메인메뉴 바로가기본문으로 바로가기

Tales of Two Koreas > 상세화면

2018 SPRING

KISAH DUA KOREAMembangun Harapan di Negeri Nenek Moyang

Terlihat banyak papan nama toko dalam bahasa Rusia di setiap gang. Bahasa Rusia pun terdengar lebih sering didengar daripada bahasa Korea. Inilah pemandangan Wolgok-dong, Gwangsansan-gu, Kota Metropolitan Gwangju di mana ada ‘Desa Goryeoin’ yang mayoritas penghuninya adalah bangsa Korea yang berpindah ke tanah air dari Asia Tengah.

Anak-anak belajar Hangeul, aksara Korea, di sebuah tempat penitipan anak di Desa Goryeo-in di Gwangju. Etnis Korea dari Asia Tengah sangat fokus pada pendidikan anak-anak mereka, terutama kemampuan berbahasa Korea. Desa ini juga menyelenggarakan berbagai tingkat kursus bahasa Korea untuk remaja dan orang dewasa.

Bangsa Korea yang tinggal di Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (bekas Uni Soviet) disebut sebagai ‘Goryeoin’. Mereka merupakan keturunan bangsa Korea yang mengalami kesulitan diaspora setidaknya tiga kali selama tiga sampai lima generasi. Generasi pertama yang berpindah ke Provinsi Maritim Rusia dari semenanjung Korea selama penjajahan Jepang pada awal abad ke-20 terpaksa diusir ke Asia Tengah karena dicurigai sebagai mata-mata Jepang pada rezim Stalin. Keturunan me­­reka yang masih hidup walaupun diusir ke tanah tandus yang asing mengalami diskriminasi di Asia Tengah setelah runtuhnya Uni Soviet sehingga muncul orang-orang yang berimigrasi ke Korea untuk mencari asal muasal dirinya.

Saat ini, jumlah Goryeoin yang tinggal di Korea tercatat 40.000 jiwa dan sekitar 4.000 di antaranya tinggal di Wolgok-dong, Gwangju. Sebagian besar mereka mendiami tempat sempit seperti studio dengan mempertahankan mata pencaharian sebagai pekerja pabrik atau buruh harian. Demikian pula keadaan penyair Kim Vladimir yang pernah mengajar sastra Rusia di fakultas kedokteran dan fakultas sastra di Universitas Nasional Tashkent di Uzbekistan. Kim bersama 10 anggota keluarga termasuk istri, anak perempuan, anak laki-laki, cucu dan sebagainya memutuskan pergi ke Korea pada tahun 2011 tanpa pikir panjang. Oleh karena dia mendengar adanya Desa Goryeoin di Gwangju.

Kim membuat keputusan setelah mendengar tentang pemberian tempat tinggal baru etnis Korea dari Asia Tengah, seperti juga banyak rekan-rekan seperjalanannya. Kebanyakan dari mereka mendapatkan pekerjaan di kompleks industri di kota atau di dekat agroindustri, jadi mereka secara alami mencari apartemen studio murah di dekat tempat kerja mereka. Oleh karena itu wilayah Wolgok-dong telah berubah menjadi daerah kantong mereka.

Mengembangkan Desa

Café Семья [Keluarga] menjual roti segar dari Asia Tengah yang dipanggang dengan cara tradisional. Goryeo-in bisa menikmati makanan kampung halaman mereka, sementara pengunjung dari daerah lain bisa menikmati makanan eksotis.

Meskipun menghadapi kesulitan ekonomi dan lingkungan yang tidak biasa, para Goryeoin di sini memperbaiki tempat tinggal baru mereka dengan semangat komunitas yang kuat. Mereka secara aktif memperkembangkan tempat kehidupan melalui membina koperasi, tempat penitipan anak, pusat layanan penduduk, pusat anak-anak lokal, pusat konseling, tempat penampungan, stasiun penyiaran lokal dan sebagainya.

Makin banyak penduduknya, makin banyak wiraswasta yang berhasil. Kafe Simya (семья) yang bermakna keluarga dalam bahasa Rusia menjual roti ragi dan sate bakar, makanan pokok Asia Tengah. Sejak Jeon Valeri membuka kafe pertama pada tahun 2015 kemudian pasangan anak perempuan maupun pasangan anak laki-laki ikut membuka gerai kafe ke-2 sampai ke-4, kafe ini dinilai sebagai restoran terbaik pertama di desa Goryeoin. Kafe bergaya Eropa, Coreana yang dibuka oleh Heo Anastasya pada bulan Oktober 2017 juga semakin terkenal.

Seiring dengan bertambahnya jumlah wiraswasta yang sukses, muncul ‘Jalan Khusus Desa Goryeoin’ yang terdiri atas kurang lebih 30 toko seperti restoran, biro perjalanan wisata, penukaran uang, toko cenderamata dan lain-lain.

Sekolah Saenal [Hari Baru], sekolah multikultural alternatif pertama di negara ini, menawarkan berbagai program pelatihan kerja, termasuk kelas pertukangan, untuk remaja etnik Korea dari Asia Tengah.

Etnis Korea dari Asia Tengah mulai menetap di Korea sekitar tahun 2001 ketika Shin Joya tiba. Sebagai generasi ketiga Goryeo-in, Shin meminta bantuan Lee Chun-young, pendeta dari Gereja Saenal (“Hari Baru”) di Gwangju saat dia tidak menerima gaji dari pabrik tempat dia bekerja. Pada tahun 2005, Shin mendirikan Desa Goryeoin dengan bantuan Pendeta Lee dan membuka sebuah pusat komunitas di lantai pertama sebuah mal tua. Setelah tahun 2007, ketika pemerintah mulai mengeluarkan visa kerja bagi warga Korea dari China dan Asia Tengah, jumlah Goryeoin tiba di Gwangju meningkat tajam.

Sangat sederhana alasan Goryeoin datang beramai-ramai ke sini. Karena kabar tersebar dari mulut ke mulut ke seluruh Asia Tengah bahwa mereka bisa dibantu mengatasi berbagai masalah, termasuk perlindungan, penginapan, makanan, penerjemahan dan sebagainya. Lingkungan ini bisa terwujud berkat Shin Joya yang rela memecahkan masalah mereka. Oleh sebab itu Shin mendapat julukan ‘Ibu Goryeoin’. Para Goryeoin yang tinggal di sini sering berkata “Kami tidak bisa hidup tanpa ibu Joya.” Lebih dari 2.000 nomor telepon Goryeoin disimpan di telepon genggam Shin. Suaminya, seorang pembelot dari Korea Utara yang menikahinya pada tahun 2008, juga merupakan pendukung kuat masyarakat.

Pendidikan bagi Generasi Masa Depan

“Di Uzbekistan, Goryeoin dianggap rendah walaupun dia pintar luar biasa. Goryeoin tidak bisa mendapat kerja walaupun lulus 2 universitas,” kata Shin.

Akhirnya dia memutuskan berpindah ke tanah air nenek moyang karena terlalu sulit mencari nafkah di kampung halamannya. Jeong Svetelana, generasi ketiga Goryeoin juga datang ke sini dengan alasan yang sama.

“Di sini saya berkerja di pabrik perakitan mesin cuci. Saya juga mencuci piring di restoran pada hari Minggu. Dengan demikian saya mengumpul uang jaminan sewa kamar sejumlah 500.000 won.”Setelah pembubaran Uni Soviet, negara-negara merdeka di Asia Tengah secara resmi mengutamakan bahasa dan kewarganegaraan mereka sendiri sehingga Goryeoin yang hanya bisa berbahasa Rusia semakin tersingkir. Akan tetapi bahasa tetap menjadi hambatan terbesar bagi Goryeoin yang meninggalkan kampung halamannya karena diskriminasi bahasa. Mereka yang kurang lancar berbahasa Korea menghadapi halangan besar dalam kehidupan sehari-hari seperti membuat surat untuk mengurus visa, menyekolahkan anak, berbelanja di pasar dan sebagainya.

Oleh karena itu, pendidikan merupakan proyek terpenting di Desa Goryeoin. Bangsa Korea di Tiongkok atau pekerja dari Asia Tenggara biasanya datang sendiri ke Korea untuk mencari pekerjaan sedangkan Goryeoin umumnya datang dengan keluarga tiga generasi. Oleh sebab itu Goryeoin lebih memperhatikan pendidikan anaknya. Sekolah Senal, sekolah alternatif multikultur pertama di Korea, berperan utama dalam pendidikan Goryeoin. Sekolah ini dibuka pada tahun 2007 kemudian dii­zinkan menjadi sekolah untuk pendidikan kesetaraan pada tahun 2011. Sekolah ini sebagai lembaga pendidikan gratis sekaligus sekolah alternatif untuk tingkat SD, SMP dan SMA mementingkan pendidikan perikemanusiaan yang terkenal di antara Goryeoin di Asia Tengah. Sekolah ini dipimpin oleh pendeta Lee Choen-young, salah satu tokoh terkemuka yang membangun desa Goryeoin. Shin Joya adalah ‘Ibu’ dan pendeta Lee adalah ‘Ayah’ di desa Goryeoin.

Kursus bahasa Korea di desa Goryeoin diadakan di ber­bagai lembaga sesuai dengan tingkat dan waktu. Seiring de­­ngan bertambahnya jumlah peserta, ada tiga kelas untuk dewasa, yaitu tingkat rendah, tingkat menengah dan tingkat tinggi. Selain itu ada kelas bahasa Korea untuk remaja yang baru berpindah. Kuliah melalui penyiaran Goryeo FM digemari oleh orang-orang yang sibuk bekerja di akhir pekan serta bekerja lembur malam karena bisa didengarkan sambil bekerja.

Selain itu, pusat anak-anak yang dibuka pada tahun 2013 mengajarkan bahasa Korea, bahasa Inggris, Matematika, tulisan bahasa Rusia, mata kuliah seni, sepak bola, dan gitar untuk siswa SD, SMP dan SMA. Tempat penitipan anak-anak yang dibuka pada tahun 2012 mengasuh anak-anak yang orang tuanya bekerja dengan mengajar bahasa Korea, kegiatan sastra dan olahraga sekaligus memberi makanan dan jajanan. Sejak bulan Juli tahun 2017, sekolah bahasa Rusia dikelola setiap minggu karena anak-anak Goryeoin wajib belajar bahasa Korea dan Rusia. Semakin banyak anak-anak lupa bahasa Rusia yang telah dipelajari di tempat lahir karena mereka sudah lama tinggal di Korea.

Pendidikan merupakan proyek terpenting di Desa Goryeoin. Goryeoin umumnya datang dengan keluarga tiga generasi. Oleh sebab itu Goryeoin lebihmemperhatikan pendidikan anaknya.

Desa Goryeo-in merayakan hari Minggu ketiga di bulan Oktober sebagai “Hari Goryeo-in.” Anak-anak desa berpose setelah melakukan tarian kipas tradisional Korea pada “Hari Goryeo-in” kelima di tahun 2017.

Jaringan Komunitas dan Media

Pusat pelayanan masyarakat Goryeoin adalah jantung desa ini. Tempat ini merupakan perlindungan sementara yang baik untuk Goryeoin yang mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan tanpa tempat kediaman tetap. Juga sebagai tempat konsultasi untuk mengatasi bermacam-macam kesulitan seperti masalah pekerjaan, kecelakaan kerja, keterlambatan pembayaran gaji, visa dan sebagainya.

Fasilitas penting lainnya adalah museum sejarah ma­­syarakat yang dibuka pada bulan Juni 2017, tepat di sebelah Pusat Layanan Masyarakat. Di dalam museum kecil tersebut, pengunjung dapat belajar tentang perang melawan imperialisme Jepang dan dukungan untuk gerakan kemerdekaan Korea oleh orang Korea yang telah menetap di Provinsi Maritim Rusia mulai tahun 1860-an. Museum ini juga mengenang adanya diskriminasi dan perlakuan tidak adil yang dialami keturunan mereka. Pada 2017, desa tersebut menyelenggarakan sebuah acara untuk memperingati ulang tahun ke-80 deportasi etnis Korea ke Asia Tengah.

Media merupakan salah satu unsur yang mendukung ma­­syarakat Desa Goryeoin Gwangju. Sistem gotong royong terbina lewat berita Penyiaran Goryeo FM dan Penyiaran Nanum bila terdapat seseorang mengalami kesulitan, termasuk sakit parah atau kekurangan biaya operasi. Penyiaran Goryeo FM, stasiun penyiaran radio lokal yang pertama dalam sejarah migran membuat lebih dari 80 persen program dalam bahasa Rusia untuk Goryeoin yang lebih nyaman berbahasa Rusia daripada berbahasa Korea. Penyiaran Goryeo FM menyiarkan program selama 24 jam dan “sangat populer hingga teman dan kerabat di Asia Tengah mendengarkannya lewat aplikasi.” Sementara, berita Penyiaran Nanum menyebarkan semua berita desa Goryeoin kepada sekitar 110.000 pendengar melalui facebook atau email.

Keterunan Generasi Keempat

Semangat komunitas Goryeo-in di wilayah Gwangju sa­­ngat kuat. Mereka saling membantu menyiapkan pernikahan dan pemakaman dan mengumpulkan sukarelawan untuk membersihkan jalan dan membantu mencegah kejahatan. Mereka juga mendirikan “Hari Ku8njungan Desa Goryeoin” bulanan untuk menarik perhatian masyarakat umum. Pada November 2017, desa tersebut menyambut kunjungan Menteri Pendidikan Prasekolah Uzbekistan Agrippina Shin.

Ada beberapa program dukungan yang berjalan untuk warga desa. Meski begitu, hidup di sini tidak selalu mudah. Warga merasa sangat tidak berdaya saat jatuh sakit. Bahkan jika mereka memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan asuransi kesehatan selama 90 hari. Akan tetapi asuransi kesehatan sekitar 100.000 won perbulan sangat membebani.

Masalah lain adalah masalah visa. Undang-undang sekarang tentang bangsa Korea di luar negeri menggolongkan ge­nerasi pertama sampai ketiga Goryeoin sebagai ‘bangsa Korea di luar negeri’ dan memperbolehkan mereka tinggal jangka panjang. Namun generasi keempat diklarifikasi sebagai ‘orang asing’. Oleh karena itu, dari generasi keempat Goryeoin, walaupun mereka dilahirkan di Korea, harus meninggalkan Korea ketika mereka berusia 19 tahun karena visa kunjung­an dan tinggal bersama telah habis atau harus masuk kembali dengan memperpanjang visa kunjungan yang berlaku selama 3 bulan terus-menerus. Saat ini ada 400 keturunan generasi keempat di desa yang tidak nyaman dengan kendala visa ini.

Tahun 2018 menandai ulang tahun ke-30 kedatangan pertama warga etnis Korea dari Asia Tengah.

“Kami akan membuktikan kami adalah keturunan bangsa Korea sesuai dengan keinginan leluhur yang mengorbankan diri dalam perjuangan kemerdekaan untuk memulihkan kedaulatan negara.” Sumpah Shin Joya ini sepertinya menunjukkan daya hidup Goryeoin yang kuat.

 

Putaran Hidup

Penyair Kim Veladimir

Kim Vladimir, seorang penyair dan repatriat generasi ketiga dari Uzbekistan, menonjol di antara Goryeo-in (keturunan orang Korea yang pindah ke Timur Jauh Rusia pada akhir 1800-an atau awal 1900-an) di Gwangju. Bukan karena dia dulu merupakan seorang profesor universitas di Uzbekistan yang bekerja di sini sebagai buruh harian, tapi karena dia melayani para repatriat sebagai penasihat spiritual di desa tersebut. Dia merupakan pembawa acara “Sastra Bahagia” yang berbahasa Rusia, sebuah program sastra di Radio Goryeo FM.

Dia mengatakan bahwa kerja di pabrik sulit sekali pada awal. Dia menyesal berpindah ke Korea sehingga ingin pulang ke kampuang halamannya lagi selama dua atau tiga tahun. Meskipun demikian, dia secara bangga menuturkan bahwa berpindahnya ke Korea sesuai dengan wasiat ayahnya merupakan pilihan baik.

“Sebelum meninggal dunia pada tahun 1990, ayah saya menceritakan tentang Korea dan menyuruh saya agar menginjak tanah airnya.”

Dia senang sekali menulis puisi. Dia menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul ‘Salju Pertama di Gwangju’ pada Februari 2017. Dia menulis puisi karena tertarik pada pemandangan Gwangju yang diselimuti salju. Judul puisi itu menjadi judul buku kumpulan puisinya juga. Buku kumpulan puisi itu terdiri atas 35 puisi yang tertulis dalam bahasa Rusia kemudia diterjemahkan ke dalam bahasa Korea. Dia berani meluncurkan buku itu berkat Jeong Mak-Lae, profesor sastra Rusia di Universitas Kyemyung. Profesor Jeong menerjemahkan puisi-puisinya ke dalam bahasa Korea. Dia bertemu dengan penyair Kim ketika menulis tesis tentang Goryeoin.

Puisinya berisi ungkapan ikhlas tentang cinta tanah air dan alam, kesedihan kakek dan orang tua yang terpaksa dipindahkan oleh Stalin ke Asia Tengah. Di antara banyak puisinya, bagian berikut ini paling menyentuh hati;

“Wahai, Republik Korea! Tanah air kami, mengertilah / bahwa kami tinggal jauh, bukanlah salah kami” (“80 Tahun Siksaan Menunggu”)

Pada musim panas tahun 2017, dia sebagai wakil desa Goryeoin mengikuti sebuah program ‘Kereta Kenangan-Odyssey Jalur Sutra Siberia Asia Timur’ yang dilangsungkan oleh panitia Proyek Peringatan Ulang Tahun Pemindahan Paksa Goryeoin Ke-80 dan Yayasan Global Korea. Para peserta naik kereta api Trans-Siberia di Vladivostok, Rusia sampai Ushtobe dan Almaty di Kazahstan selama 13 malam 14 hari untuk mengikuti jejak kesengsaraan leluhur Goryeoin.

Sebagai seorang penyair dia tidak bisa tidak peka terhadap bahasa. “Seharusnya bahasa ibu teringat secara alami tetapi sayang sekali saya tidak bisa menulis puisi dalam bahasa Korea. Saya mesti lebih rajin belajar bahasa Korea walaupun berkembang sedikit demi sedikit sejak tinggal di Korea.”

Penyair Kim sebagai profesor mengajar sastra Rusia di universitas selama 30 tahun kemudian pensiun pada usia 55 tahun sesuai dengan peraturan. Setelah pensiun, dia memutuskan berpindah ke Korea pada Maret 2011. Istri dan anak-anaknya segera datang ke Korea. Di desa Goryeo, keluarganya menjadi keluarga besar dengan lebih dari 10 anggota termasuk cucu. Namun dia masih berharap agar bisa secara gagah mengatakan “Di sinilah tanah airku”. Hati penyair ini dirasakan di dalam puisi.

“Wahai teman-temanku, di tanah air yang bersejarah/ (…) Aku tidak suka kata orang asing, kata yang menghina/ Karena aku Goryeoin, orang Korea/ Demikian juga menurut rohani, nurani dan genealogi” (Chuseok)

Kim Hak-soonJurnalis, Profesor Tamu di Jurusan Media dan Komunikasi Universitas Korea
Ahn Hong-beomFotografer

전체메뉴

전체메뉴 닫기