메인메뉴 바로가기본문으로 바로가기

Features

Culture

KARYA AMAL SINSE PENGUNGSI KOREA UTARA

Tales of Two Koreas 2021 SUMMER 18607

KARYA AMAL SINSE PENGUNGSI KOREA UTARA KARYA AMAL SINSE PENGUNGSI KOREA UTARA ‘Klinik Pengobatan Oriental 100 Tahun Youngdeungpo’ dibangun oleh Seok Yeong-hwan, 55, seorang dokter sinse pertama pengungsi Korea Utara dan dikenal sebagai pengobatan akupunktur tradisional Korea Utara. Baik pengungsi Korea Utara maupun keturunan Korea dari Tiongkok mendapat pengobatan cara Korea Utara dari dia. Seok Yeong-hwan membuka klinik di Seoul empat tahun setelah melarikan diri dari Korea Utara. Dia mempraktikkan pengobatan tradisional Korea dari kedua sisi semenanjung, sambil dengan murah hati membantu mereka yang tidak mampu membayar perawatan. Klinik Pengobatan Oriental 100 tahun Youngdengpo’ memiliki sua¬sana berbeda dengan klinik yang lain. Struktur interiornya mirip tetapi jarum akupunktur sangat tebal. Orang yang sering melihat jarum tipis mungkin merasa keta¬kutan. Klinik ini menampilkan pengobatan teknik akupunktur yang unik. Klinik ini ter¬kenal dengan ‘Dechim (akupunktur besar)’ dan ‘Bulchim (akupunktur api)’, pengobatan akupunktur tradisional Korea Utara. Ada juga Hwanggeumchim (akupunktur emas) yang berdiameter 0,5 cm. Hwanggeumchim sering digunakan untuk pejabat tinggi Pyongyang. Seok Yeong-hwan, kepala klinik pengo¬batan oriental yang ada di Mulledong, Seoul ini adalah dokter pertama yang mempunyai izin praktik dokter di Korea Selatan maupun Korea Utara. Banyak buku Korea Utara seper¬ti “Medis Goryo” menyatakan pengobatan dokter Seok berasal dari “Medis Goryo”, yaitu pengobatan oriental Korea Utara. Sebagian besar pasien adalah warga Seoul. Ada banyak pengungsi Korea Utara dan warga Korea di Tionghoa melalui promosi dari mulut ke mulut. Katanya obat dan cara pengobatan kli¬nik pengobatan oriental 100 tahun sangat ber¬manfaat untuk mereka karena makanan dan gaya kehidupan keturunan Korea di Tionghoa sangat mirip dengan warga Korea Utara. Ketika ada di Gwanghwamun, banyak pejabat tinggi pemerintah berkunjung. Namun klinik ini pindah ke Mulledong dan ganti nama dari ‘Klinik Pengobatan Oriental 100 Tahun Gwanghwamun’ ke ‘Klinik Pengobat¬an Oriental 100 Tahun Youngdengpo’ karena kenaikan sewa kantor. Ukuran ruang menjadi 661m2, dua kali lebih lebar dari sebelumnya. Tantangan Lain Kampung halaman dokter Seok adalah Gap¬san, Provinsi Yanggang. Pada bulan Oktober 1998, dia datang ke Korea dengan melin¬tasi garis demarkasi dengan kekasihnya yang menjadi isterinya saat ini. Setelah menikah, dia mendapat 3 anak, putra sulung belajar sains komputer di universitas, putra kedua siswa SMA, dan putri siswa SMP. Sudah lama dia tidak mendengar kabar mengenai orang tua dan saudara-saudaranya di Korea Utara. Menurutnya “Mereka hilang tanpa jejak. Katanya mereka menghilang tanpa kabar.” Ketika kabur dari Korea Utara, dokter Seok adalah dokter militer aktif. Dia bertang¬gung jawab sebagai kepala bagian pengobat¬an unit gawat darurat di rumah sakit ke-88 militer Korea Utara yang setara dengan pang¬kat kapten Korea Selatan. Setelah lulus dari jurusan pengobatan tradisional Asia di univer¬sitas kedokteran Pyongyang yang termasuk dalam Universitas Umum Kim Il-sung, dia memperoleh sertifikat keahlian ‘doker Goryo’ dan berkerja sebagai peneliti di Institut Ilmu kedokteran Dasar Korea Utara. Institut Ilmu Kedokteran Dasar biasanya disebut sebagai ‘Institut Panjang Umur Sehat Sentosa’. Kata¬nya dia memperoleh kesempatan itu karena ayahnya adalah perwira tinggi di Dinas Kea¬manan (setara dengan Dinas Keamanan Kep¬residenan Korea Selatan). Dia merasa putus asa terhadap keadaan Korea Utara saat menyaksikan tentara keku¬rangan gizi di rumah sakit militer di luar kota setelah Kim Il-sung meninggal pada tahun 1994. Selain itu, dia mendengar ceri¬ta rekan-rekan yang pulang dari detasering di luar negeri yang membuat dia berpikir untuk melarikan diri ke Korea Selatan. Saat itu dia bertemu dengan kekasih yang kini menjadi isterinya, bertekad melarikan diri dari Korea Utara. Dia tidak mampir di negara ke-3 teta-pi melintasi garis demarkasi dengan meman¬faatkan identitasnya sebagai perwira militer. Walaupun demikian perjalanan itu menjadi sebuah pertualangan karena dia tidak sendi¬ri. Mereka tidak bisa naik kereta karena ada pemeriksaan. Mereka menebeng truk dan melakukan segala upaya untuk pergi ke Seoul. Memakan waktu 3 hari 2 malam dari Pyong¬yang ke Seoul. Dia memperoleh izin praktik dokter dengan lulus Ujian Pengobatan Oriental Nasi¬onal setelah 3 tahun sejak tinggal di Seoul. Hal ini memang tidak mudah. Pada saat itu tidak ada pedoman izin praktik dokter untuk pengungsi Korea Utara. Pada tahun 1999, melalui tes dan perkumpulan pendapat para ahli Asosiasi Pengobatan Oriental Korea Selatan, dia mendapatkan izin dari Kemente¬rian Pendidikan dan Kementerian Kesejahte¬ raan untuk mengikuti ujian nasional. Profe-sor-profesor yang dikenal di gereja mereko¬mendasikan buku-buku pelajaran perguruan tinggi. Dia membeli buku untuk ujian dan belajar sampai larut malam di perpustaka¬an. Sangat sulit membaca buku-buku ten¬tang pengobatan oriental yang penuh dengan aksara Mandarin karena dia hanya belajar aksara Mandarin dasar di Korea Utara. Sete¬lah sekitar satu bulan sejak belajar keras dengan kamus, dia sedikit demi sedikit bisa membaca dan memahami aksara Mandarin. Setelah mendapat izin praktik kedokteran, dia meraih gelar magister di Pascasarjana Kedokteran Pengobatan Oriental Universitas Kyonghee. Pada tahun 2002, akhirnya dia membu¬ka ‘Klinik Pengobatan 100 Tahun Gwangh¬wamun’ dan menempuh hidup baru. Sejak itu selama 19 tahun dia tidak meminta biaya pengobatan untuk pasien pengungsi Korea Utara yang miskin. “Katanya ada banyak dokter tidak mengerti gejala mereka karena kosa kata berbeda. Oleh karena itu mereka merasa nyaman sehingga mengeluh kepada saya. Saya datang ke Seoul sebelum mereka dan mengalami kesulitan yang sama, maka saya cukup mengerti keadaan mereka dan tidak bisa mengabaikan kesulitannya.” Klinik Pengobatan Oriental 100 Tahun dikenal sebagai ‘Klinik Pengungsi Korea Utara’ di antara para pengungsi Korea Utara. Ini karena para pengungsi Korea Utara bisa mendapat pengobatan gratis dan nasihat dari dokter Seok jika ada kesulitan. “Perbedaan terbesar di antara ilmu kedokteran oriental kedua Korea adalah pengobatan akupunktur. Jarum akupunktur Korea Utara sangat besar. Walaupun begitu, pengungsi Korea Utara rindu pengobatan akupunktur Korea Utara karena sangat manjur.” jelasnya. Seok memberikan perawatan medis sukarela setiap minggu. Dia menganggapnya sebagai balasan kepada orang-orang di Korea Selatan yang membantunya bermukim kembali dan menjadi satu-satunya orang dengan lisensi medis dari Utara dan Selatan. Jumlah relawan medis dari kedua sisi semenanjung di Yayasan Hana Nanum, yang didirikan dan dipimpin oleh Seok, telah berkembang menjadi sekitar 40 orang. Mereka termasuk dokter dan perawat pengobatan tradisional. Kebanggaan Terhadap Ilmu Kedokteran Oriental Korea Utara Berdasarkan pengalaman bekerja sebagai peneliti kardiovaskular di Institut Pengobat¬an Dasar Pyongyang, dokter Seok membuat sendiri obat Yusimhwan dan Tegohwan yang diminum oleh Kim Il-sung dan Kim Jung-il. Obat-obat ersebut bermanfaat untuk penya¬kit akibat stress dan mencegah penuaan.Dia sangat bangga terhadap ilmu kedok¬teran Goryo. “Dokter Goryo belajar ilmu kedokteran barat sekaligus ilmu kedokteran oriental. Mereka juga belajar cara operasi di b agian bedah. Di Korea Utara sebuah diag¬nosis dilakukan setelah pemeriksaan cara kedokteran barat dan kedokteran oriental. Pengobatan biasanya dilangsungkan dengan cara oriental. Pada saat saya lulus jurusan kedokteran Goyo, dari 30 mahasiswa hanya satu atau dua bekerja sebagai dokter di kli¬nik Barat. Durasi masa pendidikan bisasanya 6 tahun 6 bulan dan 6 bulan untuk uji klinis. Ini sama dengan internship di Korea Selat¬an.” katanya. Maksudnya berbeda dengan Korea Selatan, Korea Utara tidak memisah¬kan secara ketat ilmu kedokteran barat dan ilmu kedokteran oriental. Dia juga memperhatikan perbeda¬an lain. “Di Korea Utara mahasiswa bela¬jar ilmu kedokteran Goryo dengan aksara Hangeul. Namun di Korea Selatan sebagian besar buku pelajaran tertulis dengan aksara Mandarin. Saya tidak pernah menyelesai¬kan soal-soal pilihan ganda di Korea Utara. Semua ujian di Korea Utara terdiri dari soal tertulis. Para mahasiswa harus menjelaskan jawabannya.”Walaupun demikian, ilmu kedokter¬an oriental Korea Selatan dan Korea Utara berasal dari Dongeuibogam (1610) yang disusun oleh Heo Jun (1539-1615), seorang dokter di masa Josun. Namun ilmu kedok¬teran oriental kedua negara menyimpang penerapannya sejak pemecahan. Pengobat¬an terapeutik berkembang di Korea Utara. Pengobatan ini berdasarkan ilmu kedokteran Sasang, empat konstitusi yang dikembang¬kan oleh Lee Je-ma (1837-1900), seorang dokter oriental di masa akhir Josun. Penya¬kit kronis termasuk target pengobatan tradi¬sional karena pasien bisa melawan penyakit dengan kekebalan tubuh melalui memperba¬iki konstitusi. “Di Korea Utara dokter biasa¬nya menulis resep obat oriental. Resep obat untuk pengobatan diklasifikasikan berdasar¬kan konstitusi pasien. Obat-obat distandar¬disasi dan diobjektivikasi melalui uji klinis dan relatif manjur. Selain itu, Korea Utara terkenal dengan pengobatan akupunktur. Di Korea Selatan jarum tipis dan kecil diguna¬kan untuk mengurangi rasa sakit tetapi di Korea Utara digunakan jarum yang sangat tebal. Jarum tebal dikira lebih menyakitkan tetapi ternyata tidak.” Dia melanjutkan “Dalam mengobati penyakit, yang paling penting adalah tekad pasien kemudian dokter, obat, pengobatan, dan sebagainya.”Seok mengatakan bahwa studi kerjasama antar Korea sangat diperlukan karena ilmu kedokteran oriental Korea Selatan dan Korea Utara berakar yang sama dan banyak bahan obat ada di Korea Utara. Namun sayang sekali semua kondisi saat ini tidak positif, kata Seok. “Pengobatan Rakyat yang Menyelamatkan Kehidupan di Korea Utara,” sebuah buku tentang “Pengobatan Koryo,” versi pengobatan tradisional Korea Utara, yang ditulis oleh Seok. “Pengobatan Rakyat yang Menyelamatkan Kehidupan di Korea Utara,” sebuah buku tentang “Pengobatan Koryo,” versi pengobatan tradisional Korea Utara, yang ditulis oleh Seok. Seok adalah penulis beberapa buku yang memperkenalkan pengobatan tradisional versi Korea Utara. Salah satunya adalah “Cara Kim Il-sung untuk Tetap Sehat dan Hidup Lebih Lama.” Ini menggambarkan terapi alami yang digunakan oleh mendiang pemimpin Korea Utara. Balas Budi Lewat Kegiatan Relawan Dokter Seok menulis 4 buku sejauh ini, “Pengobatan Tradisional Korea Utara yang Menyelamatkan Kehidupan” (2003), “Men¬daki Gunung Sekaligus Menggali Ginseng Liar” (2003), “Cara Hidup Sehat agar Pan¬jang Umur Kim Il-sung” (2004), “Keadaan Medis Korea Utara” (2006). “Cara Hidup Sehat agar Panjang Umur Kim Il-sung” telah diterjemahkan dalam bahasa Jepang. Dia berencana meraih gelar doktor. Telah 17 tahun berlalu sejak dia beker¬ja di bidang medis secara sukarela di luar klinik. Pada tahun 2004, 2 tahun setelah membuka klinik, dia bersama seorang rekan mulai bekerja sukarela untuk lansia. “Saya menerima banyak bantuan dari masyara¬kat Korea Selatan sampai menetap di Seoul. Pantas saja membalas budi mereka. Malah saya terhibur melalui kegiatan sukarelawan. Saya bahagia tanpa batas.” Seok membangun sebuah organisasi relawan, ‘Asosiasi Tenaga Medis Pengung¬si Korea Utara’. Organisasi ini diperluas dan diganti namanya menjadi ‘Yayasan Asosia¬si Cinta Hana’ pada 2015. Selama ini jum¬lah tenaga medis pengungsi Korea Utara meningkat dan jumlah relawan dan pendu¬kung juga meningkat. Saat ini sekitar 130 anggota termasuk 30 tenaga medis sejenis dokter sinse, dokter fisioterapi, dan sebagai¬nya mengikuti kegiatan relawan.Beban seorang pelopor memang sela¬lu sangat berat. Dokter Seok harus memikul tanggung jawab pelopor yang besar sepan¬jang hidup. Kim Hak-soon Jurnalis, Profesor Tamu Jurusan Media Universitas Korea Han Sang-mooh Fotografer

Lorong-Lorong di Seochon

On the Road 2021 SUMMER 71

Lorong-Lorong di Seochon Lorong-Lorong di Seochon Di Seochon, salah satu lingkungan tertua di Seoul, labirin rumah berusia berabad-abad dan warisan artistik yang kaya menopang oasis perkotaan yang menawan dengan ketenangan dan renungan. Puncak Gunung Inwang memberikan pandangan sepintas tentang Seochon dan Seoul lama. Seochon mengacu pada daerah dari kaki timur gunung ke dinding barat Istana Gyeongbok, di mana pejabat istana berpangkat rendah tinggal selama Dinasti Joseon. Saat ini, area ini wajib dikunjungi karena menyuguhkan perpaduan seni, budaya, makanan, sejarah, nostalgia, dan pemandangan alam. Lembah Suseong di Ogin-dong, surga indah yang terkenal dengan pepohonan rindang dan suara aliran air yang sejuk, telah lama menjadi favorit para seniman. Tembok Kota Seoul dibangun pada abad ke-14 tepat setelah berdirinya Dinasti Joseon. Penghalang pertahanan rata-rata berdiri setinggi 5-8 meter dan panjangnya sekitar 18,6 kilometer. Bagian barat terletak di Gunung Inwang dengan Seochon terletak di bawah. Museum seniman bernama Pak No-soo dibuka pada tahun 2013. Pak tinggal di rumah itu selama 40 tahun dan menyumbangkan sekitar 1.000 karya seni untuk dilestarikan dan dipamerkan. Pada tahun 1941, Yun Dong-ju, seorang mahasiswa di Yonhee College (pendahulu Universitas Yonsei), tinggal di rumah novelis Kim Song (1909-1988) dan menulis beberapa puisi utamanya, termasuk “Sebuah Malam untuk Menghitung Bintang.” Sebuah plakat menandai di mana rumah itu berada. Kim Mi-gyeong membawa pena tintanya ke atap rumah dan tempat-tempat tinggi lainnya untuk menggambar pemandangan jalanan Seochon. Setelah 20 tahun berkarir sebagai jurnalis, dia pergi untuk tinggal di New York pada tahun 2005 dan kembali pada tahun 2012 untuk menetap di Seochon, di mana dia sekarang dikenal sebagai “seniman atap”. Mengintip melalui lorong kuno Seochon, Anda dapat melihat Istana Gyeongbok, kediaman resmi kerajaan Dinasti Joseon (1392-1910), dan Cheong Wa Dae, kantor kepresidenan, di kaki Gunung Bugak. Kedekatan inilah yang menyebabkan Seochon men¬jadi kawasan rumah pejabat dan cendekiawan selama bera¬bad-abad, yang berjalan ke istana. Sebenarnya, Seochon berarti “desa barat”, mengacu pada arahnya dari istana. Ia dipeluk kaki Gunung Inwang, pernah menjadi benteng pertahanan saat Seoul merupakan kota bertembok. Di tengah pandemi COVID-19, orang-orang yang belajar menikmati pendakian sendirian ke Gunung Inwang suka sekali berdiri di puncak dan kehilang¬an diri disergap pemandangan Seoul yang terbentang di bawah. Seochon sekarang menjadi salah satu tujuan wisata ter¬besar Seoul, bersama dengan desa hanok Bukchon, yang berarti “desa utara.” Kedua tempat tersebut dipenuhi lorong-lorong menawan yang dijajari rumah-rumah bergaya tradi¬sional, tak sedikit di antaranya yang berusia ratusan tahun. Kini banyak yang menjadi kafe bergaya, kedai kopi butik, dan penginapan. Terdapat satu hanok yang difungsikan kem¬bali yaitu Toko Buku Daeo, toko buku tertua di Seoul, bebe¬rapa menit dari stasiun kereta bawah tanah Istana Gyeong-bok. Lebih penting lagi, area Seochon dan Bukchon memi¬liki suasana seni dan budaya. Lorong-lorong sempit Seochon memiliki udara hangat dan nyaman bergaya Golden Lanedan di Praha dan nuan¬sa lorong belakang Montmartre di Paris. Selain hanok yang telah diubah, ada galeri tempat pameran lukisan lanskap tinta-dan-cuci dari era Joseon yang sekarang menghiasi kanvas seniman abad ke-21. Ruang pertemuan yang popu¬ler di sini adalah Pasar Tongin, tempat banyak penjaja men¬jual barang dagangan sehari-hari dan tempat makan yang menyajikan segala jenis makanan lezat. Pasar ini terkenal dengan program kotak makan siangnya; Anda dapat menu¬kar satu set koin yang digunakan untuk membeli berbagai macam lauk pauk buatan sendiri dengan murah. Pameran “Catatan Jalanan,” yang diselenggarakan oleh Korean Safety Health Environment Foundation, diadakan dari 30 April hingga 16 Mei 2021, di Boan 1942, sebuah tempat budaya serbaguna. Ini menampilkan sekitar 80 foto yang menunjukkan cara pandemi COVID telah mengubah masyarakat. Warga Terhormat Seochon adalah tempat lahir dan besar banyak pangeran, termasuk Pangeran Chungnyeong, putra ketiga Raja Tae¬jong, yang kemudian menjadi Raja Sejong (berkuasa 1418- 1450), raja Joseon yang paling terkenal. Dia melembaga¬kan aksara Korea dan banyak penelitian ilmiah. Putra keti¬ga Raja Sejong, Pangeran Anpyeong (1418-1453), ting¬gal di Lembah Suseong di Ogin-dong, bagian paling atas dari lingkungan ini dan latar “Perjalanan Impian ke Tanah Bunga Persik”, dilukis oleh An Gyeon pada tahun 1447. Ini lukisan terkenal yang menggambarkan utopia Daois yang terinspirasi oleh mimpi pangeran. Warga kerajaan Seochon lainnya adalah saudara laki-laki tertua kedua Raja Sejong, Pangeran Hyoryeong (1396- 1486), seorang pria dengan pengetahuan yang hebat dan karakter yang berbudi luhur. Dia melarikan diri dari politik kekuasaan ketika adiknya naik takhta, dan dihormati karena usahanya untuk menghidupkan kembali agama Buddha. Di lingkungan yang sama, Jeong Seon (1676-1759) melukis “Gunung Inwang Sehabis Hujan” (1751), sebuah mahakarya dari masa kejayaan budaya Joseon, zaman yang disebut lanskap sebagai realis “pemandangan yang benar”. Karya seni terkenal ini, ditunjuk sebagai Harta Nasio-nal Korea No. 216, sampai saat ini merupakan bagian dari koleksi pribadi Lee Kun-hee, mendiang ketua Samsung Group, yang sekarang disumbangkan ke negara setelah kematiannya tahun lalu. Pada pertengahan periode Joseon, Seochon mulai dihu¬ni oleh jungin, yang secara harfiah berarti “orang tengah”, sebuah kelas pejabat dan teknisi yang lebih rendah yang berada di antara bangsawan dan rakyat jelata. Pekerja tek¬nis yang berkisar dari penerjemah dan dokter hingga kasim yang bertugas di istana membangun rumah mereka di dae¬rah tersebut, yang meliputi Ogin-dong, Hyoja-dong dan Sajik-dong saat ini. Bukchon dulunya adalah lingkungan sastrawan, dan rumah-rumah tua di sana relatif besar dan megah. Sebaliknya, rumah tradisional Seochon berukuran kecil dan sederhana, yang menjelaskan penyebaran banyak lorong kecil yang seperti jaring. Dengan keruntuhan Joseon pada tahun 1910 dan pen¬dudukan Jepang berikutnya, seniman muda mulai pindah ke Seochon. Tokoh utama termasuk penyair Yi Sang (1910- 1937), Yun Dong-ju (1917-1945) dan Noh Cheon-mye¬ong (1911-1957), serta novelis Yeom Sang-seop (1897- 1963). Tetangga mereka adalah pelukis Gu Bon-ung (1906- 1953), Lee Jung-seop (1916-1956) dan Chun Kyung-ja (1924-2015). Ironisnya, Seochon adalah tempat perkebunan mewah bergaya Barat dari tokoh pro-Jepang terkenal Lee Wan-yong (1858-1926) dan Yun Deok-yeong (1873-1940). Perjalanan seni dan budaya melintasi waktu, seper¬ti yang dinikmati dan dipahami di masa sekarang, dapat dibandingkan dengan anak ayam yang keluar dari kegelap¬an di cangkangnya dan dilahirkan ke dunia. Seperti bayi burung yang memotong cangkang keras yang mengelilingi-nya untuk hidup, para seniman Korea modern terjun dalam aktivitas kreatif sebagai pelarian dari kemiskinan dan kepu¬tusasaan zaman. Saya berangkat untuk menemukan jejak mereka di Seochon. Boan Inn, dibangun pada tahun 1940-an, adalah tempat tinggal yang populer bagi banyak seniman dan penulis. Dioperasikan sebagai penginapan hingga tahun 2004, baru-baru ini diubah menjadi Boan 1942, tempat diadakannya pameran, pertunjukan, dan acara lainnya. Pasar Tongin awalnya didirikan pada tahun 1941 sebagai pasar umum bagi penduduk Jepang di daerah sekitarnya. Pasar berkembang menjadi bentuknya saat ini setelah Perang Korea ketika penduduk Seochon berkembang pesat. Rumah Sastra Yun Dong-ju Rumah Yi Sang Taman Sajik Istana Gyeongbok Menapaki Keharuman Pertama, saya menuju Bukit Penyair di Cheongun-dong untuk melihat Perpustakaan Sastra Cheongun dan Rumah Sastra Yun Dong-ju. Dari bukit, saya bisa melihat pusat kota tua Seoul terbentang di bawah, dan di kejauhan, Mena¬ra Namsan dan Sungai Han, Menara Lotte World 123 lan¬tai mulai terlihat. Perpustakaan Sastra Cheongun di lereng bukit terdiri dari beberapa hanok yang telah dipugar dengan indah, tetapi Rumah Sastra Yun Dong-ju adalah bangun¬an beton dengan pintu besi seperti penjara. Namun, dengan kafe taman luar ruangannya yang indah, ia menempati peringkat tinggi dalam daftar “arsitektur kontemporer terba¬ik Korea” tahun 2013 yang dipilih bersama oleh surat kabar Dong-A Ilbo dan majalah arsitektur, Space. Di ruang video, kehidupan Yun Dong-ju terungkap di dinding beton - waktu yang dihabiskannya untuk menulis puisi di sebuah rumah kos di Seochon; pemenjaraannya di Fukuoka, Jepang karena berpartisipasi dalam kegiatan anti- Jepang oleh mahasiswa Korea; dan akhirnya kematiannya di sana karena sebab-sebab misterius pada Februari 1945, beberapa bulan sebelum kemerdekaan nasional Korea. Entri jurnalnya berbunyi, “Saya bersembunyi di sebuah ruang¬an kecil yang gelap tidak dapat melakukan apa pun selain menulis puisi, malu karena saya tidak dapat mengangkat senjata dan bertarung. Saya semakin malu karena puisi-pui¬si itu datang kepada saya dengan begitu mudah.” Meninggalkan labirin lorong, saya menuju Rumah Yi setempat akan melaporkannya sebagai “mata-mata yang membuat peta.” Tapi sekarang, gambarnya bisa dilihat di dinding banyak toko di lingkungan itu. Memindai Ulang Labirin Mengakhiri perjalanan saya, saya mampir ke Boan Inn di Tongui-dong, di mana pelukis Lee Jung-seop, penyair Seo Jeong-ju (1915-2000) dan penulis serta seniman lainnya sering menginap. Bangunan aslinya telah dilestarikan dan diubah menjadi tempat pameran dan budaya bernama Boan 1942. Di sinilah Seo dan penyair lainnya membuat majalah coterie, “Kampung Penyair” (Siin Burak), pada tahun 1936. Jejak masa lalu dapat ditemukan di seluruh bangunan. Saya disambut oleh derit tangga kayu dan senang bahwa ruang pameran yang penuh sesak dan sempit mempertahankan pesona lama mereka. Choi Seong-u, yang mengelola Boan 1942, bermimpi menjadi seorang seniman dan pergi ke Prancis untuk bela¬jar. Dia akhirnya belajar administrasi seni, dan sekembali¬nya, mengubah Boan Inn tua menjadi pusat budaya multi¬guna. Dia memperluas ruang dengan mendirikan gedung di sebelahnya, tidak hanya menampilkan karya seniman muda Korea yang eksperimental tetapi juga secara aktif mengejar proyek internasional. Ia berencana mengundang seniman asing untuk mengikuti pameran khusus di masa mendatang. Di gedung penginapan berlantai empat yang lama, kamar tamu dan ruang kerja untuk para seniman menempati lantai tiga dan empat. Penduduk Seochon telah berganti-ganti selama bebe¬rapa abad. Tapi benang yang mengikat mereka selalu seni dan budaya, tetap terlihat jelas di lorong-lorong yang berke¬lok-kelok hari ini. Kesenangan terbesar dari wisata lorong adalah bahwa mata Anda terbuka menangkap jalan baru yang asing saat Anda sesekali tersesat. Kadang-kadang, lorong-lorong itu tiba-tiba terhenti di jalan buntu, dan saat Anda berbalik dan melihat ke belakang, Anda mulai memi¬kirkan jejak-jejak kehidupan Anda sendiri. Dalam perjalan¬an ke Seochon kali ini, saya sering melihat ke belakang dan ke belakang. Kwon Oh-nam telah mengoperasikan Toko Buku Daeo sejak dia membukanya bersama mendiang suaminya pada tahun 1951. Mereka memutuskan untuk menggunakan sebagian dari rumah bergaya tradisional mereka sebagai toko buku. Sekarang toko buku bekas tertua di Seoul. Tempat ini juga berfungsi sebagai kafe buku. Chebu-dong, tempat kuliner terkenal, menarik orang-orang dari segala usia yang mencari makanan lezat siang dan malam. Restoran-restoran kecil berdesakan bersama membentuk dinding restoran-restoran di labirin lorong. Lee San-ha Penyair Ahn Hong-beom Fotografer

Jalur Gunung yang Meremaja

Image of Korea 2021 SUMMER 70

Jalur Gunung yang Meremaja Jalur Gunung yang Meremaja Sesekali, ketika saya terbangun di tengah malam dan berbaring di kegelapan, saya membayangkan diri saya mendaki gunung. Rumah-rumah surut dan hutan dimulai saat jalan setapak menanjak. Di bawah tirai daun dan dahan, napasku mulai sesak. Kaki kiri, kaki kanan. Cahaya dan bayangan berkedip di setiap langkah. Detak jantungku semakin cepat serta butiran keringat di dahi dan pung-gungku. Di puncak, sebuah batu besar menanti. Saya membayangkan semuanya: angin pegunungan yang sejuk yang mengalir melewati rasa merdeka, dan lanskap yang indah di depan saya. © Yang Su-yeol Rumah bagi lebih dari 4.000 gunung, atau san, tempat pendakian tidak pernah jauh di Korea. Ini terutama terjadi di Seoul, kota besar dengan 10 juta penduduk. Dengan Namsan sebagai pusatnya, Seoul dikelilingi oleh Ansan, Inwangsan, Gwanaksan, Buramsan, Dobong¬san dan Bukhansan – hampir seperti layar lipat pegunungan. Alam bisa diakses dalam waktu satu jam dari mana saja di kota ini. Renca¬nakan untuk pergi kelak atau saat ini. Perjalanan sehari tidak memer¬lukan perlengkapan khusus. Datanglah saja. Jalur gunung aman, tanpa risiko menjadi korban kejahatan atau serangan binatang buas. Tempat perlindungan kecil yang tertata berdiri di sepanjang jalur pegunungan yang rapi meningkatkan rasa tenang. Anda dapat bersantai dan menik¬mati pemandangan alam dan kota yang terbentang di bawah. Pada bulan Maret, Taman Nasional Bukhansan dikunjungi 670.000 pengun¬jung - naik 41 persen dari bulan yang sama tahun lalu. Wajah-wajah yang terlihat di jalan telah berubah. Mendaki gunung selama ini merupakan hobi favorit mereka yang berusia 40-an ke atas. Tapi sekarang, komunitas hiking online dan platform pertemuan men¬ciptakan kelompok yang lebih muda. Pendaki baru yang berusia 20-an dan 30-an ini tidak meninggalkan kepekaan mode dan kebiasaan ber¬media sosial di rumah. Alih-alih mengenakan pakaian luar yang besar dan dapat diganti yang biasa dipakai oleh orang tua dan kakek nenek mereka, mereka lebih memilih bergaya legging dan sepatu lari trail. Dan mereka mengunggah swafoto hiking mereka ke Instagram. Seba¬gian anak-anak muda ini membuat platform baru untuk berbagi minat, menjalin hubungan baru, dan bahkan mengawali perjalanan tematik seperti “Clean Hike,” dengan bersama-sama mengumpulkan sampah. Terutama di tengah COVID-19, saat terpenjara di tempat dan tidak dapat berangkat melancong ke luar negeri, generasi milenial semakin banyak menggunakan pegunungan dan hutan sebagai katup pelarian dari pembatasan jarak sosial dan menenggelamkan kelelahan pandemi. Perjalanan karena dekapan jarak sosial telah membuat lanskap gunung jadi lebih muda. Berbaring dalam kegelapan, saya iri pada pendaki muda dengan pakaian kasual, berdiri sendirian di atas puncak pilihan mereka, ber¬temu dunia luas di depan; dan saya memberi penghormatan kepada gunung dan para remaja yang baru ditemukan. Dan dengan itu, saya kembali ke pendakian saya sendiri. Kaki kiri, kaki kanan … Kim Hwa-young Kritikus Sastra; Anggota Akademi Seni Nasional

Sulaman Surgawi dengan Benang Hati

Guardian of Heritage 2021 SUMMER 93

Sulaman Surgawi dengan Benang Hati Sulaman Surgawi dengan Benang Hati Ahli sulam Choi Yoo-hyeon telah bekerja tanpa henti dengan jarum dan benang selama kurang lebih tujuh dekade. Dia dikenal dengan karya besarnya, yaitu sulaman yang berdasarkan lukisan Buddha, dan dia juga dinilai sebagai penyulam yang telah membawa sulaman Korea ke tingkat baru dengan teknik kreatifnya. “Buddha Sakyamuni” (detail) dari “Buddha dari Tiga Dunia.” 257×128cm. Jagoan menyulam Choi Yoo-hyeon mulai membuat tasir sulaman lukisan Buddha pada pertengahan 1970-an. Menggambarkan Buddha di masa lalu, sekarang dan masa depan, “Buddha dari Tiga Dunia” adalah mahakarya yang membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk menyelesaikannya. Siapa saja dapat menghargai kein¬dahan sebuah sulaman yang sangat indah, tetapi tidak semua orang dapat menahan proses melelahkan dan membosankan dari pekerjaan menjahit satu-jahitan-demi-jahitan selama berjam-jam yang tampaknya tak ada habisnya, yang diperlukan untuk menghasilkan sebuah karya sulaman. Hal ini terutama berlaku untuk sulaman tradisional, yang umumnya memiliki prosedur lebih rumit dan teknik beragam serta harus mengekspresikan spirit yang berada di dalamnya. “Jika menyulam hanyalah sebuah pekerjaan yang melelahkan dan membo¬sankan bagi saya, bagaimana saya bisa terus melakukannya sepanjang hidup saya? Saya melakukannya karena saya menyukai dan menikmatinya. Saya juga mempunyai harapan tinggi untuk menghidupkan kem¬bali sulaman tradisional yang telah meredup ini,” kata Choi ketika ditanya apakah peker¬jaannya tidak terlalu melelahkan. Menggali Esensi “Saya sekarang berusia lebih dari 80 tahun. Ketika saya masih muda, menjahit adalah bagian besar dari pekerjaan rumah tangga. Keluarga membuat pakaian mereka sen¬diri dan juga menyiapkan kain pengantin yang dihiasi dengan sulaman tangan. Saya anak bungsu dari tujuh bersaudara, dan saya secara alami menyulam karena itulah yang selalu dilakukan ibu saya. Saya menjadi ter¬tarik pada sulaman dengan sungguh-sung¬guh ketika saya dipuji karena sebuah sula-man yang saya buat untuk tugas sekolah. Ada saat ketika saya menyulam selama lebih dari 20 jam sehari, bahkan tanpa makan atau mandi.” Pada usia 17 tahun, Choi cukup berun¬tung dapat bertemu dengan Kwon Su-san, seorang penyulam terkenal pada saat itu, dan mulai mengikuti pelatihan formal. Pada saat dia mengambil pekerjaan menyu¬lam sebagai profesinya, sulaman tradisio¬nal Korea boleh dikatakan berada di masa hitam karena kebanyakan pelopor yang merintis jalan dalam kepopuleran sulaman adalah orang yang belajar menyulam di Jepang pada masa penjajahan Jepang. Sete¬lah pulang dari Jepang, mereka mengajar ketrampilan praktis yang bergaya Jepang untuk barang sehari-hari di sekolah menja¬hit dan universitas wanita. Kecenderungan ini terus berlanjut selama beberapa waktu. Pada tahun 1960-an, Choi membuka sebuah lembaga menyulam dan juga mulai menggali esensi dari sulaman tradisional Korea dengan tujuan untuk menghidupkan dan melestarikan budaya sulam tradisio¬nal tersebut. Upaya awalnya adalah mene¬rapkan desain tradisional pada barang-barang rumah tangga seperti ujung bantal dan bantal duduk (di lantai). Lama-kela¬maan, minatnya secara bertahap berkem¬bang, yaitu menampilkan lukisan tradisional dalam sulaman, lalu menafsirkan kembali karya seni kuno melalui sulaman dalam gayanya sendiri. “Seorang penyulam yang baik memer¬lukan tangan yang gesit dan selera warna yang bagus, tentu saja, tetapi yang lebih penting adalah desain. Jika seseorang hanya meniru atau mengikuti gaya orang lain, ia tidak bisa menciptakan gaya krea¬tifnya sendiri. Oleh karena itu, saya men-desain karya saya sendiri berdasarkan motif dari tembikar tradisional, lanskap, dan lukisan rakyat.” “Dunia Gudang Teratai.” 270×300cm. Lukisan sulam berdasarkan mandala di Kuil Yongmun di Yecheon, Provinsi Gyeongsang Utara, Choi dianugerahi Penghargaan Presiden pada Pameran Seni Kerajinan Tradisional Tahunan Korea 1988. Tantangan dan Prestasi Pada masa yang penuh dengan ketidakpe¬dulian terhadap budaya tradisional Korea, karya sulam Choi disambut hangat dan menarik perhatian semakin banyak orang. Karya-karyanya sangat populer di kalang¬an turis asing, tetapi Choi tidak terlalu ter¬tarik untuk menjualnya karena dia menem¬patkan pengembangan sulaman tradisional Korea di atas perolehan keuntungan eko¬nomi. Maka, pada pertengahan 1970-an, dia mulai berkonsentrasi pada penelitian dan pameran, mengerjakan sulaman berda¬sarkanlukisan Buddha yang diyakininya sebagai puncak dari seni tradisional Korea. Karya besarnya yang bertema Buddha, merepresentasikan puncak tujuh-dekade karirnya antara lain “Delapan Adegan dari Kehidupan Buddha” yang menggambarkan delapan fase kehidupan Sakyamuni dan “Buddha dari Tiga Dunia” yang menggam¬barkan Buddha dari masa lalu, masa kini, dan masa depan. Lukisan sulaman ini yang masing-masing memerlukan lebih dari 10 tahun untuk menyelesaikannya, dicirikan dengan kombinasi mewah dari teknik tra¬disional dan teknik kreatif, serta tekstur beragam yang dihasilkan dari pengguna¬an benang berbeda-beda, yaitu katun, wol, rayon, dan sutra. “Saya menaruh hati saya pada seti¬ap sulaman, bekerja seperti seorang bia¬rawan yang melakukan aktivitas spiritual dengan sepenuh hati. Setelah saya pertama kali menemukan lukisan asli dari ‘Delapan Adegan Kehidupan Buddha,’ yang dise¬but Palsangdo, di Kuil Tongdo, saya ber¬doa dan menunggu selama 10 tahun untuk sebuah kesempatan agar saya dapat meng¬gambarkan lukisan itu kembali dalam sula¬man. Akhirnya saya memperoleh izin kuil dan mulai bekerja, tetapi diperlukan 12 tahun untuk membuat delapan karya sula¬man yang berukuran lebih dari dua meter panjangnya. Saya bekerja dengan murid-murid saya; jika tidak, itu akan memakan waktu lebih lama lagi,” kata Choi. Semangat dan ketekunannya dihargai dengan hadiah bergengsi; sulaman “Dunia Repositori Teratai” versinya, berdasarkan Mandala di Kuil Yongmun di Yecheon, memenangkan Hadiah Presiden di Pamer¬an Seni Kerajinan Tradisional Tahunan Korea ke-13 pada tahun 1988. Pada tahun 1996, Choi ditetapkan sebagai “aset buda¬ya manusia” dalam seni sulaman, atau Kekayaan Budaya Tak Benda Nasional No. 80. Ini merupakan pengakuan resmi bahwa dia telah mencapai tingkat keahlian terting¬gi di bidangnya. “Nirvana Agung di Hutan Sala” dari “Delapan Adegan Kehidupan Buddha.” 236×152cm. Berdasarkan lukisan senama di Kuil Tongdo di Yangsan, Provinsi Gyeongsang Selatan, karya ini dicirikan oleh ekspresi yang rumit dan realistis. Menggambarkan delapan fase kehidupan Sakyamui, setiap lukisan berisi serangkaian episode yang menampilkan banyak tokoh dalam satu kanvas. “Integritas” (detail) dari layar lipat delapan panel “Ideografi Bergambar dari Kebajikan Konfusianisme.” 128×51 cm. Ketika Choi mulai mempelajari sulam tradisional pada 1960-an, salah satu minat utamanya adalah interpretasi ulang lukisan rakyat, termasuk ideografi bergambar. Pelestarian dan Pewarisan Sejarah sulaman tradisional Korea dapat dikatakan dimulai dari zaman Tiga Kerajaan (57 SM – 676 M). Orang-orang dari Kera¬jaan Goguryeo dan pendahulunya, Buyeo, diyakini telah mengenakan pakaian dengan sulaman warna-warni, seperti yang digam¬barkan di dalam “Buku Wei,” yakni litera¬tur tertua yang menyebutkan kebudayaan Korea dan merupakan bagian dari “Catatan Tiga Kerajaan” (Sanguozhi). Pada Dinasti Joseon (1392 – 1910), sebuah ruang menyu¬lam dibangun di dalam istana yang diper¬untukkan sebagai ruang untuk mendekorasi pakaian dan aksesori bagi keluarga kera¬jaan. Rumah tangga keluarga biasa juga memiliki warisan keluarga mereka sendiri di bidang kerajinan sulam ini. Fisafat yang dijunjung tinggi oleh Choi dapat dirumus sebagai serangkaian kata “simseonsinchim” yang berarti “Sulaman surgawi dari benang hati.” Perkataan terse¬but juga merupakan judul dari pamerannya yang diadakan di Pusat Seni Seoul pada tahun 2016.Dia menjelaskan, “Setiap karya dibuat melalui proses yang sangat sulit ditempuh. Pertama, saya memilih sebuah lukisan a sli, yang bernilai historis dan artistis sekaligus yang dapat diwujudkan sebagai sulaman. Kemudian, saya membuat sketsa di atas kain dasar. Begitu saya mulai menyulam, saya harus membuat keputusan demi kepu¬tusan dengan mempertimbangkan kese-luruhan gambar: warna dan tekstur untuk bahan dan benang, skema warna, teknik yang digunakan, dan seterusnya. Saat saya bekerja, saya yang secara personal memutar benang untuk memvariasikan ketebalannya, dengan menimbang keseluruhan komposi¬si dan lokasi bagian yang dimaksud. Saya menyulam lalu melepaskan sulaman itu, melakukan hal tersebut berulang kali sam¬pai saya puas dengan teknik yang diterap¬kan dan nada warna yang dihasilkan.” Melalui proses yang teliti ini, Choi melakukan segalanya untuk mencapai kesempurnaan. Dia menekankan pen¬tingnya untuk menggali esensi dan selalu mengikuti cara tradisional agar dia dapat meneruskan budaya kerajinan tangan ini ke generasi selanjutnya. Untuk tujuan ini, dia telah berkomitmen untuk mengajar sebagai Chair-professor (Guru Besar) di Departe¬men Institut Kostum, Universitas Busan. “Banyak orang menyadari bahwa sula¬man tradisional itu indah dan berharga, teta¬pi hanya sedikit yang mau mempelajarinya, dan bahkan yang mempelajarinya, keba¬nyakan menyerah di tengah jalan. Setelah menyelesaikan pelatihan yang layak, tetap diperlukan latihan bertahun-tahun sebelum seorang penyulam dapat diakui sebagai seo¬rang seniman. Ini adalah jalan sulit yang bagi kebanyakan bahkan tidak berusaha untuk mengikutinya,” katanya.Dia melihat kembali ke kehidupannya dalam memoarnya, “Sejarah dari Sulaman Choi Yoo-hyeon,” yang akan segera diter¬bitkan. Buku ini mencatat jejak langkahnya yang beralih dari benda-benda praktis rumah tangga ke lukisan rakyat, dan lalu ke lukisan Buddha. Dia juga sedang menyusun bahan pelajaran untuk para muridnya. Kemudi¬an, di samping portofolio dengan anotasi lebih dari dari 100 karyanya yang diterbit¬kan dalam beberapa buku, dia menulis buku tentang teknik asli miliknya, masing-masing dengan deskripsi dan penjelasan mendetail. Pada saat bersamaan, dia juga sedang dalam tahap akhir dari menyulam “Bodhisattva Avalokitesvara,” berdasarkan lukisan din¬ding yang diabadikan di Aula Cahaya Agung (Daegwangjeon) di Kuil Sinheung di Yang¬san, Provinsi Gyeongsang Selatan. Sulaman yang dijahit pada sutra ungu dengan hanya benang emas ini memberikan kesan men¬capai puncak dari kemegahan yang indah. Sulaman ini diperkirakan sebagai karya besarnya yang terakhir. Dia telah mengabdi¬kan tiga tahun waktunya untuk sulaman ini. “Saya pikir saya tidak akan mampu membuat karya besar seperti ini lagi. Saya merasa sulit untuk bekerja bahkan hanya untuk dua atau tiga jam sehari sekarang karena saya mudah kelelahan dan pengli¬hatan saya tidak sebaik dulu. Tampaknya kini waktunya bagi saya untuk mencurahkan energi saya hanya pada mengajar demi misi saya yang masih tersisa, yaitu untuk mewa¬riskan ilmu sebanyak yang saya bisa,” kata¬nya. Selama hampir setengah abad, Choi telah menyimpan semua karyanya, menolak untuk menjualnya. Bersama dengan ratus¬an potong sulaman modern dan tradisio¬nal yang telah dia kumpulkan dari seluruh penjuru negeri, karya-karyanya disimpan di Pusat Warisan Tak Benda Nasional di Jeon¬ju, Provinsi Jeolla Utara, dengan dukungan dari Administrasi Warisan Budaya. Dia ber¬harap dibangun sebuah museum baru khusus sulaman dalam waktu dekat untuk melestari-kan dan memamerkan koleksi seumur hidup¬nya selama mungkin. Demi artistic yang luar biasa, Choi menggunakan beragam teknik, baik tradisional maupun asli, serta benang dengan warna dan bahan yang beragam, seperti sutra, katun, wol, dan rayon, untuk mendapatkan tekstur yang halus. Selama tiga tahun terakhir, Choi telah mengerjakan “Bodhisattva Avalokitesvara,” berdasarkan mural di Aula Cahaya Agung di Kuil Sinheung di Yangsan, Provinsi Gyeongsang Selatan. Disulam di atas sutra ungu dengan hanya benang emas, memancarkan keanggunan dan kemegahan. Choi Hye-jung Penulis Lepas Ahn Hong-beom Fotografer

DILKUSHA ‘Istana Hati Riang’

Focus 2021 SUMMER 67

DILKUSHA ‘Istana Hati Riang’ FOKUS DILKUSHA ‘Istana Hati Riang’ ‘Dilkusha’ merupakan tempat tinggal warga negara Amerika bernama Albert Taylor (1875~1948) dan istrinya yang berkewarganegaraan Inggris, Mary Linley Taylor (1889~1982) yang pertama kali mengabarkan tentang Pergerakan 1 Maret 1919 ke luar negeri. Setelah melalui proses pemugaran selama beberapa tahun, rumah ini akhirnya dibuka kepada publik sebagai gedung peringatan pada 1 Maret tahun ini. Atap tempat bernaung mereka yang penuh impian dan cinta, serta semangat untuk membantu kemerdekaan Korea Selatan telah kembali ke wujudnya semula. Dilkusha, rumah bata merah bergaya Barat di Haengchon-dong, Seoul, dibangun pada tahun 1923 oleh pengusaha Amerika dan koresponden berita Albert Taylor dan istrinya, aktris Inggris Mary Linley Taylor. Sebuah foto lama rumah tersebut muncul di “Village Outside Donuimun, Under the Fortress Wall: History, Space, Housing,” diterbitkan pada tahun 2009 oleh Pemerintah Metropolitan Seoul. Dilkusha mencontohkan teknik konstruksi rumah bergaya Barat yang dibangun di Korea pada awal abad ke- 20. Dinding luar dibangun dengan meletakkan batu bata secara berdiri dan terlentang bergantian. Albert Taylor tiba di Korea pada akhir tahun 1890-an, ketika ayahnya memulai proyek penambangan emas di Provinsi Pyongan Utara. Taylor dan istrinya diusir ke Amerika oleh Jepang pada tahun 1942. Dia meninggal di California pada tahun 1948 dan abunya dibawa ke Korea untuk dibaringkan di samping makam ayahnya. Sebuah bangunan unik dua lantai dengan satu lantai bawah tanah dan dinding batu bata merah berdiri di tengah pemukiman padat di bukit Haengchon-dong di Kota Seoul. Rumah dengan batu landasan berukirkan ‘DILKUSHA 1923’ ini memiliki sejarah yang panjang. Seorang pria Amerika bernama George Alexander Tay¬lor (1829~1908) datang ke Korea bersama dua putranya bernama Albert dan William tidak lama setelah diumum¬kannya pendirian Kekaisaran Joseon di akhir tahun 1890- an. Dia datang untuk berbisnis tambang emas Unsan yang saat itu berlokasi di Provinsi Pyeongan Utara. Setelah meni¬kah dengan aktris Inggris bernama Mary Linley, Albert membangun rumah bergaya Barat untuk ditinggali sehari-hari yang disebut Dilkusha. Nama dari bahasa Sanskerta yang berarti ‘Istana Hati Riang’ tersebut diambil dari sebu¬ah istana di bagian utara India yang mereka kunjungi dalam perjalanan bulan madu. Rumah yang Terlupakan Albert tidak hanya menekuni industri tambang emas. Dia mendirikan W.W. Taylor & Company di Sogong-dong yang terletak di pusat Kota Seoul untuk mengimpor dan menju¬al bahan dasar bangunan, serta berbagai kebutuhan hidup termasuk mobil buatan Amerika. Selain itu, dia juga berpe¬ran menyampaikan kejadian yang berlangsung di Korea ke Amerika melalui korespondensinya dengan United Press International dan Associated Press. Putra Albert bernama Bruce Taylor (1919~2015) lahir di RS Severance tanggal 28 Februari 1919, tepat satu hari sebelum dimulainya Pergerakan 1 Maret oleh seluruh rakyat Korea untuk melawan pendudukan Jepang. Menurut catat¬an masa lalu Mary Linley Taylor berjudul Chain of Amber (The Book Guild Ltd., 1992), para perawat berkebangsa¬an Joseon menyembunyikan setumpuk dokumen penting di bawah selimut bayi yang baru dilahirkan itu untuk meng¬hindari penyelidikan polisi Jepang. Saat datang di malam harinya, Albert baru menyadari bahwa dokumen itu ternyata ‘Deklarasi Kemerdekaan Korea’. “Ini kan ‘Deklarasi Kemerdekaan Korea,’ serunya, Aku ingin menegaskan kejadian di hari itu yang bahkan masih membuatku sedih hingga hari ini. Albert yang saat itu baru saja menjadi reporter surat kabar terlihat lebih bersema¬ngat saat menemukan dokumen itu dibanding saat bertemu dengan putranya untuk pertama kalinya. Tepat malam itu, adik iparku Bill pergi meninggalkan Seoul menuju Tokyo membawa salinan deklarasi kemerdekaan tersebut dan arti¬ kel terkait karya Albert yang disembunyikan di bagian belakang sepatunya. Dia ingin mengirimkannya ke Ame¬rika melalui telegraf sebelum perintah pelarangan diturun¬kan.” Saat itu betapa sulitnya membayangkan seluruh rak¬yat bangkit serempak melawan kekuatan imperialisme. Namun, sebenarnya pergerakan rakyat besar-besaran tengah terjadi setelah sembilan tahun pendudukan Jepang di Joseon. Setelah dikirimkan, media berbahasa Inggris di Cina bernama ‘China Press’ untuk pertama kalinya mena¬yangkan artikel tersebut di tanggal 4 Maret yang kemudian disusul oleh ‘South Bend News-Time’ dari Indiana, Ame¬rika pada tanggal 10 Maret hingga akhirnya ‘New York Times’ menayangkan artikel berjudul ‘Rakyat Joseon Men-deklarasikan Kemerdekaan’ tanggal 13 Maret. Sejak itu, Albert semakin giat menulis dan memberi¬takan tentang pembantaian masyarakat dan kasus-kasus pembakaran yang dilakukan Jepang untuk menekan Per¬gerakan 1 Maret. Sebagai pengusaha, tentu saja dia beri¬siko mengalami berbagai macam kerugian dari Jepang. Walau begitu, dia tetap maju melawan bahaya untuk mem¬beritahu dunia tentang penekanan militer yang dilakukan Jepang, serta berkontribusi dalam pembentukan opini pub¬lik yang memihak pada Joseon. Bagi Jepang, tindakannya itu bagai duri di dalam daging. ‘Perang Pasifik’ akhirnya pecah tahun 1941 yang membuat Jepang melarang adanya penduduk berstatus ‘rakyat musuh negara’. Akibatnya, ten¬tara Jepang menangkap Albert di Desember tahun itu dan memenjarakannya selama enam bulan di kemah dekat Pen¬jara Seodaemun hingga akhirnya ia dideportasi ke Ameri-ka bersama istrinya di tahun berikutnya. Setelah itu, Albert dan keluarganya terlupakan dari ingatan rakyat Korea Selat¬an hingga akhirnya Bruce Taylor dan putrinya Jennifer Tay¬lor (1958~sekarang) berkunjung lagi di tahun 2006 atau 64 tahun sejak pasangan itu dideportasi. Ruang tamu lantai dua di Dilkusha. Berdasarkan foto-foto lama, perabotan meniru waktu keluarga Taylor di rumah tersebut. Perabotan dan aksesorisnya, seperti lukisan pemandangan, vas, lampu, kursi, dan peti tiga lantai, merupakan perpaduan antara Timur dan Barat. Kunjungan Keluarga Taylor Sepuluh tahun lalu saya mengunjungi Dilkusha. Saat itu, kondisi bagian luar maupun dalamnya sangat bobrok. Hasil pemeriksaan keamanan bahkan menyatakan bahwa rumah itu sudah tidak layak ditinggali lagi. Walau hanya dilihat sekilas dengan mata telanjang, batu bata yang sudah run¬tuh di mana-mana, serta baja yang terlihat di tengah-tengah beton yang hancur terasa sangat berbahaya. Tentara Jepang mendatangi rumah itu untuk menangkap keluarga Taylor sebelum mendeportasi mereka. Saat itu, pemerintah Kota Seoul dan pusat mulai ber¬gerak. Setelah sejarah Dilkusha diketahui publik berkat kedatangan Bruce dan putrinya, rumah tersebut didaftar¬kan sebagai Warisan Budaya Nasional di tahun 2017 untuk menghentikan kerusakan, serta melindungi nilai sejarah¬nya. Pekerjaan renovasi dimulai di tahun berikutnya hingga akhirnya dapat dibuka untuk publik di 1 Maret 2021 setelah interiornya diselesaikan. Foto-foto peninggalan Mary, terma¬suk Glenwood Heater digunakan sebagai dasar untuk mena¬ta perabotan dan hiasan kecil seperti vas bunga atau tempat lilin yang membuat kita seakan kembali ke tahun 1920-an. Sebanyak 1,026 buah barang dan foto peninggalan Albert dan istrinya telah disumbangkan ke Museum Sejarah Seoul yang tentunya semakin diperkaya dengan kehadiran Dilkus¬ha sebagai salah satu barang pameran. Rumah ini bukan sekadar ruang hidup sebuah keluarga pendatang asing. Dilkusha merupakan tempat bernaungnya tokoh utama yang menyebarluaskan fakta tentang perlawan¬an masyarakat terhadap penjajahan bukan hanya di Seme¬nanjung Korea, melainkan ke seluruh dunia. Mary dikuburkan di California setelah wafat pada usia 92 tahun di tahun 1982. Saat berkunjung ke Korea Selatan di tahun 2006, Bruce dan Jennifer menaburkan tanah yang diambil dari makam Mary ke makam Albert. Dikabarkan bahwa tanah tersebut digali dari makam Mary di California untuk ditaburkan di atas makam Albert. Ruang tamu lantai pertama di Dilkusha. Rumah itu dikembalikan ke penampilan aslinya dalam upaya dua tahun berdasarkan penelitian yang cermat. Bantuan-Bantuan dari Orang Asing Selain Albert Taylor, tidak sedikit orang asing yang mem¬bantu pergerakan kemerdekaan Joseon. Lelaki berkebang¬saan Inggris bernama Ernest T. Bethell (1872~1989) yang hidup sekitar 200 meter dari Dilkusha masuk ke Joseon di tahun 1904 dan menerbitkan ‘Korea Daily News’ bersama seorang jurnalis bernama Yang Gi-tak (1871~1938). Dia mengritik kebijakan invasi Jepang dan mendukung kemer¬dekaan Joseon melalui kegiatan persnya. Dia juga maju ke garis depan dalam Pergerakan Pembayaran Hutang Nasio¬nal yang digagas rakyat Joseon agar bisa melunasi hutang luar negeri berjumlah besar yang dibebankan Jepang kepada pemerintah Kekaisaran Korea Raya. Seorang wartawan bernama Frederick Mackenzie (1896-1931) dari surat kabar Inggris ‘Daily Mail’ menjelajahi hutan di Provinsi Gyeonggi, Chungcheong, dan Gangwon pada tahun 1906 hingga 1907 untuk menemui dan mem¬beritakan tentang para tentara rakyat yang melawan penja¬jahan Jepang. Usahanya ini kemudian menghasilkan ber¬bagai buku, termasuk “The Tragedy of Korea” (1908) dan “Korea’s Fight for Freedom” (1920). Buku-buku tersebut merupakan informasi berharga yang membuktikan banyak¬nya perang gerilya penuh semangat yang dilakukan oleh rakyat biasa untuk melawan invasi bangsa asing. Ada pula seorang misionaris sekaligus ilmuwan kelahir¬an Inggris berkebangsaan Kanada bernama Frank Schofield (1889-1970) yang bekerja sukarela sebagai tenaga penga¬jar di Severance Medical School. Saat itu, dia mengabarkan kepada media asing mengenai pembantaian rakyat Jose¬on yang dilakukan oleh Jepang. Akibatnya, dia dideportasi paksa pada tahun 1920 sebelum akhirnya kembali ke Korea di tahun 1969 hingga akhir hayatnya. Dia merupakan warga asing pertama yang disemayamkan di Taman Makam Nasi¬onal Seoul. Selain mereka, ada pengacara hak asasi manusia berke¬bangsaan Jepang bernama Fuse Datsuji (1880-1953) yang membela secara hukum para penggerak kemerdekaan Jose¬on, warga negara Tiongkok bernama Chu Fucheng (1873- 1948) yang membantu pemerintahan sementara Korea, Su Jinghe (1918-2020) yang bertugas sebagai mata-mata untuk tentara kemerdekaan Korea, serta masih banyak warga asing lainnya. Dilkusha merupakan tempat berharga yang mampu membuat kita mengingat sejarah tersebut. Kwon Ki-bong Penulis Ahn Hong-beom Fotografer

People

Berburu Uang Cepat

Lifestyle 2021 SUMMER 88

Berburu Uang Cepat CULTURE & ART--> Berburu Uang Cepat Pandemi COVID-19 memicu aksi jual saham besar-besaran. Tetapi lonjakan kuat yang mengikuti, melahirkan generasi baru investor yang mencari solusi bagi situasi rumit pendapatan dan simpanannya. Im Su-bin, seorang senior perguruan tinggi beru¬sia 29 tahun, baru-baru ini mulai berinvestasi di saham dengan 300.000 won (sekitar US $ 260) yang dia peroleh dengan bekerja paruh waktu. Mes¬kipun kerja magang tidak terlalu sulit di Korea, tam¬paknya mustahil untuk mendapatkan pekerjaan penuh waktu yang layak karena perusahaan ragu-ragu untuk menambah karyawan tetap. Karena putus asa, saya pin¬dah ke perdagangan saham untuk membantu menutupi biaya.Kim A-ram, penerjemah lepas berusia 33 tahun, berencana menghabiskan sebagian tabungannya untuk bulan madu Desember lalu. Tetapi peraturan untuk mencegah penularan COVID-19 membuat banyak kera¬bat dan teman tidak dapat menghadiri pernikahannya. Maka dia menundanya dan menaruh simpanan bulan madunya di pasar saham. Dia menggantungkan harap¬annya pada peningkatan pasar yang akan menghasil¬kan uang sebanyak mungkin untuk membantu memulai kehidupan pernikahannya.Kedua investor pemula ini bukanlah orang langka dalam kelompok usia mereka. Pada tahun 2020, terda¬pat 9,14 juta investor individu di pasar saham Korea, dan sekitar sepertiga dari mereka adalah pendatang baru, menurut Korea Securities Depository.Jumlah total saham yang dimiliki oleh investor per¬orangan mencapai 662 triliun won pada akhir 2020, naik 243 triliun won dari 419 triliun won pada akhir 2019. Investor individu menyumbang 28 persen dari total nilai pasar, naik 3,6 persen dalam tahun.Laki-laki memiliki saham senilai 489 triliun won, lebih dari dua kali lipat jumlah yang dimiliki oleh perempuan (senilai 173 triliun won), tetapi perempu¬an ternyata unggul dalam memilih saham; Nilai saham milik investor wanita meningkat 77 persen, dari 97 trili¬un won pada 2019 menjadi 173 triliun won pada 2020. Sementara itu, saham milik investor pria naik 52 per¬sen, dari 321 triliun won menjadi 489 triliun won, pada saat yang sama. Banyak aplikasi daring memfasilitasi transaksi saham. Pialang menawarkan insentif untuk menangkap peningkatan pesat investor baru di usia 20-an dan 30-an, banyak dari mereka yang disebut “semut” yang berharap untuk mengubah gaji rendah menjadi keuntungan besar. Kesempatan BerbelanjaGenerasi muda di Korea telah berjuang untuk menda¬patkan pekerjaan yang stabil dan teratur selama bebe¬rapa dekade. Sejak krisis keuangan Asia 1997 dan kri¬sis keuangan global 2008, perusahaan-perusahaan telah mengurangi pekerja penuh waktu, sebagai gantinya mengandalkan perekrutan pekerja jangka pendek. Seca¬ra bersamaan, suku bunga rendah yang berkepanjangan telah membuat rekening tabungan tidak dapat diguna¬kan. Hal ini telah membuat generasi dewasa muda ber¬juang secara finansial, untuk berkata ‘ya’ dalam mena¬bung demi pernikahan atau membeli rumah.Kemudian COVID-19 membuka jendela kesempat¬an. Pada 5 Januari 2020, patokan Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) ditutup pada 2206. Tetapi karena ancaman eksistensial pandemi terhadap pereko¬nomian menjadi lebih mengkhawatirkan, KOSPI ping¬san hingga akhirnya mencapai titik terendah pada 1566, kerugian 29 persen, pada 20 Maret. Hal itu pulih kare¬na Korea memanfaatkan beban kasus COVID-nya, dan optimisme atas pengembangan vaksin, stimulus peme¬rintah, dan pemulihan ekonomi memicu pertumbuhan tajam.Harga saham berada pada level tawar-menawar dan stabilitas kenaikan untuk kembali ke normal ber¬arti keuntungan dengan cepat dapat diraih. Gelom¬bang anak muda membuka rekening untuk “menda¬yung perahu mereka sendiri saat air datang,” seper¬ti kata pepatah. Kemudian, seiring berlalunya tahun, pasar tenaga kerja memberi mereka lebih banyak alasan untuk mencari uang tunai dengan cepat. Menurut Sta¬tistik Korea, 3,51 juta orang berusia 20-an memiliki pekerjaan pada Desember 2020, turun 3,9 poin per¬sentase dari tahun sebelumnya, dan turun lebih drastis daripada kelompok usia lainnya. Secara proporsional, tingkat pengangguran naik, dengan usia di antara 20-an meningkat 0,9 poin persentase per tahun di Desember 2020.Individu, terutama investor pemula berusia 20-an dan 30-an, dilaporkan menyumbang sebagian besar peningkatan dalam perdagangan saham selama tahun 2020 - dan kegilaan oportunistik mereka terbayar dengan sangat baik. KOSPI menutup tahun 2020 pada 2.873,47, lebih dari 80 persen di atas level terendah tahun ini di bulan Maret. Perhatian MediaKata-kata dan frasa baru telah menyertai gelombang besar ini. Salah satunya adalah “Gerakan Semut Dong¬hak,” yang berasal dari pengikut petani Donghak, atau “Pembelajaran Timur,” yang memberontak melawan gangguan asing menjelang akhir abad ke-19 selama era Joseon. Istilah tersebut menyiratkan bahwa investor muda berskala kecil membeli saham untuk melindungi pasar saham domestik dari investor institusi asing. “Semut” mengacu pada pekerja muda yang digaji. Kata kunci lainnya adalah jurini, yang berasal dari jusik (saham) dan eorini (anak), yang berarti “investor saham pemula”.Liputan media juga meluas. Di masa lalu, hanya saluran TV yang didedikasikan untuk bisnis yang beru¬rusan dengan saham dan investasi. Tetapi hari ini, bah¬kan acara hiburan mencakup topik-topik ini. Contoh tipikal adalah “March of the Ants,” sebuah variety show KakaoTV yang dibawakan oleh selebriti. Diluncurkan September lalu, program ini menampilkan bagaimana selebriti berinvestasi di saham menggunakan akun yang dibuka atas nama mereka. Ini mendapat tanggapan yang baik dari penonton dan telah tersedia di Netflix. Setiap episode rata-rata ditonton dua juta kali.Sementara itu, MBC TV memperkenalkan acara bincang-bincang yang berfokus pada perdagangan saham, “Ant’s Dream”, terbagi atas dua bagian pandu¬an. Pakar ekonomi memberikan penjelasan rinci kepada selebriti tentang dasar-dasar perdagangan saham. Dan di SBS TV, episode khusus dari variety show “Run¬ning Man” yang telah lama berjalan menampilkan ske¬nario pasar saham tiruan. Pembawa acara TV populer Yoo Jae-suk juga berbicara dengan tiga investor saham muda sebagai bagian dari acara “Hangout with Yoo” di SBS pada bulan Maret. Volume penjualan dan pendapatan dari pembukuan saham, investasi, dan reksa dana meningkat lima kali lipat pada kuartal pertama tahun 2021 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020, menurut Interpark, sebuah platform buku daring. Tren AbadiPara ahli percaya bahwa antusiasme orang dewasa muda untuk perdagangan saham memiliki keberlan¬jutan jangka panjang. Selama beberapa dekade, tidak ada pemasukan yang berarti dari pekerjaan yang rapuh dan harga rumah yang melambung tinggi. Terlepas dari serangkaian tindakan pencegahan pemerintah, harga apartemen di Seoul, tempat tinggal hampir setengah penduduk Korea, naik berlipat ganda selama beberapa tahun terakhir.Dengan menguapnya impian mereka untuk memi¬liki rumah, kaum muda dengan sendirinya menun¬da pernikahan hingga mereka dapat menabung cukup banyak. Pada tahun 2020, jumlah pernikahan jatuh ke titik terendah sepanjang masa sejak pencatatan dimulai pada tahun 1970. Sekitar 214.000 pasangan menikah tahun lalu, turun 10,7 persen per tahun, menurut Pusat Statistik Korea. “March of the Ants,” sebuah acara varietas KakaoTV yang memberikan tips investasi saham kepada investor pemula, telah diperbarui untuk musim keempat. Sebuah survei oleh layanan portal pekerjaan online JobKorea menemukan tiga dari setiap 10 mahasiswa di negara tersebut berinvestasi di saham. Sekitar setengah dari mereka terjun ke pasar saham kurang dari setahun yang lalu karena pandemi COVID memperburuk prospek pekerjaan mereka yang sudah melemah. “Usia 20 dan 30-an saat ini benar-benar berbeda dari generasi sebelumnya, yang membeli mobil dan bermimpi membeli rumah di usia 20-an dan 30-an dengan menabung gaji bulanan mereka,” kata Park Sung-hee, seorang rekan senior di Institut Riset Tren Korea. “Akhir-akhir ini, kaum muda menyewa mobil, dan membeli rumah adalah hal yang mustahil bagi mereka.”“Daripada menabung untuk masa depan yang jauh, mereka mencari peluang untuk mendapatkan keuntung¬an dari investasi jangka pendek yang dilakukan dengan sedikit uang,” katanya. “Pekerjaan sulit ditemukan dan tidak ada yang menjamin pekerjaan seumur hidup. Tren ini menjadi makin mencolok sejak merebaknya pande¬mi virus korona.”“Kaum muda mencari target investasi yang tidak membutuhkan kontak langsung. Dalam situasi yang hampir tidak mungkin untuk bepergian ke luar negeri dengan bebas, mereka secara alami mengalihkan pan¬dangan mereka ke perdagangan saham, yang dapat mereka lakukan dengan mudah menggunakan smart-phone,” tambah Park. Ra Ye-jin Ekonom; Reporter, Harian JoongAng Ilbo S

Kekuatan Tinta Melukiskan Perasaan

Interview 2021 SUMMER 84

Kekuatan Tinta Melukiskan Perasaan CULTURE & ART --> Kekuatan Tinta Melukiskan Perasaan Terjemahan novel grafis Keum Suk Gendry-Kim menarik pengakuan global – semuanya karena “Grass”, yang menyelami rasa sakit dari “wanita penghibur” yang dipaksa menjadi budak seksual masa perang oleh militer Kekaisaran Jepang. Adegan dari “Grass”, sebuah novel grafis karya Keum Suk Gendry-Kim, menggambarkan seorang “perempuan penghibur”, korban perbudakan seksual masa perang Kekaisaran Jepang.Gendry-Kim mengeksplorasi peristiwa-peristiwa sejarah besar dalam novel grafisnya sambil juga memusatkan kisah-kisah mereka sebagai masyarakat pinggiran. Keum Suk Gendry-Kim menyelam jauh ke dalam penderitaan manusia. Subjeknya adalah orang Korea dan latarnya adalah peristiwa dalam seja¬rah Korea. Namun demikian, kesedihan yang timbul dalam karya-karyanya memunculkan pemahaman dan pujian lintas budaya. Novel grafisnya tahun 2017, “Grass,” yang menam¬pilkan salah satu “wanita penghibur” yang menjadi korban militer Jepang sebelum dan selama Perang Dunia II, adalah puncak dari pengakuan yang dia peroleh sejauh ini. “Grass” edisi bahasa Inggris dirilis pada tahun 2019 oleh penerbit Kanada Drawn & Quarterly dan dengan cepat menuai pujian. The New York Times menamakannya salah satu komik terbaik dalam daftar buku terbaik tahun 2019, dan The Guardian juga menyebutnya sebagai salah satu novel grafis terbaik tahun ini. Pada tahun 2020, “Grass” dianugerahi 10 penghargaan, termasuk Penghargaan Esai Krause dan Penghargaan Studio Kartunis, serta Anuge¬rah Harvey untuk Buku Internasional Terbaik di New York Comic Con. “Grass” baru-baru ini tersedia dalam bahasa Portu¬gis dan Arab. Buku lain oleh Gendry-Kim adalah “Jise¬ul” (2014), yang menggambarkan tragedi pemberontak¬an Jeju pada tahun 1948 melawan pembagian Korea, dan “Alexandra Kim, a Woman of Siberia” (2020), yang mene¬lusuri kehidupan dan masa dari Bolshevik generasi perta¬ma Korea. Karya Gendry-Kim yang terbaru, “The Waiting,” mengenai perpisahan keluarga, telah diterbitkan dalam bahasa Prancis dan dalam proses publikasi edisi bahasa Inggris, Portugis, Arab, dan Italia. Di sebuah kafe di Pulau Ganghwa, tempat tinggalnya sekarang, Gendry-Kim mem¬bagikan pemikirannya. Bagaimana Anda bisa menjadi seorang novelis grafis? Nah, setelah saya mengambil jurusan lukisan gaya Barat di Korea, saya pergi ke Prancis untuk belajar seni instala¬si di École Supérieure des Arts Décoratifs de Strasbourg. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, saya bekerja paruh waktu menerjemahkan karya kartunis Korea ke dalam baha¬sa Prancis, yang akhirnya membuat nama saya sedikit dike¬nal di arena itu. Sebenarnya, saya menerjemahkan lebih dari 100 buku komik Korea dan membantu mereka mendapat¬kan pembaca Prancis. Kemudian suatu hari, sebuah surat kabar Korea yang berbasis di Prancis bertanya apakah saya tidak tertarik untuk mencoba menggambar komik sendiri. Sementara itu, menerjemahkan semua komik itu membuka mata saya pada kemungkinan bentuk seni. Saya terpesona oleh fakta bahwa para penulis ini dapat mengekspresikan diri mere¬ka dengan begitu bebas dan penuh hanya dengan kertas dan pensil. Jadi saya mulai menggambar, satu per satu, dan tak lama kemudian saya punya cukup banyak. Sejak awal, saya menghabiskan banyak waktu dan tenaga memikirkan bagaimana cara terbaik menangkap aliran percakapan, baik dalam gelembung percakapan atau sebaliknya. Karya siapa yang memengaruhi Anda? Dari segi cerita, saya telah dipengaruhi oleh banyak penulis Korea. Lee Hee-jae dan Oh Se-young, misalnya, adalah dua sosok yang muncul dalam pikiran; mereka berkarya dengan sangat baik yang mewakili figur ayah dari generasi kami dalam bentuk buku komik. Dari segi seni, karena sebagi¬an besar karya seni saya lebih abstrak daripada representa¬si, atau bahkan instalasi atau ukiran, saya selalu mengang¬gap diri saya tidak terlalu ahli dalam menggambar. Meski begitu, di antara pelukis yang pasti memengaruhi gaya gra¬fis saya adalah Edmond Baudoin dan Jose Muñoz, yang menerbitkan versi novel grafis “The Stranger” dari Camus - terutama dalam hal menekankan bobot sapuan kuas hitam. Karya-karya David B. dan Jacques Tardi, juga, telah mem¬bantu membentuk ciri khas saya dalam banyak hal. Karya awal mana yang paling baik memperkenalkan Anda? Saya cenderung merangkai otobiografi dengan berbagai hal yang saya rasakan dalam kehidupan sehari-hari dan kisah individu orang yang saya temui. Saya mencoba memusat¬kan pada cerita yang paling sungguh-sungguh yang mun¬cul saat saya mengaitkan relasi antara hal-hal yang secara langsung saya alami serta berbagai peristiwa bersejarah dan masalah sosial. Di antaranya, “Le chant de mon père” (The Song of My Father, 2013) adalah cerita yang berlatar bela¬kang Korea tahun 1970~1980-an, ketika alasan ekonomi memaksa keluarga petani biasa di pedesaan berpindah ke Seoul untuk mencoba membangun sebuah hidup baru. Itu¬lah saya mengangkat periode sulit dalam sejarah keluarga saya sendiri sebagai lensa untuk merefleksikan pengalaman Korea yang cukup universal pada saat itu. Kalau ayah Anda merupakan subjek di tahap awal, sekarang ibu Anda yang menjadi subjeknya. 『“The Waiting” (2020) adalah karya yang sepenuhnya ten¬tang ibu saya. Dua puluh tahun yang lalu ketika saya bel¬ajar di Paris, ibu saya datang mengunjungi saya, dan saat itulah dia berbagi sesuatu dengan saya untuk pertama kali¬nya: bahwa saudara perempuannya, bibi ibu tertua saya, berada di Korea Utara. Dahulu kala, keluarga mereka mela¬kukan perjalanan besar dari rumah mereka di Goheung, Provinsi Jeolla Selatan, sampai ke Manchuria, singgah di Pyongyang. Sesuatu terjadi ketika mereka berada di sana dan ibuku kembali ke Selatan tetapi bibi tertua saya tetap tinggal di sana. Sebelum ibu memberi tahu tentang hal ini, saya tidak tahu bahwa itu adalah bagian dari kisah keluarga kami. Ibu sangat kecewa ketika dia tidak terpilih menjadi bagian dari upaya reuni keluarga Utara-Selatan yang dija¬lankan oleh Kementerian Unifikasi. Ini membuatnya merasa lebih penting bagi seseorang untuk menceritakan kisahnya, dan saya memutuskan bahwa itu akan menjadi semacam hadiah, persembahan yang didedikasikan untuk ibu saya. Namun, perpisahan keluarga adalah masalah yang jauh melampaui kisah keluarga saya sendiri; ini adalah masalah universal yang dihadapi oleh semua umat manusia, bah¬kan terjadi sekarang di daerah yang dilanda perang di selu¬ruh dunia. Pada akhirnya, saya ingin meliput cara perang menghasilkan korban yang rentan, dalam pengungsian dan pemencaran mereka. “Grass” bisa juga disebut sebagai tragedi kemanusiaan. Jika saya mencoba dan mengingat ketika saya pertama kali berangan-angan menulis “Grass”, saya pikir titik awal sebe¬narnya adalah pada awal 1990-an, ketika saya melihat sebu¬ah film dokumenter tentang penderitaan para wanita peng¬hibur. Kemudian, di Prancis, saya bekerja kontrak sebagai penerjemah untuk sebuah acara tentang wanita penghibur, dan ketika saya melakukan penelitian untuk itu, saya akhir¬nya belajar lebih banyak detail. Ini adalah bagaimana saya akhirnya mengirimkan cerita pendek “Secret” ke Festival Internasional 2014 de la Bande Dessinée d’Angoulême. Saya ingin menyuarakan kehidupan dan rasa sakit para kor¬ban wanita penghibur dari sudut pandang sesama wanita. Karena “Secret” adalah potongan yang pendek, saya tidak dapat menjelaskan sedalam yang saya inginkan untuk topik yang berat. Jadi saya terus mengerjakannya selama tiga tahun lagi, pada akhirnya, dan penuh rasa nyeri, akhir¬nya mengubahnya menjadi novel panjang penuh. Saya men-dekati masalah wanita penghibur sebagai masalah kekeras¬an terhadap yang rentan, imperialisme dan stratifikasi kelas. Bertemu dan mewawancarai Nenek Lee Ok-seon, yang muncul dalam novel, saya sangat sedih karena dia dibung¬kam. Nenek Lee adalah korban perang yang kejam dan menyedihkan, tidak dapat berbicara. Tetapi bahkan setelah perang, masyarakat arus utama ingin dia tetap diam. Saya ingin berbicara dengan atmosfer itu. Mengapa karya Anda memiliki daya tarik yang begitu luas? Memang benar bahwa Prancis telah melihat rilis sebagian besar karya saya dalam terjemahan. Ketika berbicara ten¬tang terjemahan bahasa Jepang dari “Grass,” saya cukup terkejut melihat penduduk setempat mengadakan kampanye urun-dana untuk membantu membayar publikasi dan dis¬tribusinya dalam bahasa Jepang. Lebih dari segalanya, saya sangat berterima kasih kepada semua penerjemah. Cerita saya cukup berbeda dan cenderung tentang rasa sakit, yang tidak mudah untuk dikomunikasikan lintas budaya. Terima kasih kepada orang-orang seperti Mary Lou, yang mener¬jemahkan bahasa Italia; Penerjemah Korea-Amerika Janet Hong, yang menguasai bahasa Inggris; dan Sumie Suzu¬ki, yang menerjemahkan bahasa Jepang, sehingga pembaca di banyak negara dapat merasakan sepenuhnya makna dari karya tersebut. Apakah Anda punya proyek baru sekarang? Saya telah berjalan-jalan dengan anjing saya setiap hari tanpa bolong. Itu bukan satu-satunya alasan, tentu saja, tapi saya memiliki sketsa lengkap untuk sebuah buku ten¬tang hubungan antara anjing dan manusia. Judul karya saya untuk saat ini, adalah “Dog.” Novel grafis terbaru Gendry-Kim menggambarkan hubungan antara anjing dan manusia. Ini dijadwalkan untuk diterbitkan oleh Maumsup Press di Seoul akhir tahun ini dan Futuropolis di Prancis pada awal 2022. Novel grafis Gendry-Kim (searah jarum jam dari kiri): edisi bahasa Inggris “Grass,” diterbitkan oleh pers Kanada Drawn & Quarterly pada tahun 2019; “The Waiting,” diterbitkan di Korea tahun lalu oleh Ttalgibooks; “Alexandra Kim: Daughter of Siberia” tahun lalu dari penerbit Korea Seohaemunjip; edisi Prancis “The Waiting,” dirilis Mei ini di Prancis oleh Futuropolis; edisi bahasa Inggris “Menunggu,” akan datang September ini dari Drawn & Quarterly; “Grass” edisi Korea 2017 dari Bori Publishing; “Grass” edisi Jepang tahun lalu dari Korocolor Publishers; dan edisi Portugis “Grass” tahun lalu dari penerbit Brasil Pipoca & Nanquim. Kim Tae-hun Reporter, Mingguan Kyunghyang Ha Ji-kwon Fotografer

Nikolaos Kordonias KEPUASAN SEMPURNA NIKO

In Love with Korea 2021 SUMMER 68

Nikolaos Kordonias KEPUASAN SEMPURNA NIKO CULTURE & ART--> Nikolaos Kordonias KEPUASAN SEMPURNA NIKO Juru masak Nikolaos Kordonias dengan gembira lama menyajikan masakan Mediterania sejak masa kecilnya, memasak semua makanan di restorannya di Seoul, tempat ia menetap setelah bertahun-tahun di jalan, dalam banyak dapur. Di gang kecil yang hanya satu blok dari Ikseon-dong, di pusat kota tua Seoul, surga budaya Yunani yang tak terkira menanti. Niko Kitchen, menempati hanok, atau rumah tradisional Korea, memperlihatkan peng¬abdiannya pada masakan Yunani sejati, memba¬ngun pelanggan setia. Setiap pagi, pemilik-koki Nikolaos Kordonias secara pribadi membuka gerbang restorannya yang bertempat di rumah bergaya tradisional Korea di dekat Istana Changdeok, Seoul. Papan nama adalah transliterasi dari Dapur Niko. Juru masak pemilik sebuah restoran, Nikolaos Kordonias, lebih dikenal hanya sebagai “Niko,” penuh kegembiraan dibesarkan di Samothra¬ce, sebuah pulau di Laut Aegea yang merupakan rumah suci bagi Dewa Agung yang mistis, terma¬suk Nike, dewi kemenangan bersayap. Deskripsi Niko tentang tempat kelahiran kunonya sangat indah. Ini memunculkan gam¬baran yang familiar tentang sebuah pulau Yuna¬ni yang dipenuhi dengan vila-vila bercat putih: “Orang-orang yang menawan, tenang, baik. Irama hidupnya lambat. Orang-orangnya rileks dan santai. Mereka tidak khawatir. Mereka punya rumah, pekerjaan. Mereka tidak berharap banyak dari kehidupan. Tapi mereka memiliki standarnya sendiri dan mereka senang.”Dan tentu saja, ada “makanan yang sangat enak”. Percakapan berlanjut tentang produk organik, ayam segar, dan ikan lezat dari air biru kobalt di sekitar Samothrace. Saat tumbuh dewasa, makanan yang dimasak ibu dan neneknya memikatnya. “Itu karena aromanya, menurutku,” kata Niko.Semua itu menjelaskan bagaimana kehidupan dan pekerjaannya hari ini. Ketika tiba di Korea pada tahun 2004, dia langsung memperhatikan aroma makanan yang berbeda. Segera saja, aroma memandu arah jalan santainya. “Aroma warung makan, masakan di jalanan. Sangat berbeda. Terdapat di udara - cabai, kimchi,” kenangnya.Niko menerima tawaran untuk bekerja di Santorini, restoran Yunani yang sekarang sudah tutup di Itaewon, lingkungan Seoul yang semarak dengan cita rasa internasional. Dia tidak memiliki firasat sebelumnya seperti apa Korea itu, tidak ada pengalaman kecuali pelajaran taekwondo masa kecil. Tapi datang ke sini bukanlah keputusan yang sulit; berpindah itu wajar baginya. Setelah bekerja di kapal pesiar yang berkeliling di sekitar pelabuhan Mediterania dan Karibia, dia belajar di sebuah institut kuliner di New York dan bekerja di Manhattan dengan juru masak terkemuka. Kemudian dia menghabiskan sekitar enam tahun di Kanada, di mana seorang kenalannya memiliki beberapa restoran. Niko yang memasak semuanya. Menunya menampilkan masakan rumah Yunani dan sedikit hidangan Spanyol dan Italia. Dapur Niko hanya memiliki empat atau lima meja, jadi disarankan untuk melakukan reservasi. Niko berharap pada akhirnya memiliki restoran yang lebih besar dan menyajikan makanan Yunani secara eksklusif. Mendirikan Rumah Korea Saat memasak di Itaewon, Niko bertemu dengan Seo Hyeon-gyeong, yang kebetulan bekerja di gedung yang sama dengan Santorini. Mereka bertemu satu sama lain datang dan pergi serta akhirnya menikah. Niko menyimpan keinginannya untuk kembali ke Yunani dan Seo mengesam-pingkan rencana pergi ke Jepang, tempat dia tinggal selama bertahun-tahun. “Beberapa hal memang harus terjadi,” kata Niko tentang bagaimana Seoul menjadi rumah permanennya.Pada 2018, Niko dan istrinya membuka Niko Kitchen. Dia tidak mencari hanok secara khusus, tetapi gaya arsitekturnya membuatnya senang. Ketika dia mengambil alih kepemilikan, dua patung batu haechi, hewan mitos pemakan api, terdapat pada kafe yang sebelumnya menempati gedung tersebut. Sekarang mereka berjaga-jaga di halaman kecil yang indah yang dipenuhi pohon-pohon berbunga dalam pot.Niko Kitchen berada di gang yang dulu pernah digunakan oleh tentara Dinasti Joseon saat mereka berpatroli di sekitar kuil leluhur kerajaan. Bersebelahan dengan kuil adalah Istana Changdeok, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO. Di dekatnya ada kuil Buddha bersejarah, dan hanya beberapa langkah di sepanjang gang adalah Museum Saekdong, yang memamerkan kain tradisional Korea dengan garis-garis warna-warni.Restoran buka setiap hari, dan Niko memasak semuanya. Istrinya menyebut dia gila kerja, tetapi Niko tampaknya sangat bahagia. “Ini adalah hidup saya dan saya menyukainya,” katanya. “Saya suka makanan. Saya suka orang-orang menyukai makanan dan tersenyum lalu datang lagi.”Pada jam antara makan siang dan makan malam, Niko memanjakan dirinya sendiri beristirahat; berjalan-jalan di sekitar Seoul, ke istana dan kuil, dan ke Cheonggyecheon, sungai yang telah dipulihkan mengalir melintasi pusat kota. Sebelum pandemi, dia bersantai di sauna, tetapi hal itu ditekannya untuk saat ini. Salad Yunani yang dibuat dengan tomat segar, zaitun, mentimun, dan bawang bombay dan ditaburi keju feta yang rapuh adalah salah satu hidangan khas Dapur Niko. Memori akan Yunani menghiasi Dapur Niko. Magnet yang memuat foto tempat-tempat terkenal Yunani menutupi satu sisi lemari es. Ditemukan oleh Pencinta KulinerBerada di tempat yang tenang jauh dari hiruk pikuk aktivitas Ikseon-dong, Niko Kitchen hanya memiliki sedikit pelanggan yang datang. Namun demikian, pesanan selalu penuh. Selera makan orang Korea yang tak pernah terpuaskan untuk acara memasak mendorongnya ke restoran, dan Niko muncul sebagai tamu dan juri di beberapa program TV, seperti Yeogi GO dan O’live Show (di saluran kabel Olive). Ketika eksposur media membengkak, calon pengunjung muncul di pagi hari, menelepon dan mengirim email setiap jam. Niko mengakui manfaat dari tayangan TV, tetapi untuk saat ini, dia ingin fokus pada dapurnya sendiri.Menu didasarkan pada masakan rumahan Yunani. Moussaka, hidangan tradisional yang terbuat dari terong dan daging giling, adalah makanan favorit pelanggan selama bertahun-tahun. Hidangan populer lainnya adalah salad Yunani yang dibuat dengan keju feta, salad burrata, souvlaki ayam, dan saganaki udang.Karena makanan Yunani masih asing bagi banyak orang Korea, menunya juga termasuk pizza dan pasta, tetapi dibuat dengan gaya Niko sendiri dengan adonan asam (sourdough). Dia memilih masakan paduan kehendaknya tidak terikat. Dia suka kebebasan menyendok masakan Spanyol atau Italia saat suasana hatinya bagus.Namun, kunci makanannya selalu sama: gaya Mediterania, sehat dan dibuat dengan bahan-bahan alami yang segar; kebanyakan vegetarian, tanpa gula dan sedikit menggoreng. Pada awalnya, untuk memperoleh bahan-bahan Yunani sangat bermasalah, tetapi belakangan ini dia dapat menemukan semua yang diinginkannya secara daring. Ketika suatu jenis keju atau bahan lain harus diperoleh dengan segera, dia mampir ke toko-toko di Itaewon, tempat dia tinggal sampai sekarang, dalam perjalanan ke tempat kerja.Seperti kebanyakan restoran, Niko Kitchen kehilangan bisnis karena pandemi COVID-19. Tapi sekarang sudah pulih sepenuhnya. Banyak pelanggan tetap, termasuk staf dari Kedutaan Besar Yunani dan bahkan biksu dari kuil di dekatnya, yang bagian depan berwarna-warni menampilkan pemandangan sutra Buddha dapat dilihat dari atas gerbang depan restoran. Para pengunjung menikmatii makanan tanpa tergesa-gesa, menyesap anggur dan mengaso. Inilah yang suka dilihatnya, suasana hati yang ingin Niko ciptakan. Hari-Hari MendatangKetika dia merenungkan tentang negeri angkatnya, Niko menyebutkan bangunan dan jalan yang terawat baik, tiadanya pemandangan umum seperti grafiti, dan penduduk yang berpendidikan dan sopan. “Ini seperti surga, tempat yang sempurna. Itu sebabnya saya senang berada di sini,” jelasnya.Meskipun dia mengatakan tidak terlalu merindukan Yunani, setelah pandemi berakhir dan dunia mulai sembuh, Niko ingin kembali ke Samothrace. Dia ingin sedikit bersantai, melihat keluarga dan teman-temannya, makan makanan enak dan memancing di laut. Dia juga menantikan langkah selanjutnya dalam hidupnya, yaitu membuka restoran yang lebih besar yang menunya adalah hidangan Yunani eksklusif, bukan paduan. Dia telah menguji keadaan dan sekarang memiliki ide tentang apa yang disukai dan tidak disukai orang. Karena itu, dia mengantisipasi untuk menerapkan semua pengalaman dan ilmunya di satu tempat. “Saya ingin membuat orang bahagia - dan menghasilkan uang juga,” katanya.“Makan masakan enak dan kamu akan merasa baik.” Ini adalah filosofi sederhana Niko. Istrinya menyela dengan ucapan yang memperjelas: Niko suka hamburger dan sesekali menikmati Kentucky Fried Chicken. Makanan adalah yang membawanya ke Korea, yang membuatnya tetap di sini dan yang membuatnya bahagia. “Pada akhirnya, jika orang tidak puas, Anda lelah. Tetapi jika orang puas dan tersenyum, maka semua masalah dan kelelahan Anda akan hilang.” Cho Yoon-jung Penulis Lepas dan Penerjemah Heo Dong-wuk Fotografer Heo Dong-wukFotografer

Membawa Kembali ke Masa Lalu

An Ordinary Day 2021 SUMMER 90

Membawa Kembali ke Masa Lalu CULTURE & ART--> Membawa Kembali ke Masa Lalu Berlabuh di hotspot retro di pusat kota lama Seoul, pemilik toko rekaman Hwang Seung-soo mempersembahkan serangkaian album, kaset, dan CD lama yang menyegarkan kembali kenangan lama dan memutar salah satu yang baru. Setelah matahari terbenam, saatnya bersantai. Hwang Seung-soo menutup toko kasetnya yang sederhana, membuat daftar putar yang dibuatnya, mematikan lampu - dan pergi. Dalam empat jam lebih ke depan, lagu-lagu masa lalu akan merdu di daerah yang lusuh namun ramai, memunculkan senyuman penuh peng¬ertian dan tatapan ingin tahu.Terletak di Jongno 3-ga Seoul, toko Hwang, Seoul Record, terasa akrab dan asing, lama dan baru. Sekarang di usianya yang ke-45, toko tersebut menyambut pelang¬gan muda yang membuka-buka rekaman LP, kaset, dan CD pudar, mencari musik hit dari sebelum mereka lahir. Di sudut lain, pelanggan yang lebih tua terhubung kemba¬li dengan soundtrack masa muda mereka. Mereka semua mengobrak-abrik toko, seluas 140 meter persegi, dengan niat mengumpulkan dan mendengarkan.Hwang adalah pemilik keempat, mantan karyawan yang sukses sebagai penerus dan menjadi pemilik. Dia sedikit heran bahwa Seoul Record masih ada. Munculnya stream-ing musik membuat rekaman vinil, kaset dan CD menjadi kebisingan yang tidak diperlukan. Namun demikian, toko musik tersebut tetap mempertahankan irama yang man¬tap, didorong oleh tren retro yang mengikuti lagu-lagu dari penyanyi masa lalu, di samping gaya pakaian masa lalu yang dihidupkan kembali, kafe dengan furnitur lama, dan pengingat masa lalu lainnya.“Dulu, menemukan musik yang kami sukai dan men¬dengarkannya sangatlah penting. Sekarang, dengan smart-phone dan layanan streaming, Anda dapat dengan mudah mendengarkan apa pun, di mana pun,” kata Hwang. “Jadi, banyak orang mengatakan industri rekaman akan mero¬sot dan akhirnya lenyap. Namun sekarang, kami memi¬liki orang-orang yang ingin mengumpulkan dan memiliki rekamannya sendiri, tidak hanya mendengarkan apa yang ada di dalamnya.”“Hanya gambar sampul album yang mengambang di layar ponsel cerdas mereka, itu tidak cukup bagi mereka. Makanya mereka beli LP, kan? Ini juga mengejutkan saya, sebenarnya, pertama kali saya melihat orang-orang muda ini masuk dan sangat bersemangat dengan jarum piring¬an hitam, melompat-lompat dan mendarat di atas vinil. Inti dari CD, bagaimanapun, adalah mendapatkan suara yang lebih bersih. Itu membuatku berpikir bahwa dunia benar-benar berubah seperti ini dan kemudian kembali seperti itu.” Saat jarum jatuh pada vinil, Seoul Record mengingatkan pada era yang berbeda. Suaranya tidak bersih, namun goresannya membantu memperkuat getaran nostalgia yang bergema setiap hari. Pemilik toko Hwang Seung-soo mempertahankan basis pelanggan multi-generasinya dengan berbagai genre, termasuk klasik, jazz, gugak tradisional Korea, rock, soundtrack film, dan K-pop. Berganti Tangan Terperangkap dalam ledakan retro, Seoul Record terus-menerus dikemas. Beberapa orang datang untuk menghidupkan kembali kenangan, yang lain untuk berendam dalam pesona sentimen analog. Rekaman vinil dicari sebagai koleksi setelah disingkirkan selama beberapa dekade oleh compact disc, kemudian MP3, dan streaming digital. Sebuah facelift baru-baru ini telah memberikan interior Seoul Record tampilan modern di jantung pusat kota tua Seoul. Permintaan lagu yang dimasukkan ke kotak surat merah akan diputar di malam hari setelah toko tutup. “Pemilik pertama toko menjalankan tempat itu sampai tahun 2000, ketika MP3 keluar dan menjadi tidak mung¬kin untuk tetap berada dalam suasana yang menyedihkan. Ini masih masa ketika rekaman untuk didengarkan, bukan dikumpulkan, jadi orang-orang berhenti membelinya,” kata Hwang.Awal dari hallyu, Gelombang Korea, menghasilkan pelanggan internasional, membantu menjaga toko tetap ber¬tahan, tetapi pada tahun 2015, pemilik ketiga memutuskan bahwa hal itu sudah cukup.Hwang berusia mendekati 40-an dan telah bekerja di toko selama tiga tahun. Dia selalu bermimpi menjadi seni¬man buku komik, tetapi sekarang menikah dan memu¬lai membangun sebuah keluarga, dia harus praktis tentang waktu yang dihabiskan dan penghasilan yang didapat. Dia memutuskan untuk menggunakan kemampuannya ke dalam pekerjaan yang dia tahu dengan baik daripada pekerjaan yang mungkin dia sukai.“Kakak laki-laki saya menjalankan perusahaan distribu¬si video. Struktur distribusi untuk kaset VHS, CD dan DVD semuanya terhubung satu sama lain. Pengalaman nyata pertama saya dengan musik terjadi secara kebetulan saat kecil, ketika suatu hari ayah saya membawa pulang pemu¬tar rekaman. Dan sebagai remaja, saya bahkan ikut dengan kakak laki-laki saya ke sebuah perusahaan rekaman. Sepan¬jang jalan, saya mengenal dunia ini dengan cukup baik.”Ketika Hwang mulai bekerja di Seoul Record, usia rata-rata pelanggan sudah melewati 50 tahun. Toko tersebut ter¬letak di salah satu lingkungan tertua di Seoul, dengan popu¬lasi lansia yang cukup besar. Di belakang Seoul Record adalah Sewoon Plaza, kompleks komersial dan residensial pertama di Korea, dibangun pada tahun 1968; di seberang jalan adalah Jongmyo, kuil leluhur kerajaan yang didirikan pada tahun 1394 untuk menghormati raja dan ratu dinasti Joseon; dan di sebelahnya adalah Taman Tapgol, yang sebe¬lumnya dikenal sebagai Taman Pagoda, taman kota pertama di negara itu, dibangun pada tahun 1897. Pelanggan beru¬sia 40-an dan 50-an yang mencari piringan hitam jauh kalah jumlah dengan para lansia, yang biasanya mencari kaset. Lalu, tiba-tiba, semuanya berubah arah.Tiba-tiba lingkungan itu menjadi hotspot terbaru bagi para trendsetter, yang dijuluki Hip-jiro. Baik orang Korea maupun orang asing datang ke rumah tradisional Korea ter¬dekat, atau hanok, berubah menjadi kedai kopi yang ber¬gaya. Rekaman vinil, beberapa dekade dihapus dari indus¬tri musik, menjadi objek yang bernilai, dan usia rata-rata pelanggan toko mulai menurun. Berbagi KenanganSaat ini, bukan satu generasi tertentu yang mencari toko, melainkan berbagai usia. Anak perempuan terkadang mem¬bawa ayah mereka, dan orang tua membawa anak-anak mereka, semua sangat ingin mendengar dan berbagi musik yang mereka sukai.Di satu sisi, dapat dikatakan bahwa pelanggan ini datang untuk mencari kenangan, bukan objek. Di dunia asing, kami mencari yang familiar; di dunia yang akrab, kami mencari sesuatu yang baru.“Kadang-kadang ada orang yang membutuhkan bantuan untuk menemukan lagu - sesuatu yang mereka sukai ketika mereka masih muda, katakanlah, dan mereka akan mengi¬ngat sedikit lirik dan melodi, tetapi bukan judul yang sebe¬narnya. Seringkali, mereka jauh lebih tua, hidup sendiri dan tidak pandai menggunakan komputer. Dan saat kami men¬cari tahu dan menemukannya untuk mereka, mereka sangat terharu. Perasaan yang luar biasa.”Salah satu pelanggan menginginkan bantuan untuk menemukan lagu dari band yang terkenal di tahun 1960-an. Ketika Hwang menemukannya dan memutarnya, dia terke¬jut saat mengetahui bahwa suara pelanggan, yang bernyanyi bersama, sangat mirip dengan suara yang ada di rekaman. Ketika dia bertanya kepada pelanggan apakah dia penyanyi itu sendiri, dia mengakuinya.“Ada pelanggan lain yang tinggal di lingkungan ini sejak dia masih kecil. Keluarganya kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, jadi alih-alih pergi ke sekolah, dia bekerja memasang poster film di sekitar kota. Dia sangat menyukai film, dia melewatkan waktu makan untuk menontonnya.”Mendengarkan dan bersimpati dengan cerita priba¬di orang asing yang panjang dan rumit tidak selalu mudah. Faktanya, itu hanya mungkin jika seseorang dapat mena¬rik minat, kasih sayang, dan kepercayaan yang tulus untuk orang-orang yang dicatat secara luas. Banyak, yang awalnya datang sebagai pelanggan, pergi sebagai sesuatu yang lebih, sesuatu yang lebih hangat, setelah berbagi cerita berharga mereka - dan kembali lagi nanti dengan hadiah permen atau jeruk, atau mungkin satu atau dua minuman ringan. Memutar Pesanan LaguShutter Seoul Record mengudara antara pukul sembilan dan sepuluh pagi, Senin sampai Sabtu. Istri Hwang membuka toko, dan Hwang sendiri tiba antara tengah hari dan 1 siang, untuk mengambil alih hingga tutup pukul 7:30, atau sedikit lebih lambat jika bisnis sedang lesu. Saat penutup diturun¬kan, Hwang memulai fase terakhir dari harinya: “Perminta¬an Lagu Besok.”“Ada kotak surat merah di depan toko. Jika orang menulis permintaan lagu dan memasukkannya, kami memutar lagu untuk mereka.”Sepanjang hari, Hwang menyusun file lagu yang menyatu dengan baik, termasuk permintaan yang masuk, lalu membiarkannya diputar setelah toko tutup. Sebagi¬an besar permintaan adalah untuk lagu liris lama atau lagu pop hit. Pilihan Hwang sendiri memutar seluruh genre dan terkadang cocok dengan cuaca atau musim. Diminta untuk menyebutkan favoritnya, dia berkata, “Saya suka jika itu musik yang Anda suka.”Sampai tengah malam, musik mengalun ke trotoar dan jalan delapan jalur di depan toko. Arus pejalan kaki yang pergi ke dan dari stasiun kereta bawah tanah Jongno 3-ga terdekat dan berbagai kedai kopi serta restoran mempe¬ngaruhi langkah audiens. Terkadang, pejalan kaki akan memperlambat dan berhenti untuk bernyanyi bersama atau bahkan menari sebentar. Di jalanan malam yang gelap, itu adalah pemandangan yang membuat orang berpikir bahwa hidup benar-benar menemukan jalannya pada akhirnya.“Saya menemukan hal-hal di dalam ruang ini yang membuat saya sibuk. Minggu adalah satu hari saya libur setiap minggu, dan bahkan pada hari Minggu, saya mende¬ngarkan musik dan mengutak-atik stereo saya dan menon¬ton film. Bisa dibilang saya membawa semua hobi saya ke sini. Istri saya pasti berpikir begitu. Dia selalu mengatakan padaku, ‘Kamu menjalankan toko ini hanya untuk bermain dengan mainanmu!’”“Saya tidak masuk ke bidang pekerjaan ini untuk men¬coba dan mendapatkan keberuntungan,” kata Hwang. “Tidak terlalu buruk, menjaga semuanya tetap berjalan dan mendengarkan musik yang saya sukal setiap hari. Saya bisa menghabiskan hari-hari saya menikmati tempat ini, dan pelanggan bisa datang dan menemukan musik yang mereka cari1. Terperangkap dalam ledakan retro, Seoul Record terus-menerus dikemas. Beberapa orang datang untuk menghidupkan kembali kenangan, yang lain untuk berendam dalam pesona sentimen analog.2. Rekaman vinil dicari sebagai koleksi setelah disingkirkan selama beberapa dekade oleh compact disc, kemudian MP3, dan streaming digital.3. Sebuah facelift baru-baru ini telah memberikan interior Seoul Record tampilan modern di jantung pusat kota tua Seoul. Permintaan lagu yang dimasukkan ke kotak surat merah akan diputar di malam hari setelah toko tutup. Hwang Kyung-shin Penulis Ha Ji-kwonFotografer

Hobi dan Hiburan Pun Beralih ke Daring

Lifestyle 2021 SPRING 144

Hobi dan Hiburan Pun Beralih ke Daring Pada tahun 2019, komunitas-komunitas kecil yang terbentuk karena hobi yang sama sangat populer di Korea. “Budaya komunitas” ini banyak diikuti khususnya oleh mereka yang berusia 30 tahunan. Sementara pandemi COVID-19 menghambat diadakannya pertemuan tatap muka seperti sekarang ini, mereka masih saling berhubungan satu sama lain. Sulaman adalah pilihan populer di Hobbyful, sebuah platform pembelajaran daring. Situs hobi dan hiburan menjamur ketika pandemi COVID-19 memaksa orang membatasi interaksi sosial dan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Lee, pekerja kantor berusia 30 tahunan, gemar menghirup aroma dan mencicipi anggur. Kenikmatannya berlipat ganda ketika aktivitas itu dilakukan bersama para pakar anggur. Pada tahun 2019, ia bergabung dengan komunitas kecil penggemar anggur untuk memperluas pengetahuannya. Komunitas ini, yang terdiri atas belasan laki-laki dan perempuan berusia sekitar 30 tahunan, bertemu setiap hari Jumat malam di Mapo, wilayah perumahan dan perdagangan di sepanjang Sungai Han di Seoul. Setiap minggu, para anggota itu berbincang ringan sambil mencicipi dan berdiskusi mengenai beragam anggur. Lee berencana pergi ke Swiss untuk menikmati sebotol anggur dengan keju yang enak. Ia memang belum pernah mengunjungi pegunungan Alpen, tetapi menghabiskan waktu bersama para penggemar anggur tampaknya lebih menarik. Ia juga bisa bersosialisasi. Para anggota komunitas itu seusia dengannya dan terdiri atas laki-laki dan perempuan dengan jumlah yang kurang lebih sama. Mereka menutup hari-hari kerja mereka dengan anggur yang enak dalam suasana yang hangat dan menyenangkan. Lalu, COVID-19 datang. “Tidak ada yang tahu kapan kami bisa bertemu lagi,” kata Lee. “Jika ini hanya mimpi, saya ingin segera terbangun.” Di tengah pembatasan interaksi sosial karena pandemi ini, vakumnya kegiatan Lee mencicipi anggur makin panjang dan kenangan akan kelompok ini pun memudar. Pada tahun 2021 ini, yang bisa dilakukannya adalah menikmati anggur seorang diri dan menonton acara-acara di Netflix. Kadang-kadang, ia tidak melakukan apa-apa: menghabiskan waktu dengan duduk saja di sofa setelah seharian bekerja. Membuat kue rumahan menarik perhatian luas di antara pelajar daring. Pelajaran daring diarahkan pada berbagai pengalaman langsung dengan seni dan kerajinan untuk pencapaian diri dan aplikasi rumah. Penggemar bersorak untuk tim mereka selama pertandingan Liga Bola Basket Korea 2020 antara Ulsan Hyundai Mobis Phoebus dan Changwon LG Sakers, yang diadakan pada tanggal 20 September 2020. Karena tidak dapat menonton secara langsung karena COVID-19, penggemar berkumpul dalam kelompok kecil untuk menonton secara daring selama musim olahraga. Budaya Komunitas Komunitas penggemar anggur merupakan salah satu komunitas yang terbentuk karena kesama-an minat pada tahun 2019. “Budaya komunitas” yang sangat populer ini meliputi beragam hobi, dengan anggota berusia 30 tahunan yang memang sedang dalam masa aktif. Komunitas membaca, film, wisata, memasak, dan musik merupakan komunitas sosial yang paling banyak peminatnya. Pada bulan April 2019, Embrain Trend Monitor, peneliti pasar lokal, mengadakan jajak pendapat nasional kepada 1.000 orang berusia 19~59 tahun mengenai partisipasi mereka dalam aktivitas sosial. Sebanyak 906 responden mengatakan bahwa mereka melakukan aktivitas reguler, dan 26 persen dari mereka mengatakan bahwa aktivitas itu termasuk “bertemu dengan orang-orang dengan minat dan hobi yang sama.” Kurang dari separuh jumlah responden mengatakan bahwa aktivitas sosialnya hanya bersama teman sekolah dulu atau teman kantor, yaitu sekitar 67,6 persen. Responden lain mengatakan bahwa budaya komunitass memang menarik. Sekitar 290 responden menekankan perlunya ikut serta dalam pertemuan yang fokus kepada hobi atau minat. Berwisata adalah aktivitas favorit yang dilakukan oleh orang-orang itu: 73,5 persen responden mengatakan bahwa mereka ingin ikut kelompok wisata. Urutan selanjutnya adalah komunitas olahraga (18,1 persen), komunitas bahasa asing (15,9 persen), komunitas relawan (15 persen), komunitas film (14,3 persen), dan komunitas membaca atau menulis (14,1 persen). Angka-angka itu tampaknya berhubungan dengan fenomena sosial mengenai individualisasi. Banyak hubungan personal berkisar tentang “saya,” dan hobi “saya” dan minat menjadi sesuatu yang penting dalam hubungan interpersonal ini. Meskipun kehangatan hubungan interpersonal dan bahasa tubuh sulit dirasakan melalui pertemuan virtual, opini tetap dapat disampaikan dengan mudah. Banyak anggota komunitas-komunitas itu masih menganggap pertemuan semacam ini “menarik” atau “bermanfaat.” Pertemuan Daring COVID-19 melahirkan tren baru dalam budaya sosial. Banyak orang tidak ingin hubungan mereka terputus begitu saja. Pertemuan dengan video (video conference) yang dilakukan oleh banyak kantor untuk mengatasi jarak sosial digunakan juga untuk tujuan yang tidak terkait dengan pekerjaan. “Kami tetap menjaga komunitas kami tetap hidup dengan Zoom, program untuk bertemu secara daring,” kata salah satu anggota komunitas membaca. Komunitas yang berbasis di Seoul itu membuat pengumuman kepada 67 anggotanya melalui aplikasi “Somoim,” yang berarti “pertemuan kecil.” Komunitas ini mematuhi peraturan pembatasan sosial berskala besar yang diberlakukan oleh pemerintah di wilayah ibu kota tahun lalu. Komu-nitas ini mengharuskan anggotanya bertemu secara daring dan bertukar pendapat mengenai buku yang dibacanya. Format yang sama juga dilakukan oleh komunitas menulis, yang biasanya bertemu secara tatap muka dan berbagi karya. Sebuah komunitas menulis yang berbasis di Seoul dengan anggota sebanyak 234 orang mengadakan pertemuan melalui Google Meet. Meskipun awalnya tidak biasa dengan pertemuan virtual, peserta mampu beradaptasi dengan cepat dalam lingkungan baru dan berbagi cerita yang sudah ditulisnya secara daring. Platform pertemuan sosial lain bagi para pehobi di antaranya “Munto,” “Moonraedang,” “Trevari” dan “Frip.” Mereka menyebut diri mereka “kelompok sosial.” Trevari, sebuah platform diskusi buku, merupakan pemain lama dalam komunitas sosial daring. Platform ini dibuka pada tahun 2015 dan saat ini terdiri dari 400 komunitas membaca buku dengan 6.000 anggota. Sebagian besar anggota membaca buku dan mengikuti empat pertemuan dalam sebulan. Frip adalah platform sosial untuk beragam hobi dan aktivitas di waktu senggang, seperti memasak, membuat tembikar, mendaki gunung dan DIY. Anggota komunitas memasak tidak hanya menyiapkan masakan, tetapi juga mendemonstrasikan cara memasak yang baik dengan tetap menjaga kebersihan dan mencegah penyebaran infeksi COVID. Aktivitas luring tetap dilakukan oleh komunitas memasak yang memerlukan peralatan dan bahan masakan yang khusus dan dapur. Komunitas olahraga seperti mendaki gunung dan trekking mematuhi peraturan mengenai pertemuan lebih dari empat orang. Dalam keadaan seperti ini, beberapa komunitas memasak dan olahraga menggabungkan program daring dan luring. Paket makanan dikirim ke rumah, sementara aktivitas seperti mendaki gunung atau berenang dibagikan secara daring dengan anggota lain. Penutupan ruang olahraga karena COVID-19 telah memaksa orang untuk berolahraga di rumah. Mereka memiliki banyak program latihan di rumah baru yang dapat diunduh ke ponsel mereka sebagai referensi. Pengalaman Pribadi Saya juga memutuskan ikut kelas daring. Saya tidak punya pengalaman merajut sama sekali, tetapi itu tidak menyurutkan niat saya memesan paket merajut tatakan cangkir teh dari Frip. Saya yakin bisa merajut tatakan cangkir teh setelah mengikuti instruktur yang mengajar secara daring. Namun, ternyata rasa frustrasi itu cepat datang; tangan instruktur bergerak terlalu cepat sehingga saya tidak bisa mengikutinya. Setelah berjuang dengan gulungan benang dan jarum rajut beberapa kali, saya pikir belajar merajut lebih baik dilakukan secara tatap muka. Rencana saya menikmati secangkir kopi dengan tatakan cantik yang saya rajut sendiri tinggal rencana karena saya tidak bisa merajut satu simpul pun. Lebih baik saya membeli tatakan cangkir saja. Para pemula lain mungkin merasakan frustasi juga, tetapi kadarnya tidak setinggi mereka yang sama sekali baru. Akhirnya benang itu saya simpan saja di laci untuk kelas setelah pandemi. Kelas tatap muka, tentu saja.

Review

Bangunan Estetika Beton

Art Review 2019 SUMMER 140

Bangunan Estetika Beton Desain hotel Healing Stay Kosmos ini terinspirasi dari tempatnya. Arsitek yang merancangnya sangat mengerti bahwa ketika diamati dari pulau di sisi timur wilayah Korea, bintang, bulan, matahari dan cakrawala tampak jauh lebih mangagumkan. Lalu, terbersitlah keinginan merancang struktur bangunan yang alami dan kosmis. Pulau Ulleung berjarak 217 km dari kota Pohang di pantai timur. Di sebelah barat laut pulau, di atas tebing yang tercelup ke laut berdiri arsitek karya sensasional Kim Chan-joong, Healing Stay Kosmos, mencapai harmoni yang indah dengan latar alamnya. © Kim Yong-kwan Perjalanan ke Pulau Ulleung lumayan menantang. Perlu waktu tujuh jam dengan kereta atau kapal dari Seoul. Ombak besar yang membuat kapal sering kali tidak bisa melaut menjadikan pulau ini tidak terjangkau selama hampir 100 hari dalam satu tahun. Namun, pemandangan alam yang masih perawan membuat perjalanan ke pulau ini sangat sepadan. Pegunungan berbatu yang indah memukau siapa pun yang pertama kali menginjakkan kaki­nya di pulau ini, seolah sudah melewati ruang dan waktu. Gn. Chu setinggi 430 meter di atas tebing di timur laut Pulau Ulleung adalah kulminasi pemandangan di pulau ini. Gunung dan ombak di laut, matahari terbit dan tenggelam, bintang dan bulan semua tampak menakjubkan. Healing Stay Kosmos terletak di tebing yang menjulang ke arah laut. Hotel yang dirancang oleh arsitek Kim Chan-joong ini dibuka pada tahun 2018. Ada dua sayap: Villa Kosmos terdiri dari enam vila kolam yang berdiri melingkar menyerupai pusaran angin, dan Villa Terre yang terdiri dari lima vila berjajar se­­perti ombak. Majalah desain yang terbit di Inggris Wallpaper* memberikan predikat Hotel Baru Terbaik kepada Healing Stay Kosmos dalam Penghargaan Desain Wallpaper* pada tahun 2019. Gunung Chu terlihat melalui jendela melengkung setinggi 6 meter, di ruang tamu Villa Kosmos.Bangunannya menyerupai angin puyuh yang terdiri dari enam bilah, masing-masing membentuk ruang tamu yang memiliki pemandangan berbeda.© Kim Yong-kwan Enam Pemandangan yang Berbeda Dalam menciptakan karya yang menyatu dengan alam, Kim Chan-joong menggunakan pergerakan matahari dan bulan. Ia mendapatkan data dari badan pengamatan astronomi peme­rintah Korea yang digunakannya untuk memetakan pantulan cahaya matahari dan bulan. Pantulan cahaya matahari dan bulan di tanah berbentuk spiral. Ia juga menggunakan Gn. Chu, batu tempat matahari bersinar tepat pada titik pa­­ling dekatnya di musim panas, pelabuhan dan hutan untuk membuat enam titik utama. Desain Villa Kosmos dengan bilah dinding yang menghadap ke enam arah yang berbeda itu membentuk bangunan melingkar. Jadi, vila ini mengarah ke enam pemandangan yang berbeda. Di lantai satu terdapat ruang bersama, termasuk restoran dan sauna. Naik mele­wati tangga melingkar, tampaklah bahwa setiap bilah din­ding membentuk satu ruang tamu. Setiap pintu ruang tamu ini mengarah ke dinding lengkung, dan jika berjalan menyusuri sepanjang dinding, kita akan sampai ke sebuah jendela. Jendela ini besar, terpasang secara vertikal di ujung ruangan dan menghasilkan pemandangan yang sangat indah. Busur pandangnya mirip bentuk Gn. Chu. Untuk membuat bangunan ini tampak lebih bernilai seni, Kim menyembunyikan sebagian besar mesin utama di dalam dindingnya sehingga terlihat seolah sebuah ruangan saja. Dari tahap desain, pencahayaan dan pemanasan ruangan, ventilasi dan sistem penyejuk udara (HVAC) serta alat penyebar udara disatukan; suatu pekerjaan yang memerlukan banyak rancangan sebelum realisasinya. Langit-langit dengan banyak lubang menjadi jalan masuk angin dan cahaya, menciptakan ruang estetis seperti tempat persembunyian binatang. Yang paling menakjubkan adalah lengkung tipis yang berfungsi sebagai atap dan dinding setebal 12cm yang membuat kehadiran Kosmos di pulau ini sangat mudah dikenali. Sungguh luar biasa melihat beton bisa dibuat sangat tipis dan dibentuk sedemikian rupa. Keindahan Kosmos berasal dari bahan bangunannya — ultra-high performance concrete (UHPC). Beton siap pakai ini pertama kali digunakan dalam pembangunan vila ini. UHPC sangat kuat, padat dan tahan lama. Bahkan tanpa rangka baja, penyangga fiber fiber pun bisa digunakan dengan kekuatan seperti yang diinginkan. Dengan struktur yang padat dan lentur, bahan ini bisa dibuat sangat tipis. Kim Chan-joong menerapkan rancangan baru ini, yang sampai saat itu masih dianggap sebagai lahan proyek teknik sipil. Villa Kosmos, dalam bentuk angin puting beliung yang terbuat dari enam bilah, memiliki atap dan dinding melengkung yang hanya setebal 12cm. Bahan baru yang disebut “beton dalam kinerja sangat tinggi” (UHPC) memungkinkan membuat garis tipis dan halus.© Kim Yong-kwan Tantangan Penuh Suka Duka Pemakaian UHPC dalam proyek ini adalah tantangan dan ekperimen dalam setiap tahap desain dan konstruksinya. Pemilihan bahan bangunannya dilakukan dengan pertimbangan pembangunan PLACE 1 KEB Hana Bank di Samseong-dong, Seoul, yang dirancang pada waktu relatif sama. Baik PLACE 1 maupun Healing Stay Kosmos diawali dengan kalimat, “Apakah mungkin membuat desain bangunan yang lebih tipis dan menarik?” Metode baru ini akhirnya dipakai setelah dibuat banyak model rancangan dan kalkulasi teknik. PLACE 1 adalah sebuah bangunan renovasi dari bangunan lama yang di dalamnya terdapat banyak bank dan perkantoran. Ada “ruang terbuka” dengan ruang budaya di setiap lantai, yang menjadi tempat berkumpul setelah bank tutup pada pukul empat sore. Ada pula teras di sekeliling eksterior bangunan yang ditutup de­­ngan panel lengkung yang sangat cantik. Setiap panel berupa komponen modular besar selebar empat meter persegi, mengarah satu meter keluar dan menjorok 50 sentimeter ke dalam. Tim perancang berusaha mencari bahan ringan dan lentur yang bisa dilekatkan pada bangunan lama dan akhirnya mereka memakai UHPC. Namun, suka ini hanya sebentar karena setelah itu mereka harus merasakan duka juga. Masalahnya adalah belum pernah ada pemakaian UHPC untuk bentuk lengkung. Jadi, arsiteknya harus memimpin keseluruhan proses, dari membuat cetakan untuk modul sampai melepas dan menyusunnya. Untuk keperluan ini, lima model rancangan dibuat oleh tim teknik, termasuk kontraktor, pembuat rangka baja, bagian desain struktur dan pabrik UHPC. Proses ini memakan waktu enam bulan. Pada saat yang hampir bersamaan, diputuskan memakai UHPC dalam pembangunan Healing Stay Kosmos karena UHPC dianggap mampu membuat bentuk yang tipis dan indah. Penggunaan beton siap pakai UHPC, yang belum pernah dicoba sebelumnya, dikerjakan oleh Lembaga Bangunan dan Teknik Sipil Korea, yang juga memproduksi K-UHPC; Steel Life Co. Ltd., yang membuat 45.000 panel eksterior dengan bentuk amorf dalam pembangunan Dongdaemun Design Plaza; dan kontraktor Kolon Global. Kim Chan-joong memimpin seluruh proses, termasuk penghitungan kekuatan UHPC, pengukuran tekanan cetakan, dan pengkajian proses pengecoran dengan ba­­nyak model rancangan untuk mengembangkan cetakan yang bisa menciptakan desain yang dikehendaki dengan koordinasi dengan tim teknik. Faktor yang menentukan adalah apakah cetakan itu mampu menahan tekanan yang signifikan ketika dilakukan pengecoran, karena kepadatan UHPC menjadikan beton ini se­­perti air. Jika ada masalah, cetakan bisa patah. Untuk membuat arsitektur amorf tiga dimensi, cetakan harus dibuat dalam satu kali pengerjaan. Dan, yang paling penting, UHPC belum pernah dipakai untuk membuat bangunan. Pengecoran berlangsung selama tiga hari dua malam, dan semua orang menahan napas dan berharap proses ini berhasil baik. “Kalau arsitektur melihat hubungan antara bahan bangunan dan metode konstruksi, sudah saatnya rancangan beton juga diubah.” Arsitek Kim Chan-joong dikenal karena eksperimennya dalam penggunaan material baru. System Lab, firma arsitektur yang dipimpinnya, dimasukkan dalam Direktori Arsitek 2016 dari majalah desain UK Wallpaper *.© Kim Jan-di, design press KEB Hana Bank’s PLACE 1, yang terletak di Samseong-dong, Seoul, memiliki julukan “pengisap gurita.”Permukaannya memiliki 178 cakram dengan diameter masing-masing 2 meter yang berotasi perlahan, menonjolkan semangat gedung. Rancangan Dasar Beton Rancangan Kim Chan-joong dan perusahaannya, The System Lab, selalu disertai dengan rincian perencanaan fabrikasi dan konstruksi. Tujuannya adalah untuk mengkaji ulang konstruksi bangunan dan mencari solusi yang optimal dan rasional. Arsitek tidak dapat meng­andalkan pada nilai estetis saja; tapi harus melakukan riset metode konstruksi yang se­suai dengan proyek mereka dan menerapkan teknologi yang tepat. Metode yang disebut “seni industri” oleh Kim Chan-joong melahirkan empati emosional melalui inovasi bahan dan teknologi. Dalam bukunya Concrete and Culture: A Material History, Adrian Forty, seorang profesor emeritus sejarah arsitektur di The Bartlett, University College London, mengatakan bahwa beton bukan hanya sebuah bahan bangun­an melainkan juga suatu proses. Beton adalah bahan universal yang melahirkan gaya internasional dalam arsitektur, dan sekarang kita melihat struktur beton baru berkat metode-metode baru. Mengenai hal ini, Kim Chan-joong, dalam upayanya mencari solusi optimal, berada di garis depan bukan hanya dalam desain arsitektur melainkan juga dalam desain proses konstruksi. “UHPC tidak berat, memakan tempat dan solid seperti beton pada umumnya,” kata Kim. “Kalau arsitektur melihat hubungan antara bahan bangunan dan metode konstruksi, sudah saatnya rancangan beton juga diubah.” Usaha arsitek ini untuk menemukan dan memakai bahan baru membuka cakrawala kita.

Novel mengenai Perempuan Korea Pertama di Paris

Books & more 2019 SPRING 154

Novel mengenai Perempuan Korea Pertama di Paris Novel mengenai Perempuan Korea Pertama di Paris ‘Penari Pengadilan’ oleh Kyung-Sook Shin, diterjemahkan oleh Anton Hur, 336 halaman, 25,95 USD, New York: Pegasus Books [2018] “Penari Pengadilan” adalah novel terbaru karya Shin Kyung-sook yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (ia dikenal terutama oleh pembaca-dalam-bahasa-Inggris dari novelnya “Tolong Jaga Ibu”). Novel ini mengisahkan tentang Yi Jin, seorang penari pengadilan pada akhir abad ke-19 yang mencuri hati seorang diplomat Perancis di Korea, Victor Collin de Plancy. Yi Jin kemudian pergi ke Perancis bersama Victor pada tahun 1891, menjadi perempuan Korea pertama yang mengunjungi Perancis. Novel tersebut, menurut sampulnya, “berdasarkan dari sebuah kisah nyata yang luar biasa”, tetapi yang sesungguhnya luar biasa adalah bagaimana Shin mengangkat kisah tersebut dari menyebut secara singkat seorang penari pengadilan Korea ke dalam konteks pergantian-abad di Perancis. Akhir abad ke-19 merupakan waktu yang penuh gejolak dalam sejarah Korea, sebagai sebuah negara yang baru membuka negaranya dan terjepit di antara kekuatan-kekuatan besar dunia yang berlomba-lomba menjadi penguasa di Asia Timur. Untuk menjaga kedaulatan negara, raja dan terutama ratu mencoba memainkan kekuatan-kekuatan ini untuk saling beradu satu sama lain. Namun, usaha mereka berakhir sia-sia ketika Jepang berhasil menguasai Korea pada tahun 1910, mengawali 35 tahun penjajahan Jepang atas Korea. Novel Shin ini menghidupkan keputusasaan Korea sekaligus memotong optimisme dari Belle Époque Paris. Namun, sejarah di sini tidak hanya menjadi latar dari kisah Jin; Jin digambarkan sebagai seorang dengan peran yang dimainkan dalam sejarah tersebut. Dengan demikian, Shin menceritakan kisah Korea pada waktu itu melalui kisah Jin. Shin menggunakan berbagai gaya teknik penulisan untuk memberikan kesan klasik sekaligus abadi pada ceritanya, seperti secercah kearifan abadi yang ditaburkan melalui suara penulis. Pepatah yang berurusan dengan karakteristik air memiliki sebuah resonansi khusus. Ketika seorang pe­rempuan menyuruh Jin mengambil air dari sebuah sumur, penulis memberi catatan, “Sifat dasar air tidak berubah, yang memberikan air keku­atannya”. Selanjutnya, ketika diplomat Perancis Victor melewati sebuah sungai di dalam istana kerajaan, kita diberitahu, “Air mengalir ketika bebas, dan berkumpul ketika dihentikan”. Kata-kata ini pada awalnya terlihat dangkal, tetapi kata-kata tersebut seperti ramalan bagaimana Jin akan beradaptasi terhadap dunianya yang baru di Perancis. Selalu menjadi pembelajar yang cepat, Jin dapat segera fasih berbicara bahasa Perancis, dan dia tidak ragu untuk membuang pakaian pengadilannya untuk mode pakaian terbaru Perancis. Se­perti air, dia mengadopsi bentuk dari sekelilingnya. Namun, dia tetap menjadi sebuah tontonan bagi orang-orang di sekitarnya. Bahkan bagi orang-orang yang menerimanya masuk ke dalam kehidupan mereka pun masih memperlakukannya sebagai sesuatu hal yang eksotis, seperti satu dari vas-vas celadon yang dikoleksi Victor dan dibawa pulang ke Perancis. Di sisi lain, Hong, satu-satunya orang Korea lain yang ada di Paris pada saat itu, menyalahkan dan mengejeknya karena telah meninggalkan budayanya. Jin pun mendapati dirinya mempertanyakan identitasnya, sesuatu yang tidak pernah menjadi beban pikirannya ketika dia masih tinggal di istana kerajaan di Seoul. Puisi untuk Pengalaman Sensual di Luar Interpretasi ‘Kami, Hari demi Hari’ oleh Jin Eun-young, Diterjemahkan oleh Daniel Parker dan Ji Young-shil, 108 halaman, 16,00 USD, New York: White Pine Press [2018] Mungkin kelihatannya sia-sia, atau bahkan konyol, mencoba untuk menulis ulasan tipikal dari “Kami, Hari demi Hari”, sebuah kumpulan puisi dari Jin Eun-young. Sama seperti seseorang yang mungkin akan tersesat dalam menggambarkan perasaan seseorang ketika melihat indahnya matahari terbenam, maka tampaknya ini juga sebuah tugas tanpa harapan untuk mengatakan sesuatu tentang kumpulan ini hanya dengan menuliskan kata-kata yang masuk akal dan menenangkan dalam susunan teratur. Pengantar dari penerjemah memberikan pembaca beberapa firasat tentang apa yang ditulis di depan, dengan memberi catatan bahwa puisi Jin “selalu penuh tantangan bagi pembaca yang mencari pemahaman menyeluruh”. Lagipula, tujuan puisinya bukan untuk membuat pembaca mudah menangkap dan memahami, tetapi lebih “untuk mempersembahkan suatu pengalaman sensual baru”. Hal ini dapat menjadi suatu hal yang membuat frustasi bagi beberapa orang. Jika Anda pernah berdiri di depan lukisan­nya Jackson Pollock (dan yang saya maksud adalah lukisan yang sebenarnya, bukan hanya sebuah gambar yang bisa dilihat melalui internet) dan Anda membayangkan apa maksudnya semua kehebohan itu, maka kumpul­an puisi ini mungkin bukan untuk Anda. Jika Anda dapat melihat keindahahan dalam keganjilan, maka, begitulah semestinya. Pengantar mencatat bahwa Jin telah mempublikasikan tiga buku filsafat di samping tiga buku puisi, tetapi saya akan memperdebatkan bahwa garis di antara keduanya tidak terlalu jauh – bahwa, sesungguhnya, “Kami, Hari demi Hari” adalah keduanya, yaitu puisi dan filsafat. Apa yang coba Jin sampaikan di sini adalah semangat dari Duchamp ketika dia memutuskan untuk menyambungkan sebuah roda sepeda ke sebuah kursi. Website Membawa Sastra Modern Korea pada Dunia ‘KoreanLit’ (www.koreanlit.com) Dijalankan oleh Layanan Budaya Korea di Massachussetts (Korean Cultural Service of Massachusetts) Beberapa akan mengatakan bahwa me­­nerjemahkan puisi adalah tugas paling sulit yang dapat dihadapi seorang penerjemah. Yang lain akan berdebat bahwa terjemahan puisi sesungguhnya tidak mungkin, bahwa seni mengakar sangat dalam pada bahasa yang menyebabkan segala usaha untuk mengungkapkannya dalam bahasa berbeda dapat dipastikan akan menuju pada kegagalan. Hal ini tidak menghentikan orang-orang di balik website KoreanLit, sebuah proyek di bawah arahan dari Layanan Budaya Korea di Massachusetts, yang berjuang membawa terjemahan dari sastra modern Korea kepada para pembaca penutur-bahasa-Inggris. Dalam satu-satunya esai yang ada di website saat ini, Profesor Yu Jin Ko mencatat bahwa puisi tidak hanya mengenai apa yang hilang dalam terjemahan, tetapi juga mengenai apa yang ditemukan. Yaitu, sementara tentu saja terdapat elemen dari puisi Korea yang tidak dapat direplikasi dalam bahasa Inggris, sebuah terjemahan dapat menemukan dan membuka aspek baru dari sebuah karya. Pandangan yang lebih luas semacam ini adalah satu cara untuk mengatasi kelumpuhan ide bahwa puisi pada kenyataannya tidak mungkin diterjemahkan. Selain beberapa ratus karya puisi, baik untuk orang dewasa maupun untuk anak-anak, website ini juga melihat puisi sebagai sesuatu yang berkaitan dengan bentuk lain dari seni seperti lukisan atau musik popular. Walaupun karya-karya tersebut relatif sedikit dibandingkan terjemahan puisi murni, diharapkan akan ada lebih banyak lagi usaha seperti ini di masa depan, yang memperluas pemahaman dari peran yang puisi mainkan dalam seni Korea. Juga akan diterima lebih banyak esai tentang puisi dan seni dari terjemahan puisi; esai yang disebutkan di atas oleh Prof. Ko itu cukup menarik dan bermakna.

Kisah Pergulatan Seorang Penulis dalam Masa Kritis

Books & more 2018 WINTER 139

Kisah Pergulatan Seorang Penulis dalam Masa Kritis Kisah Pergulatan Seorang Penulis dalam Masa Kritis ‘Debu dan Cerita-cerita Lainnya’ Oleh Yi T’aejun, diterjemahkan oleh Janet Poole, 304 halaman, $25.00, New York: Columbia University Press [2018] Yi T’aejun (atau Lee Tae-jun) adalah seorang penulis penting di awal zaman Korea modern, tapi keputusannya untuk pindah dari Seoul ke Pyongyang pada tahun 1946 membuat karyanya dilarang di Korea Selatan sampai tahun 1988. Walaupun larangan ini sudah dicabut tiga dekade lalu, karya-karyanya tetap sulit didapatkan dalam bahasa Inggris. “Debu dan Cerita-cerita Lainnya” setidaknya bisa mengobati kerinduan itu dengan kumpulan cerita pendek Yi dari periode kolonial akhir dan setelah pembebasan pada tahun 1945. Ada satu tema yang bisa mewakili kumpulan cerita ini, yang sifatnya sangat personal: pergulatan seorang penulis untuk tetap setia pada bidang seninya dalam masa krisis. Se­­narai kisah itu menampilkan tokoh protagonis autobiografi Hyon, dan dalam cerita-cerita itu kita bisa membaca ekspresi Yi mengenai tekadnya untuk bertahan. Tentu tidak mudah bekerja sebagai penulis hanya dari karya yang membutuhkan kreativitas tinggi. Dalam “Musim Hujam” (1936), Yi melukiskan sebuah potret banyaknya penulis kontemporer yang terbuang seperti penulis dan penyunting surat kabar dan majalah. Ternyata, ketika seseorang percaya bahwa “seni lebih penting dari segalanya,” sebagaimana Hyon bersikeras dalam “Sungai Pae yang Membeku” (1938), kehidupan menjadi lebih sulit. “Sebelum dan Sesudah Pembebasan” (1946), seperti tersirat dalam judulnya, menggambarkan Hyon berjuang untuk tetap menjadi penulis selama periode kolonial dan setelah pembebasan dari Jepang. Ketika pemerintah Jepang memaksanya mendukung tindakan penjajahan mereka dengan tulisan, jeritan dalam senyap itu mengungkapkan suara hatinya: “Saya hanya ingin hidup!”. Kalimat ini menunjukkan ia ingin hidup sebagai diri­nya sendiri, bukan sebagai alat ideologi pihak lain. Mengikuti keinginan penguasa kolonial bukanlah sebuah kehidupan dan Hyon menyatakan bahwa ia lebih baik berhenti menulis sama sekali daripada menjadi corong propaganda Jepang. “Nenek Harimau,” yang ditulisnya pada tahun 1949, jelas tampak sebagai usaha yang dilakukan oleh Yi untuk mengikuti apa yang diperintahkan kepada­nya di Korea Utara untuk menyuarakan propaganda, dan merupakan gambaran bagaimana pemerintah Korea Utara menekankan pada pendidikan, kemajuan ilmu pengetahuan dan pengabaian takhayul. “Debu” (1950) memberikan gambar­an yang jauh lebih kompleks. Karikatur orang-orang Amerika dan pendukung­nya di Korea Selatan bukanlah sesuatu yang mengherankan, tapi tokoh protagonis Hyon adalah tokoh yang sebisa mungkin berusaha tetap netral dalam pertentangan ideologi bangsa ini. Ia khawatir (sekali lagi, sangat yakin) bahwa salah satu dari dua Korea itu meninggalkan yang lainnya, yang kelak membuat rekonsiliasi dan penyatuan tidak mungkin dilakukan. Akhirnya, ia mendapatkan pencerahan dan menyadari alasan-alasan yang masuk akal yang dimiliki pemerintah komunis, tapi penutup cerita itu menyisakan banyak keraguan di benak pembaca. Terlihat dari tulisannya bahwa Yi tidak pernah benar-benar terbeli dan menjadi sosialis, dan inilah alasannya mengapa ia menghilang dari sejarah. Nasibnya tidak diketahui hingga kini. Saat ini, ketika seolah tidak ada titik temu antara gagasan dan pendapat yang berseberangan, perjuangan seorang penulis untuk mempertahankan seni sebagai sesuatu yang bernilai seni dan sesuatu yang ideal melebihi ideologi sepertinya lebih relevan dari sebelumnya. Panduan Desainer Berkebun Australia ‘Kebun Korea: Tradisi, Simbolisme dan Keuletan’ Oleh Jill Matthews, 208 halaman, $44.50, Seoul: Hollym [2018] Dalam buku terbarunya, desainer kebun Jill Matthews mengajak pembaca lebih jauh ke alam yang sering kali tidak mendapat perhatian semestinya. Matthews mengawali bukunya dengan sebuah tulisan tentang sejarah panjang dan keras mengenai kebun di Korea (kebun-kebun itu menjadi target untuk dihancurkan oleh Jepang) dan kemudian menuliskan aspek kebun Korea yang berbeda dari tradisi berkebun lainnya. Ulasan singkat mengenai berbagai tradisi spiritual Korea, seperti pungsu (juga dikenal sebagai feng shui dalam bahasa Cina), syamanisme, Budha dan Konfusianisme kurang menyeluruh, tapi setidaknya bisa menjadi dasar pemahaman mengenai kebun-kebun di Korea. Bab berikutnya mengenai simbolisme sangat mencerahkan; mengetahui makna mendalam di balik jumlah dan pengaturan batu, tipe pohon dan tanaman, atau bentuk kolam dan pulau-pulau kecilnya menambah keindahan kebun-kebun ini. Bagian kedua dan terbanyak dalam buku ini menampilkan 20 kebun-kebun cantik di Korea, termasuk kebun istana, kebun di permakaman, kebun kuil Budha dan kebun para filsuf Konfusius. Matthews juga menuliskan sejarah dan deskripsi singkat dari setiap kebun, dengan foto berwarna yang indah di hampir setiap halaman. Bagian akhir berisi tabel dan diagram yang sangat membantu, termasuk glosarium istilah berkebun dalam bahasa Korea dan daftar buku-buku untuk dibaca lebih lanjut, serta daftar kebun-kebun yang khas dan unik serta sebuah peta yang menunjukkan lokasi kebun-kebun itu. Dengan pengetahuan yang lebih mendalam dan penghargaan terhadap sejarah berkebun di Korea, pembaca akan mendapatkan manfaat dari buku ini dan pasti ingin mengunjungi kebun-kebun itu sebanyak mungkin. Evolusi Besar Mavericks terhadap Musik Tradisional Korea ‘Differance’ Oleh Jambinai, CD Audio $13, MP3 $8.91, London: Bella Union [2017] © The Tell-Tale Heart Jambinai, yang dikenal berkat karya crossover-nya dengan musik tradisional Korea, menjadi sensasi di luar negeri dan dianggap sebagai band post-metal atau post-rock. Albun lengkap band ini, yaitu “Differance” (atau “Chayeon” dalam bahasa Korea), yang pertama kali dirilis pada tahun 2012, mendapatkan predikat sebagai album crossover terbaik dalam Penghargaan Musik Korea ke-10 pada tahun 2013. Judul ini berarti “perbedaan dan pendobrakan makna,” meminjam istilah dari filsuf Perancis kelahiran Algeria Jacques Derrida, yang menyuarakan pemikiran kritisnya mengenai hubungan antara teks dan makna. Ini adalah album yang dibuat ulang. Album pertama direkam dalam piringan hitam dirilis oleh label luar negeri, diikuti album kedua pada tahun 2016, “A Hermitage,” dari perusahaan rekaman yang sama yang berbasis di Inggris. “Time of Extinction,” lagu pertama dalam album itu, ditampilkan dalam upacara penutupan Olimpiade Musim Dingin PyeongChang tahun 2018. Sementara suara geomungo berdawai enam yang dimainkan dengan plektrum berselang-seling antara ada dan tiada, suara gitar elektrik yang intensif dan berat tampil mendominasi. Lagu berikutnya, “Grace Kelly,” yang sangat berbeda dari gambaran aktris cantik Amerika yang menjadi Putri Monako. Liriknya, yang diawali dengan “Mimpiku adalah kematian dalam tipuan waktu, bersama dengan keputusasaan,” membawa kesan kuat dan dingin, seolah industri ini mengingatkan kita akan Grace Kelly. Pada tahun 1975, ketika maestro pemain dan komposer gayageum Hwang Byung-ki (1936–2018), yang meninggal awal tahun ini, meluncurkan album “Labyrinth” (“Migung”), banyak orang terpukau. Tentu bukan sesuatu yang berlebihan menganggap album Jambinai “Differance” mewakili evolusi besar dalam musik tradisional Korea sejak album ini diluncurkan. Meski band ini sangat sibuk tampil di luar negeri, sangat menyenangkan membayangkan apa yang akan disuguhkan dalam albumnya yang akan datang.

SUBSCRIPTION

You can check the amount by country and apply for a subscription.

Subscription Request

전체메뉴

전체메뉴 닫기