penting lain, naik lebih dari sepuluh kali lipat. Menurut superstore Lotte Mart, penjualan kursi dan meja kamping naik 103,7 persen, kantong tidur dan kasur udara 37,6 persen, tenda 55,4 persen, dan peralatan memasak untuk kamping sebesar 75,5 persen selama jangka waktu yang sama. Tentu saja, jumlah dan kualitas peralatan ini disesuaikan dengan keperluan atau kebutuhan masing-masing orang, tergantung level kenyamanan yang diinginkan. Sebagian dari mereka hanya perlu beberapa bungkus makanan siap saji dan sebotol anggur untuk berkemah. Tetapi, selalu ada godaan untuk meningkatkan kenyamanan pada aktivitas berikutnya. Seorang YouTuber laki-laki mengaku ia berhenti melakukan kamping mobil karena keinginannya untuk membeli peralatan-peralatan itu tak terbendung lagi.

Review

Bangunan Estetika Beton

Art Review 2019 SUMMER 39

Bangunan Estetika Beton Desain hotel Healing Stay Kosmos ini terinspirasi dari tempatnya. Arsitek yang merancangnya sangat mengerti bahwa ketika diamati dari pulau di sisi timur wilayah Korea, bintang, bulan, matahari dan cakrawala tampak jauh lebih mangagumkan. Lalu, terbersitlah keinginan merancang struktur bangunan yang alami dan kosmis. Pulau Ulleung berjarak 217 km dari kota Pohang di pantai timur. Di sebelah barat laut pulau, di atas tebing yang tercelup ke laut berdiri arsitek karya sensasional Kim Chan-joong, Healing Stay Kosmos, mencapai harmoni yang indah dengan latar alamnya. © Kim Yong-kwan Perjalanan ke Pulau Ulleung lumayan menantang. Perlu waktu tujuh jam dengan kereta atau kapal dari Seoul. Ombak besar yang membuat kapal sering kali tidak bisa melaut menjadikan pulau ini tidak terjangkau selama hampir 100 hari dalam satu tahun. Namun, pemandangan alam yang masih perawan membuat perjalanan ke pulau ini sangat sepadan. Pegunungan berbatu yang indah memukau siapa pun yang pertama kali menginjakkan kaki­nya di pulau ini, seolah sudah melewati ruang dan waktu. Gn. Chu setinggi 430 meter di atas tebing di timur laut Pulau Ulleung adalah kulminasi pemandangan di pulau ini. Gunung dan ombak di laut, matahari terbit dan tenggelam, bintang dan bulan semua tampak menakjubkan. Healing Stay Kosmos terletak di tebing yang menjulang ke arah laut. Hotel yang dirancang oleh arsitek Kim Chan-joong ini dibuka pada tahun 2018. Ada dua sayap: Villa Kosmos terdiri dari enam vila kolam yang berdiri melingkar menyerupai pusaran angin, dan Villa Terre yang terdiri dari lima vila berjajar se­­perti ombak. Majalah desain yang terbit di Inggris Wallpaper* memberikan predikat Hotel Baru Terbaik kepada Healing Stay Kosmos dalam Penghargaan Desain Wallpaper* pada tahun 2019. Gunung Chu terlihat melalui jendela melengkung setinggi 6 meter, di ruang tamu Villa Kosmos.Bangunannya menyerupai angin puyuh yang terdiri dari enam bilah, masing-masing membentuk ruang tamu yang memiliki pemandangan berbeda.© Kim Yong-kwan Enam Pemandangan yang Berbeda Dalam menciptakan karya yang menyatu dengan alam, Kim Chan-joong menggunakan pergerakan matahari dan bulan. Ia mendapatkan data dari badan pengamatan astronomi peme­rintah Korea yang digunakannya untuk memetakan pantulan cahaya matahari dan bulan. Pantulan cahaya matahari dan bulan di tanah berbentuk spiral. Ia juga menggunakan Gn. Chu, batu tempat matahari bersinar tepat pada titik pa­­ling dekatnya di musim panas, pelabuhan dan hutan untuk membuat enam titik utama. Desain Villa Kosmos dengan bilah dinding yang menghadap ke enam arah yang berbeda itu membentuk bangunan melingkar. Jadi, vila ini mengarah ke enam pemandangan yang berbeda. Di lantai satu terdapat ruang bersama, termasuk restoran dan sauna. Naik mele­wati tangga melingkar, tampaklah bahwa setiap bilah din­ding membentuk satu ruang tamu. Setiap pintu ruang tamu ini mengarah ke dinding lengkung, dan jika berjalan menyusuri sepanjang dinding, kita akan sampai ke sebuah jendela. Jendela ini besar, terpasang secara vertikal di ujung ruangan dan menghasilkan pemandangan yang sangat indah. Busur pandangnya mirip bentuk Gn. Chu. Untuk membuat bangunan ini tampak lebih bernilai seni, Kim menyembunyikan sebagian besar mesin utama di dalam dindingnya sehingga terlihat seolah sebuah ruangan saja. Dari tahap desain, pencahayaan dan pemanasan ruangan, ventilasi dan sistem penyejuk udara (HVAC) serta alat penyebar udara disatukan; suatu pekerjaan yang memerlukan banyak rancangan sebelum realisasinya. Langit-langit dengan banyak lubang menjadi jalan masuk angin dan cahaya, menciptakan ruang estetis seperti tempat persembunyian binatang. Yang paling menakjubkan adalah lengkung tipis yang berfungsi sebagai atap dan dinding setebal 12cm yang membuat kehadiran Kosmos di pulau ini sangat mudah dikenali. Sungguh luar biasa melihat beton bisa dibuat sangat tipis dan dibentuk sedemikian rupa. Keindahan Kosmos berasal dari bahan bangunannya — ultra-high performance concrete (UHPC). Beton siap pakai ini pertama kali digunakan dalam pembangunan vila ini. UHPC sangat kuat, padat dan tahan lama. Bahkan tanpa rangka baja, penyangga fiber fiber pun bisa digunakan dengan kekuatan seperti yang diinginkan. Dengan struktur yang padat dan lentur, bahan ini bisa dibuat sangat tipis. Kim Chan-joong menerapkan rancangan baru ini, yang sampai saat itu masih dianggap sebagai lahan proyek teknik sipil. Villa Kosmos, dalam bentuk angin puting beliung yang terbuat dari enam bilah, memiliki atap dan dinding melengkung yang hanya setebal 12cm. Bahan baru yang disebut “beton dalam kinerja sangat tinggi” (UHPC) memungkinkan membuat garis tipis dan halus.© Kim Yong-kwan Tantangan Penuh Suka Duka Pemakaian UHPC dalam proyek ini adalah tantangan dan ekperimen dalam setiap tahap desain dan konstruksinya. Pemilihan bahan bangunannya dilakukan dengan pertimbangan pembangunan PLACE 1 KEB Hana Bank di Samseong-dong, Seoul, yang dirancang pada waktu relatif sama. Baik PLACE 1 maupun Healing Stay Kosmos diawali dengan kalimat, “Apakah mungkin membuat desain bangunan yang lebih tipis dan menarik?” Metode baru ini akhirnya dipakai setelah dibuat banyak model rancangan dan kalkulasi teknik. PLACE 1 adalah sebuah bangunan renovasi dari bangunan lama yang di dalamnya terdapat banyak bank dan perkantoran. Ada “ruang terbuka” dengan ruang budaya di setiap lantai, yang menjadi tempat berkumpul setelah bank tutup pada pukul empat sore. Ada pula teras di sekeliling eksterior bangunan yang ditutup de­­ngan panel lengkung yang sangat cantik. Setiap panel berupa komponen modular besar selebar empat meter persegi, mengarah satu meter keluar dan menjorok 50 sentimeter ke dalam. Tim perancang berusaha mencari bahan ringan dan lentur yang bisa dilekatkan pada bangunan lama dan akhirnya mereka memakai UHPC. Namun, suka ini hanya sebentar karena setelah itu mereka harus merasakan duka juga. Masalahnya adalah belum pernah ada pemakaian UHPC untuk bentuk lengkung. Jadi, arsiteknya harus memimpin keseluruhan proses, dari membuat cetakan untuk modul sampai melepas dan menyusunnya. Untuk keperluan ini, lima model rancangan dibuat oleh tim teknik, termasuk kontraktor, pembuat rangka baja, bagian desain struktur dan pabrik UHPC. Proses ini memakan waktu enam bulan. Pada saat yang hampir bersamaan, diputuskan memakai UHPC dalam pembangunan Healing Stay Kosmos karena UHPC dianggap mampu membuat bentuk yang tipis dan indah. Penggunaan beton siap pakai UHPC, yang belum pernah dicoba sebelumnya, dikerjakan oleh Lembaga Bangunan dan Teknik Sipil Korea, yang juga memproduksi K-UHPC; Steel Life Co. Ltd., yang membuat 45.000 panel eksterior dengan bentuk amorf dalam pembangunan Dongdaemun Design Plaza; dan kontraktor Kolon Global. Kim Chan-joong memimpin seluruh proses, termasuk penghitungan kekuatan UHPC, pengukuran tekanan cetakan, dan pengkajian proses pengecoran dengan ba­­nyak model rancangan untuk mengembangkan cetakan yang bisa menciptakan desain yang dikehendaki dengan koordinasi dengan tim teknik. Faktor yang menentukan adalah apakah cetakan itu mampu menahan tekanan yang signifikan ketika dilakukan pengecoran, karena kepadatan UHPC menjadikan beton ini se­­perti air. Jika ada masalah, cetakan bisa patah. Untuk membuat arsitektur amorf tiga dimensi, cetakan harus dibuat dalam satu kali pengerjaan. Dan, yang paling penting, UHPC belum pernah dipakai untuk membuat bangunan. Pengecoran berlangsung selama tiga hari dua malam, dan semua orang menahan napas dan berharap proses ini berhasil baik. “Kalau arsitektur melihat hubungan antara bahan bangunan dan metode konstruksi, sudah saatnya rancangan beton juga diubah.” Arsitek Kim Chan-joong dikenal karena eksperimennya dalam penggunaan material baru. System Lab, firma arsitektur yang dipimpinnya, dimasukkan dalam Direktori Arsitek 2016 dari majalah desain UK Wallpaper *.© Kim Jan-di, design press KEB Hana Bank’s PLACE 1, yang terletak di Samseong-dong, Seoul, memiliki julukan “pengisap gurita.”Permukaannya memiliki 178 cakram dengan diameter masing-masing 2 meter yang berotasi perlahan, menonjolkan semangat gedung. Rancangan Dasar Beton Rancangan Kim Chan-joong dan perusahaannya, The System Lab, selalu disertai dengan rincian perencanaan fabrikasi dan konstruksi. Tujuannya adalah untuk mengkaji ulang konstruksi bangunan dan mencari solusi yang optimal dan rasional. Arsitek tidak dapat meng­andalkan pada nilai estetis saja; tapi harus melakukan riset metode konstruksi yang se­suai dengan proyek mereka dan menerapkan teknologi yang tepat. Metode yang disebut “seni industri” oleh Kim Chan-joong melahirkan empati emosional melalui inovasi bahan dan teknologi. Dalam bukunya Concrete and Culture: A Material History, Adrian Forty, seorang profesor emeritus sejarah arsitektur di The Bartlett, University College London, mengatakan bahwa beton bukan hanya sebuah bahan bangun­an melainkan juga suatu proses. Beton adalah bahan universal yang melahirkan gaya internasional dalam arsitektur, dan sekarang kita melihat struktur beton baru berkat metode-metode baru. Mengenai hal ini, Kim Chan-joong, dalam upayanya mencari solusi optimal, berada di garis depan bukan hanya dalam desain arsitektur melainkan juga dalam desain proses konstruksi. “UHPC tidak berat, memakan tempat dan solid seperti beton pada umumnya,” kata Kim. “Kalau arsitektur melihat hubungan antara bahan bangunan dan metode konstruksi, sudah saatnya rancangan beton juga diubah.” Usaha arsitek ini untuk menemukan dan memakai bahan baru membuka cakrawala kita.

Novel mengenai Perempuan Korea Pertama di Paris

Books & more 2019 SPRING 41

Novel mengenai Perempuan Korea Pertama di Paris Novel mengenai Perempuan Korea Pertama di Paris ‘Penari Pengadilan’ oleh Kyung-Sook Shin, diterjemahkan oleh Anton Hur, 336 halaman, 25,95 USD, New York: Pegasus Books [2018] “Penari Pengadilan” adalah novel terbaru karya Shin Kyung-sook yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (ia dikenal terutama oleh pembaca-dalam-bahasa-Inggris dari novelnya “Tolong Jaga Ibu”). Novel ini mengisahkan tentang Yi Jin, seorang penari pengadilan pada akhir abad ke-19 yang mencuri hati seorang diplomat Perancis di Korea, Victor Collin de Plancy. Yi Jin kemudian pergi ke Perancis bersama Victor pada tahun 1891, menjadi perempuan Korea pertama yang mengunjungi Perancis. Novel tersebut, menurut sampulnya, “berdasarkan dari sebuah kisah nyata yang luar biasa”, tetapi yang sesungguhnya luar biasa adalah bagaimana Shin mengangkat kisah tersebut dari menyebut secara singkat seorang penari pengadilan Korea ke dalam konteks pergantian-abad di Perancis. Akhir abad ke-19 merupakan waktu yang penuh gejolak dalam sejarah Korea, sebagai sebuah negara yang baru membuka negaranya dan terjepit di antara kekuatan-kekuatan besar dunia yang berlomba-lomba menjadi penguasa di Asia Timur. Untuk menjaga kedaulatan negara, raja dan terutama ratu mencoba memainkan kekuatan-kekuatan ini untuk saling beradu satu sama lain. Namun, usaha mereka berakhir sia-sia ketika Jepang berhasil menguasai Korea pada tahun 1910, mengawali 35 tahun penjajahan Jepang atas Korea. Novel Shin ini menghidupkan keputusasaan Korea sekaligus memotong optimisme dari Belle Époque Paris. Namun, sejarah di sini tidak hanya menjadi latar dari kisah Jin; Jin digambarkan sebagai seorang dengan peran yang dimainkan dalam sejarah tersebut. Dengan demikian, Shin menceritakan kisah Korea pada waktu itu melalui kisah Jin. Shin menggunakan berbagai gaya teknik penulisan untuk memberikan kesan klasik sekaligus abadi pada ceritanya, seperti secercah kearifan abadi yang ditaburkan melalui suara penulis. Pepatah yang berurusan dengan karakteristik air memiliki sebuah resonansi khusus. Ketika seorang pe­rempuan menyuruh Jin mengambil air dari sebuah sumur, penulis memberi catatan, “Sifat dasar air tidak berubah, yang memberikan air keku­atannya”. Selanjutnya, ketika diplomat Perancis Victor melewati sebuah sungai di dalam istana kerajaan, kita diberitahu, “Air mengalir ketika bebas, dan berkumpul ketika dihentikan”. Kata-kata ini pada awalnya terlihat dangkal, tetapi kata-kata tersebut seperti ramalan bagaimana Jin akan beradaptasi terhadap dunianya yang baru di Perancis. Selalu menjadi pembelajar yang cepat, Jin dapat segera fasih berbicara bahasa Perancis, dan dia tidak ragu untuk membuang pakaian pengadilannya untuk mode pakaian terbaru Perancis. Se­perti air, dia mengadopsi bentuk dari sekelilingnya. Namun, dia tetap menjadi sebuah tontonan bagi orang-orang di sekitarnya. Bahkan bagi orang-orang yang menerimanya masuk ke dalam kehidupan mereka pun masih memperlakukannya sebagai sesuatu hal yang eksotis, seperti satu dari vas-vas celadon yang dikoleksi Victor dan dibawa pulang ke Perancis. Di sisi lain, Hong, satu-satunya orang Korea lain yang ada di Paris pada saat itu, menyalahkan dan mengejeknya karena telah meninggalkan budayanya. Jin pun mendapati dirinya mempertanyakan identitasnya, sesuatu yang tidak pernah menjadi beban pikirannya ketika dia masih tinggal di istana kerajaan di Seoul. Puisi untuk Pengalaman Sensual di Luar Interpretasi ‘Kami, Hari demi Hari’ oleh Jin Eun-young, Diterjemahkan oleh Daniel Parker dan Ji Young-shil, 108 halaman, 16,00 USD, New York: White Pine Press [2018] Mungkin kelihatannya sia-sia, atau bahkan konyol, mencoba untuk menulis ulasan tipikal dari “Kami, Hari demi Hari”, sebuah kumpulan puisi dari Jin Eun-young. Sama seperti seseorang yang mungkin akan tersesat dalam menggambarkan perasaan seseorang ketika melihat indahnya matahari terbenam, maka tampaknya ini juga sebuah tugas tanpa harapan untuk mengatakan sesuatu tentang kumpulan ini hanya dengan menuliskan kata-kata yang masuk akal dan menenangkan dalam susunan teratur. Pengantar dari penerjemah memberikan pembaca beberapa firasat tentang apa yang ditulis di depan, dengan memberi catatan bahwa puisi Jin “selalu penuh tantangan bagi pembaca yang mencari pemahaman menyeluruh”. Lagipula, tujuan puisinya bukan untuk membuat pembaca mudah menangkap dan memahami, tetapi lebih “untuk mempersembahkan suatu pengalaman sensual baru”. Hal ini dapat menjadi suatu hal yang membuat frustasi bagi beberapa orang. Jika Anda pernah berdiri di depan lukisan­nya Jackson Pollock (dan yang saya maksud adalah lukisan yang sebenarnya, bukan hanya sebuah gambar yang bisa dilihat melalui internet) dan Anda membayangkan apa maksudnya semua kehebohan itu, maka kumpul­an puisi ini mungkin bukan untuk Anda. Jika Anda dapat melihat keindahahan dalam keganjilan, maka, begitulah semestinya. Pengantar mencatat bahwa Jin telah mempublikasikan tiga buku filsafat di samping tiga buku puisi, tetapi saya akan memperdebatkan bahwa garis di antara keduanya tidak terlalu jauh – bahwa, sesungguhnya, “Kami, Hari demi Hari” adalah keduanya, yaitu puisi dan filsafat. Apa yang coba Jin sampaikan di sini adalah semangat dari Duchamp ketika dia memutuskan untuk menyambungkan sebuah roda sepeda ke sebuah kursi. Website Membawa Sastra Modern Korea pada Dunia ‘KoreanLit’ (www.koreanlit.com) Dijalankan oleh Layanan Budaya Korea di Massachussetts (Korean Cultural Service of Massachusetts) Beberapa akan mengatakan bahwa me­­nerjemahkan puisi adalah tugas paling sulit yang dapat dihadapi seorang penerjemah. Yang lain akan berdebat bahwa terjemahan puisi sesungguhnya tidak mungkin, bahwa seni mengakar sangat dalam pada bahasa yang menyebabkan segala usaha untuk mengungkapkannya dalam bahasa berbeda dapat dipastikan akan menuju pada kegagalan. Hal ini tidak menghentikan orang-orang di balik website KoreanLit, sebuah proyek di bawah arahan dari Layanan Budaya Korea di Massachusetts, yang berjuang membawa terjemahan dari sastra modern Korea kepada para pembaca penutur-bahasa-Inggris. Dalam satu-satunya esai yang ada di website saat ini, Profesor Yu Jin Ko mencatat bahwa puisi tidak hanya mengenai apa yang hilang dalam terjemahan, tetapi juga mengenai apa yang ditemukan. Yaitu, sementara tentu saja terdapat elemen dari puisi Korea yang tidak dapat direplikasi dalam bahasa Inggris, sebuah terjemahan dapat menemukan dan membuka aspek baru dari sebuah karya. Pandangan yang lebih luas semacam ini adalah satu cara untuk mengatasi kelumpuhan ide bahwa puisi pada kenyataannya tidak mungkin diterjemahkan. Selain beberapa ratus karya puisi, baik untuk orang dewasa maupun untuk anak-anak, website ini juga melihat puisi sebagai sesuatu yang berkaitan dengan bentuk lain dari seni seperti lukisan atau musik popular. Walaupun karya-karya tersebut relatif sedikit dibandingkan terjemahan puisi murni, diharapkan akan ada lebih banyak lagi usaha seperti ini di masa depan, yang memperluas pemahaman dari peran yang puisi mainkan dalam seni Korea. Juga akan diterima lebih banyak esai tentang puisi dan seni dari terjemahan puisi; esai yang disebutkan di atas oleh Prof. Ko itu cukup menarik dan bermakna.

Kisah Pergulatan Seorang Penulis dalam Masa Kritis

Books & more 2018 WINTER 34

Kisah Pergulatan Seorang Penulis dalam Masa Kritis Kisah Pergulatan Seorang Penulis dalam Masa Kritis ‘Debu dan Cerita-cerita Lainnya’ Oleh Yi T’aejun, diterjemahkan oleh Janet Poole, 304 halaman, $25.00, New York: Columbia University Press [2018] Yi T’aejun (atau Lee Tae-jun) adalah seorang penulis penting di awal zaman Korea modern, tapi keputusannya untuk pindah dari Seoul ke Pyongyang pada tahun 1946 membuat karyanya dilarang di Korea Selatan sampai tahun 1988. Walaupun larangan ini sudah dicabut tiga dekade lalu, karya-karyanya tetap sulit didapatkan dalam bahasa Inggris. “Debu dan Cerita-cerita Lainnya” setidaknya bisa mengobati kerinduan itu dengan kumpulan cerita pendek Yi dari periode kolonial akhir dan setelah pembebasan pada tahun 1945. Ada satu tema yang bisa mewakili kumpulan cerita ini, yang sifatnya sangat personal: pergulatan seorang penulis untuk tetap setia pada bidang seninya dalam masa krisis. Se­­narai kisah itu menampilkan tokoh protagonis autobiografi Hyon, dan dalam cerita-cerita itu kita bisa membaca ekspresi Yi mengenai tekadnya untuk bertahan. Tentu tidak mudah bekerja sebagai penulis hanya dari karya yang membutuhkan kreativitas tinggi. Dalam “Musim Hujam” (1936), Yi melukiskan sebuah potret banyaknya penulis kontemporer yang terbuang seperti penulis dan penyunting surat kabar dan majalah. Ternyata, ketika seseorang percaya bahwa “seni lebih penting dari segalanya,” sebagaimana Hyon bersikeras dalam “Sungai Pae yang Membeku” (1938), kehidupan menjadi lebih sulit. “Sebelum dan Sesudah Pembebasan” (1946), seperti tersirat dalam judulnya, menggambarkan Hyon berjuang untuk tetap menjadi penulis selama periode kolonial dan setelah pembebasan dari Jepang. Ketika pemerintah Jepang memaksanya mendukung tindakan penjajahan mereka dengan tulisan, jeritan dalam senyap itu mengungkapkan suara hatinya: “Saya hanya ingin hidup!”. Kalimat ini menunjukkan ia ingin hidup sebagai diri­nya sendiri, bukan sebagai alat ideologi pihak lain. Mengikuti keinginan penguasa kolonial bukanlah sebuah kehidupan dan Hyon menyatakan bahwa ia lebih baik berhenti menulis sama sekali daripada menjadi corong propaganda Jepang. “Nenek Harimau,” yang ditulisnya pada tahun 1949, jelas tampak sebagai usaha yang dilakukan oleh Yi untuk mengikuti apa yang diperintahkan kepada­nya di Korea Utara untuk menyuarakan propaganda, dan merupakan gambaran bagaimana pemerintah Korea Utara menekankan pada pendidikan, kemajuan ilmu pengetahuan dan pengabaian takhayul. “Debu” (1950) memberikan gambar­an yang jauh lebih kompleks. Karikatur orang-orang Amerika dan pendukung­nya di Korea Selatan bukanlah sesuatu yang mengherankan, tapi tokoh protagonis Hyon adalah tokoh yang sebisa mungkin berusaha tetap netral dalam pertentangan ideologi bangsa ini. Ia khawatir (sekali lagi, sangat yakin) bahwa salah satu dari dua Korea itu meninggalkan yang lainnya, yang kelak membuat rekonsiliasi dan penyatuan tidak mungkin dilakukan. Akhirnya, ia mendapatkan pencerahan dan menyadari alasan-alasan yang masuk akal yang dimiliki pemerintah komunis, tapi penutup cerita itu menyisakan banyak keraguan di benak pembaca. Terlihat dari tulisannya bahwa Yi tidak pernah benar-benar terbeli dan menjadi sosialis, dan inilah alasannya mengapa ia menghilang dari sejarah. Nasibnya tidak diketahui hingga kini. Saat ini, ketika seolah tidak ada titik temu antara gagasan dan pendapat yang berseberangan, perjuangan seorang penulis untuk mempertahankan seni sebagai sesuatu yang bernilai seni dan sesuatu yang ideal melebihi ideologi sepertinya lebih relevan dari sebelumnya. Panduan Desainer Berkebun Australia ‘Kebun Korea: Tradisi, Simbolisme dan Keuletan’ Oleh Jill Matthews, 208 halaman, $44.50, Seoul: Hollym [2018] Dalam buku terbarunya, desainer kebun Jill Matthews mengajak pembaca lebih jauh ke alam yang sering kali tidak mendapat perhatian semestinya. Matthews mengawali bukunya dengan sebuah tulisan tentang sejarah panjang dan keras mengenai kebun di Korea (kebun-kebun itu menjadi target untuk dihancurkan oleh Jepang) dan kemudian menuliskan aspek kebun Korea yang berbeda dari tradisi berkebun lainnya. Ulasan singkat mengenai berbagai tradisi spiritual Korea, seperti pungsu (juga dikenal sebagai feng shui dalam bahasa Cina), syamanisme, Budha dan Konfusianisme kurang menyeluruh, tapi setidaknya bisa menjadi dasar pemahaman mengenai kebun-kebun di Korea. Bab berikutnya mengenai simbolisme sangat mencerahkan; mengetahui makna mendalam di balik jumlah dan pengaturan batu, tipe pohon dan tanaman, atau bentuk kolam dan pulau-pulau kecilnya menambah keindahan kebun-kebun ini. Bagian kedua dan terbanyak dalam buku ini menampilkan 20 kebun-kebun cantik di Korea, termasuk kebun istana, kebun di permakaman, kebun kuil Budha dan kebun para filsuf Konfusius. Matthews juga menuliskan sejarah dan deskripsi singkat dari setiap kebun, dengan foto berwarna yang indah di hampir setiap halaman. Bagian akhir berisi tabel dan diagram yang sangat membantu, termasuk glosarium istilah berkebun dalam bahasa Korea dan daftar buku-buku untuk dibaca lebih lanjut, serta daftar kebun-kebun yang khas dan unik serta sebuah peta yang menunjukkan lokasi kebun-kebun itu. Dengan pengetahuan yang lebih mendalam dan penghargaan terhadap sejarah berkebun di Korea, pembaca akan mendapatkan manfaat dari buku ini dan pasti ingin mengunjungi kebun-kebun itu sebanyak mungkin. Evolusi Besar Mavericks terhadap Musik Tradisional Korea ‘Differance’ Oleh Jambinai, CD Audio $13, MP3 $8.91, London: Bella Union [2017] © The Tell-Tale Heart Jambinai, yang dikenal berkat karya crossover-nya dengan musik tradisional Korea, menjadi sensasi di luar negeri dan dianggap sebagai band post-metal atau post-rock. Albun lengkap band ini, yaitu “Differance” (atau “Chayeon” dalam bahasa Korea), yang pertama kali dirilis pada tahun 2012, mendapatkan predikat sebagai album crossover terbaik dalam Penghargaan Musik Korea ke-10 pada tahun 2013. Judul ini berarti “perbedaan dan pendobrakan makna,” meminjam istilah dari filsuf Perancis kelahiran Algeria Jacques Derrida, yang menyuarakan pemikiran kritisnya mengenai hubungan antara teks dan makna. Ini adalah album yang dibuat ulang. Album pertama direkam dalam piringan hitam dirilis oleh label luar negeri, diikuti album kedua pada tahun 2016, “A Hermitage,” dari perusahaan rekaman yang sama yang berbasis di Inggris. “Time of Extinction,” lagu pertama dalam album itu, ditampilkan dalam upacara penutupan Olimpiade Musim Dingin PyeongChang tahun 2018. Sementara suara geomungo berdawai enam yang dimainkan dengan plektrum berselang-seling antara ada dan tiada, suara gitar elektrik yang intensif dan berat tampil mendominasi. Lagu berikutnya, “Grace Kelly,” yang sangat berbeda dari gambaran aktris cantik Amerika yang menjadi Putri Monako. Liriknya, yang diawali dengan “Mimpiku adalah kematian dalam tipuan waktu, bersama dengan keputusasaan,” membawa kesan kuat dan dingin, seolah industri ini mengingatkan kita akan Grace Kelly. Pada tahun 1975, ketika maestro pemain dan komposer gayageum Hwang Byung-ki (1936–2018), yang meninggal awal tahun ini, meluncurkan album “Labyrinth” (“Migung”), banyak orang terpukau. Tentu bukan sesuatu yang berlebihan menganggap album Jambinai “Differance” mewakili evolusi besar dalam musik tradisional Korea sejak album ini diluncurkan. Meski band ini sangat sibuk tampil di luar negeri, sangat menyenangkan membayangkan apa yang akan disuguhkan dalam albumnya yang akan datang.

SUBSCRIPTION

You can check the amount by country and apply for a subscription.

Subscription Request

전체메뉴

전체메뉴 닫기